Pontianak, LenteraEsai.id – Aroma embun masih tercium di antara perbukitan hijau yang mengelilingi Dusun Sebujit Baru, Desa Hlibuei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Udara pagi yang sejuk menyelimuti kampung kecil di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia itu ketika satu per satu warga mulai meninggalkan rumah mereka.
Beberapa warga terlihat memanggul peralatan pertanian, berjalan menyusuri jalan setapak menuju ladang yang membentang di lereng-lereng bukit. Bagi masyarakat Dayak Bidayuh di wilayah ini, kehidupan masih berjalan mengikuti ritme alam yang telah diwariskan turun-temurun.
Ladang bukan sekadar tempat bercocok tanam. Di sanalah identitas, nilai kehidupan, dan kebudayaan mereka tumbuh serta dipelihara dari generasi ke generasi.
Padi yang ditanam di ladang menjadi sumber kehidupan utama masyarakat. Namun lebih dari itu, hasil panen juga menjadi penanda berakhirnya satu siklus kehidupan sekaligus awal dari perayaan budaya terbesar yang dimiliki masyarakat Dayak Bidayuh, yakni Nyobeng.
Di wilayah perbatasan yang berjarak hanya beberapa kilometer dari Sarawak, Malaysia, tradisi tersebut tidak lahir sebagai pertunjukan wisata yang sengaja diciptakan untuk menarik pengunjung. Nyobeng tumbuh secara alami dari kehidupan agraris masyarakat yang selama ratusan tahun menggantungkan hidup pada hasil ladang.
Ketika musim panen berakhir dan padi telah tersimpan rapi di lumbung, masyarakat memasuki masa syukur yang diwujudkan melalui pelaksanaan gawai adat. Dari momentum inilah tradisi Nyobeng dilaksanakan.
Kepala Dusun Sebujit Baru Novel Andika mengatakan, pelaksanaan Nyobeng selalu berkaitan erat dengan selesainya musim panen.
“Nyobeng dilaksanakan setelah masyarakat selesai panen. Jadi ini merupakan bentuk syukur masyarakat atas hasil panen yang diberikan Tuhan sekaligus penghormatan kepada leluhur yang selama ini menjaga kampung dan kehidupan masyarakat,” katanya.
Bagi masyarakat Dayak Bidayuh, keberhasilan panen bukan hanya hasil kerja keras manusia, tetapi juga bagian dari hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur yang dipercaya turut menjaga keseimbangan kehidupan. Karena itu, rasa syukur tidak dirayakan secara individual, melainkan menjadi perayaan bersama seluruh komunitas.
Di tengah kampung berdiri Rumah Balok, rumah adat yang menjadi pusat berbagai ritual Nyobeng. Bangunan kayu berusia puluhan tahun itu menjadi saksi perjalanan panjang sejarah masyarakat Dayak Bidayuh di Sebujit Baru.
Di dalam rumah adat tersebut, para tetua adat memimpin berbagai prosesi yang sarat makna. Denting gong bertalu-talu mengiringi tarian tradisional. Generasi muda mengenakan pakaian adat lengkap, sementara para orang tua berkumpul menceritakan kembali kisah-kisah leluhur kepada anak cucu mereka.
Di sinilah Nyobeng memainkan perannya sebagai jembatan antargenerasi. Tradisi ini menjadi ruang kolektif untuk memperkuat ikatan sosial, menjaga memori budaya, sekaligus memastikan nilai-nilai leluhur tetap hidup di tengah arus modernisasi yang terus bergerak hingga ke kawasan perbatasan.
Potensi wisata budaya
Keunikan Nyobeng tidak hanya terletak pada ritual adatnya. Tradisi ini juga menjadi simbol kuat hubungan kekeluargaan masyarakat Dayak Bidayuh yang melampaui batas negara.
Setiap kali Nyobeng digelar, ribuan kerabat Dayak Bidayuh dari berbagai wilayah di Sarawak, Malaysia, berdatangan ke Desa Hlibuei. Mereka menempuh perjalanan berjam-jam melintasi perbatasan untuk menghadiri perayaan yang sama.
Pada momentum tersebut, garis batas negara yang memisahkan Indonesia dan Malaysia seolah kehilangan maknanya.
Di setiap rumah warga, meja-meja dipenuhi makanan tradisional, kopi hangat, tuak, serta berbagai hidangan khas yang disiapkan untuk menyambut tamu. Tawa dan percakapan dalam bahasa Bidayuh terdengar hampir di setiap sudut kampung.
Keluarga yang selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak bertemu kembali berkumpul dalam suasana penuh keakraban.
Anak-anak bermain bersama tanpa mempersoalkan kewarganegaraan. Orang-orang tua mengenang hubungan keluarga yang telah terjalin jauh sebelum batas negara modern dibentuk.
Selama beberapa hari, Sebujit Baru berubah menjadi ruang besar persaudaraan lintas batas yang memperlihatkan kuatnya ikatan budaya masyarakat Dayak Bidayuh.
