judul gambar

Desa Adat Sade, Sebelum dan Sesudah Api

Desa Adat Sade, sebelum dan sesudah api
Desa Adat Sade pascaterbakar. ANTARA FOTO/Ahmad Khaerul

Mataram, LenteraEsai.id – Minggu, 9 Agustus 2026, Desa Adat Sade Desa yang berada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, pada jalur menuju kawasan wisata Kuta Mandalika, masih terlihat seperti biasanya.

Para juru parkir mengatur kendaraan yang ditumpangi para wisatawan yang kala itu nampak ramai.

Bacaan Lainnya

Rumah-rumah adat berdiri berderet di tengah perkampungan masyarakat Sasak. Wisatawan keluar-masuk menyusuri jalan sempit di antara rumah tradisional. Di sudut-sudut kampung, kehidupan warga berlangsung sebagaimana hari-hari biasa.

Sejumlah pemandu wisata mengenakan sapuk, ikat kepala tradisional khas Sasak, dengan motif lurik. Mereka dengan ramah menjelaskan berbagai hal kepada wisatawan, termasuk kepada sejumlah turis asing yang memadati kampung adat tersebut.

Sade diperkirakan telah berusia sekitar 600 tahun. Perkampungan ini disebut-sebut telah ada sejak sekitar abad ke-14 dan hingga kini masih mempertahankan bentuk rumah, tata ruang, serta sejumlah tradisi masyarakat Sasak.

Di salah satu rumah adat, seorang perempuan tampak tekun menenun kain, tradisi yang oleh masyarakat Sasak disebut nyesek.

Di bagian belakang rumah, kain-kain tenun dengan beragam warna dan motif dipajang. Sebagian digantung berjajar, memperlihatkan keindahan pola yang simetris dan artistik.

Bagi perempuan Sasak, nyesek bukan sekadar aktivitas menghasilkan kain. Kemampuan menenun secara tradisional juga merupakan bagian dari pengetahuan adat dan menjadi salah satu penanda kedewasaan seorang perempuan sebelum menikah.

Sambil menjawab pertanyaan wisatawan, perempuan yang mengenakan baju merah muda dan kebaya hitam bermotif bunga itu sesekali menawarkan kain hasil tenunannya.

Harga menjadi lebih bersahabat ketika pembeli dan penjual mulai berbicara menggunakan bahasa Sasak.

Hari itu, datang ke Sade bukan untuk menyaksikan sebuah desa yang sedang berduka.

Sade masih menjadi salah satu wajah pariwisata dan kebudayaan Lombok. Puluhan tahun, kampung ini menjadi tempat wisatawan mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Sasak, rumah tradisional, kain tenun, bahasa, tradisi, dan kehidupan adat yang masih dipertahankan.

Tak ada yang menyangka bahwa 13 hari kemudian, pemandangan itu berubah menjadi kabar duka.

Pada Sabtu (22 Agustus) malam, api melahap Desa Adat Sade.

Api bergerak cepat di antara rumah-rumah tradisional yang sebagian besar menggunakan bahan mudah terbakar. Atap alang-alang membuat kobaran api dengan cepat menjalar dari satu bangunan ke bangunan lainnya.

Malam yang biasanya tenang berubah menjadi kepanikan. Salah seorang warga, Amaq Imi, mengatakan kebakaran terjadi secara tiba-tiba ketika sebagian warga sedang tertidur. Banyak barang berharga tidak sempat diselamatkan.

Kain tenun, uang, telepon seluler dan berbagai benda milik warga ikut dilalap api.

Dalam sekejap, sesuatu yang selama  ratusan tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat terancam hilang.


Ketika warisan budaya terbakar

Desa Sade merupakan salah satu kawasan permukiman masyarakat Sasak yang masih mempertahankan bentuk rumah dan tata kehidupan tradisional.

Kampung ini dihuni sekitar 700 orang yang masih berada dalam satu garis keturunan, dengan sekitar 200 rumah adat.

Rumah-rumah tersebut tidak dibangun sekadar sebagai tempat tinggal. Arsitekturnya menyimpan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Atap alang-alang, dinding anyaman bambu dan lantai tanah liat menjadi bagian dari karakter rumah tradisional Sade. Secara tradisional, lantai tanah liat tersebut dibuat dengan campuran tanah, kotoran kerbau, dan abu jerami.

Di sinilah persoalan Sade menjadi lebih besar daripada sekadar kehilangan bangunan.

Ketika sebuah rumah adat terbakar, yang hilang bukan hanya kayu, bambu atau alang-alang. Di dalamnya terdapat benda-benda budaya, pengetahuan, cerita keluarga, tradisi, dan memori kolektif masyarakat.

Komunitas Lombok Heritage and Science Society (LHSS) menilai kebakaran Kampung Adat Sade menjadi alarm keras bagi sistem perlindungan kawasan warisan budaya di Nusa Tenggara Barat.

“Kebakaran tersebut menimbulkan efek kehilangan yang tak ternilai dengan uang. Kampung Adat Sade adalah ikon budaya hidup utama Pulau Lombok,” kata Ali.

Sade bukan museum yang kehidupan di dalamnya dihentikan untuk mempertahankan masa lalu. Sade adalah kampung tempat masyarakat masih tinggal, bekerja, menenun, berdagang, menjalankan tradisi dan mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, ketika api membakar rumah-rumah di Sade, yang terbakar bukan hanya bangunan. Sebagian dari memori kebudayaan masyarakat ikut berada dalam ancaman.