“Di balik kemeriahan budaya tersebut, Nyobeng juga menghadirkan manfaat ekonomi yang semakin dirasakan masyarakat setempat,” kata Novel Andika.
Ribuan pengunjung yang datang setiap tahun menciptakan perputaran ekonomi di desa yang selama ini bergantung pada sektor pertanian.
Warung-warung dadakan bermunculan di sepanjang jalan desa. Warga menjual makanan tradisional, hasil kebun, kerajinan tangan, hingga berbagai cendera mata khas perbatasan.
Pemuda desa membantu mengatur parkir kendaraan, menyediakan jasa transportasi lokal, serta menjadi pemandu bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat sejarah dan budaya masyarakat Dayak Bidayuh.
Beberapa rumah warga bahkan mulai dimanfaatkan sebagai tempat menginap bagi tamu yang datang dari luar daerah maupun luar negeri.
Bagi masyarakat Hlibuei, Nyobeng kini tidak hanya menjadi instrumen pelestarian budaya, tetapi juga membuka sumber pendapatan tambahan yang semakin penting bagi ekonomi keluarga.
Besarnya antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah pengunjung yang terus meningkat setiap tahun. Pada pelaksanaan Nyobeng tahun ini, lebih dari 300 kendaraan roda empat dari luar memadati kawasan Desa Hlibuei, sementara jumlah pengunjung mencapai ribuan orang yang datang dari berbagai daerah di Kalimantan Barat maupun dari Malaysia.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kawasan perbatasan menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata budaya.
Berbeda dengan destinasi yang dibangun secara artifisial, Nyobeng menawarkan pengalaman yang autentik. Pengunjung tidak hanya menyaksikan pertunjukan budaya, tetapi juga merasakan langsung kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan tradisi leluhur sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.
“Keaslian itulah yang kini menjadi daya tarik utama wisata budaya di berbagai belahan dunia,” kata Novel.
Ketika banyak tradisi mulai tergerus modernisasi, masyarakat Dayak Bidayuh di Sebujit Baru justru berhasil mempertahankan warisan budaya mereka tanpa kehilangan makna dan nilai aslinya.
“Saya dan keluarga baru pertama kali datang ke Sebujit untuk menyaksikan gawai Nyobeng. Ini benar-benar di luar ekspektasi saya. Perayaannya spektakuler dan sarat makna budaya,” kata Zikri, warga Sarawak.
Dia menyatakan sangat berminat untuk datang kembali dan akan mengajak sahabatnya pada perayaan tahun depan.
Sementara itu, Hermandari, warga Jakarta yang sengaja datang ke Sebujit menyatakan tertarik untuk datang langsung ke sebujit setelah melihat keseruan Nyobeng di media sosial.
“Saya mengikuti setiap ritual dan pelaksanaannya dan ini benar-benar menarik. Saya kebetulan sangat suka dengan budaya, termasuk ciri khas setiap rumah adat dan Nyobeng ini salah satu budaya yang menarik,” tuturnya.
Budaya unik Dayak Bidayuh
Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Bengkayang memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan tradisi Nyobeng sebagai upaya nyata menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur.
Perwakilan DAD Bengkayang, Rudi MPD, mengatakan pelaksanaan Nyobeng tahun 2026merupakan kebanggaan bersama masyarakat adat Dayak, khususnya Suku Bidayuh, yang hingga kini masih konsisten menjaga tradisi turun-temurun tersebut.
“Kita bersyukur bisa hadir dalam kegiatan ini. Ini adalah sesuatu yang luar biasa, karena Nyobeng bukan hanya milik satu kelompok, tetapi milik kita bersama sebagai warisan budaya,” kata Rudi dalam sambutannya pada pembukaan acara, di Desa Hlibuei.
Ia menuturkan, pada pelaksanaan tahun ini, berbagai pertunjukan adat ditampilkan sejak awal acara, termasuk suguhan minuman khas Dayak Bidayuh serta atraksi budaya yang menjadi daya tarik utama bagi para tamu undangan dan wisatawan.
Salah satu atraksi yang menjadi perhatian adalah panjat bambu “putar balik”, yang disebutnya sebagai ikon khas yang hanya ada di Kabupaten Bengkayang dan tidak ditemukan di daerah lain.
“Ini luar biasa dan menjadi ikon tersendiri. Dibutuhkan kekuatan, konsentrasi, dan ketahanan fisik yang tinggi untuk melakukan atraksi ini,” ujarnya.
Rudi juga menyampaikan apresiasi kepada panitia dan pengurus adat yang telah menyelenggarakan kegiatan Nyobeng 2026 dengan baik, sehingga dapat berjalan lancar dan menarik perhatian banyak pengunjung, termasuk wisatawan dari luar negeri.
Ia menyebutkan, pada tahun ini terdapat tamu dari berbagai daerah dan negara, termasuk wisatawan dari Malaysia seperti Kuala Lumpur dan Sarawak, serta pengunjung dari negara lain seperti India dan Thailand yang turut menyaksikan langsung tradisi tersebut.
“Ini menunjukkan bahwa budaya Nyobeng sudah dikenal luas, bahkan hingga ke mancanegara. Kita patut bersyukur karena budaya ini terus hidup dan berkembang,” katanya.
Selain itu, DAD Bengkayang juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Bengkayang yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan adat tersebut. Kehadiran Bupati, Sekretaris Daerah, dan Ketua DPRD Bengkayang menjadi bentuk komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pelestarian budaya lokal.
“Ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan budaya Dayak, khususnya Nyobeng di Kecamatan Siding,” ujarnya.
Rudi menegaskan pentingnya peran semua pihak, terutama tokoh adat dan generasi muda, untuk terus menjaga keberlanjutan tradisi Nyobeng agar tidak hilang tergerus zaman.
Ia berharap pelestarian budaya ini dapat terus diperkuat sehingga menjadi warisan yang dapat dinikmati dan dipahami oleh generasi mendatang.
Pembenahan infrastruktur
Untuk memaksimalkan potensi pariwisata budaya di perbatasan Bengkayang, pemkab setempat menegaskan komitmennya untuk membenahi infrastruktur pariwisata di kawasan perbatasan sebagai langkah memperkuat pengembangan destinasi wisata budaya Nyobeng di Desa Hlibuei, Kecamatan Siding.
Komitmen tersebut disampaikan Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis.
Menurut Sebastianus, tradisi Nyobeng tidak hanya memiliki nilai budaya yang tinggi, tetapi juga telah berkembang menjadi daya tarik wisata yang mampu mendatangkan ribuan pengunjung setiap tahun.
Karena itu, pengembangan kawasan budaya tersebut harus dibarengi dengan peningkatan infrastruktur pendukung agar mampu memberikan kenyamanan bagi wisatawan tanpa menghilangkan keaslian tradisi yang telah diwariskan leluhur.
“Kita ingin kawasan ini berkembang menjadi destinasi wisata budaya yang lebih baik. Karena itu perlu penataan bersama agar ke depan bisa menarik lebih banyak wisatawan,” kata Sebastianus di Desa Hlibuei, Kecamatan Siding.
Bagi Pemerintah Kabupaten Bengkayang, Nyobeng bukan lagi sekadar agenda budaya tahunan, melainkan aset strategis yang memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan.
Tingginya minat wisatawan tersebut, menurut Sebastianus, menjadi alasan penting bagi pemerintah daerah untuk mulai menata kawasan wisata budaya Nyobeng secara lebih terencana.
Berbagai fasilitas dasar seperti area parkir, sarana sanitasi, ruang publik, akses menuju lokasi kegiatan, hingga pengembangan fasilitas pendukung wisata lainnya menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian agar kawasan budaya tersebut mampu berkembang secara berkelanjutan.
Ia menilai, pengembangan wisata budaya di perbatasan memiliki prospek yang besar karena menawarkan pengalaman autentik yang sulit ditemukan di daerah lain.
Tradisi Nyobeng yang tetap dijalankan secara alami oleh masyarakat Dayak Bidayuh menjadi kekuatan utama yang dapat menarik wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan dan budaya masyarakat perbatasan.
Menurut dia, penguatan sektor pariwisata budaya tidak dapat dipisahkan dari pembangunan infrastruktur yang memadai. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus berupaya menyelesaikan berbagai persoalan yang masih menjadi hambatan dalam pengembangan kawasan wisata budaya di perbatasan.
Selain infrastruktur fisik, Pemkab Bengkayang juga terus memberikan dukungan terhadap pelestarian budaya melalui fasilitasi kegiatan adat dan dukungan anggaran yang diberikan setiap tahun.
Sebastianus menegaskan pembangunan kawasan wisata budaya harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga nilai-nilai adat yang menjadi identitas masyarakat Dayak Bidayuh.
Ia menilai keberhasilan pengembangan wisata budaya tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga dari kemampuan menjaga keberlangsungan tradisi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Bengkayang berharap pengembangan infrastruktur pariwisata di kawasan Nyobeng dapat menjadikan Desa Hlibuei sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan Kalimantan Barat.
Dengan dukungan pemerintah, masyarakat adat, dan berbagai pemangku kepentingan, kawasan perbatasan yang selama ini dikenal sebagai beranda terdepan Indonesia di utara Kalimantan itu diharapkan tidak hanya menjadi pusat pelestarian budaya Dayak Bidayuh, tetapi juga tumbuh sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata berbasis kearifan lokal.
Dukungan Provinsi
Komitmen pengembangan pariwisata perbatasan juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kalbar Sugeng Hariadi, menegaskan bahwa pembenahan destinasi wisata di kawasan perbatasan tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga pada penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan.
Menurut dia, berbagai destinasi wisata budaya dan alam di kawasan perbatasan memiliki daya tarik yang besar. Namun, pengembangannya harus diiringi dengan perbaikan fasilitas