Letak Sade membuat kampung adat ini menjadi salah satu tujuan wisata yang relatif mudah dijangkau.

Jaraknya sekitar 30 kilometer dari Mataram. Dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, perjalanan menuju Sade dapat ditempuh dalam waktu relatif singkat. Sementara dari kawasan The Mandalika, kampung adat ini hanya berjarak beberapa menit perjalanan.

Karena itu, Sade kerap menjadi bagian dari perjalanan wisatawan setelah menikmati Pantai Kuta Mandalika, Bukit Merese, Tanjung Aan, Selong Belanak, Mawun atau destinasi lain di Lombok Selatan.

Pada Agustus, denyut pariwisata Lombok biasanya semakin terasa. Musim liburan musim panas di sejumlah negara Eropa dan Amerika menjadi salah satu momentum meningkatnya perjalanan wisata internasional, ditambah kondisi cuaca kemarau yang relatif mendukung aktivitas wisata.

Di tengah geliat pariwisata itu, Sade menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki destinasi pantai.

Ia menawarkan pengalaman hidup

Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat bangunan tua, tetapi juga menyaksikan bagaimana masyarakat Sasak mempertahankan tradisinya.

Karena itu, kehilangan rumah adat di Sade berpotensi menjadi kehilangan bagi ekosistem pariwisata sekaligus kebudayaan Lombok.

Pagi setelah kebakaran, pemerintah daerah bergerak melakukan penanganan.

Malam sebelumnya, Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal telah mendatangi lokasi. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah kemudian melakukan rapat koordinasi untuk menangani dampak kebakaran.

Posko tanggap darurat ditetapkan di KDMP Desa Rembitan dengan Kepala BPBD Lombok Tengah, Ridwan Gabus sebagai kepala posko.

Dapur umum juga disiapkan untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak. Pemerintah menyatakan prioritas awal adalah memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.

Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri menyebut korban terdampak mencapai sekitar 320 jiwa atau 120 kepala keluarga.

Selain rumah warga, sejumlah fasilitas seperti masjid, museum, lapak UMKM dan fasilitas umum lainnya juga ikut terbakar.

Angka-angka itu penting untuk menggambarkan skala bencana. Namun, angka tidak sepenuhnya mampu menjelaskan apa yang hilang.

Di balik 320 jiwa terdapat keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Di balik 120 kepala keluarga terdapat kain tenun, dokumen, peralatan kerja, benda pusaka, foto keluarga dan kenangan yang mungkin tidak dapat diganti.

Jangan sampai Sade hanya dibangun kembali

Tahap tanggap darurat pada akhirnya akan selesai. Warga akan mendapatkan tempat tinggal sementara. Bantuan makanan akan datang. Kebutuhan dasar akan dipenuhi.

Tetapi tantangan terbesar justru muncul setelah itu. Bagaimana membangun kembali Sade tanpa menghilangkan identitasnya?

Pertanyaan ini penting karena rekonstruksi tidak boleh berhenti pada membangun kembali rumah-rumah yang terbakar.

Rumah adat Sade bukan sekadar bentuk fisik. Ia merupakan bagian dari sistem budaya.

Karena itu, proses pemulihan jangka panjang perlu melibatkan masyarakat adat, para tetua, ahli arsitektur tradisional, pemerintah daerah, akademisi, pelaku pariwisata dan komunitas pelestari budaya.

Rumah yang dibangun kembali harus tetap menjadi bagian dari arsitektur Sasak, bukan sekadar bangunan baru yang dibuat menyerupai rumah lama.

Dinas Kebudayaan NTB juga mulai melakukan pendataan terhadap artefak dan unsur budaya yang masih tersisa.

Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan mengatakan pihaknya melakukan identifikasi dan penyelamatan berbagai artefak budaya yang masih tersisa, sekaligus mendokumentasikan pengetahuan, cerita dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat Sade.

“Bagian terpenting adalah menyelamatkan artefak-artefak kebudayaan, termasuk cerita-cerita warga setempat,” kata Muhammad Ihwan setelah meninjau kondisi  Kampung Adat Sade.

Upaya itu harus menjadi bagian dari pemulihan yang lebih luas.

Sebab benda budaya yang hilang mungkin dapat direplikasi. Tetapi cerita di balik benda tersebut belum tentu dapat dikembalikan.


Sade setelah api

Pada 9 Agustus, Sade masih menjadi tempat wisata yang ramai. Ada pemandu dengan sapuk di kepalanya. Ada perempuan yang tekun nyesek. Ada kain tenun yang bergelantungan di belakang rumah. Ada tawar-menawar menggunakan bahasa Sasak.

Tiga belas hari kemudian, sebagian pemandangan itu berubah. Api meninggalkan ruang kosong, puing-puing dan kehilangan.

Tetapi Sade belum selesai. Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan hanya berapa rumah yang dapat dibangun kembali, melainkan apakah identitas yang melekat di dalam rumah-rumah itu dapat terus hidup.

Sade tidak boleh hanya menjadi cerita tentang sebuah kampung adat yang pernah terbakar.

Ia harus menjadi cerita tentang bagaimana sebuah masyarakat bangkit, merawat warisan leluhur, dan memastikan kebudayaan tidak ikut padam bersama api.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan sekadar berapa banyak rumah yang harus dibangun kembali. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait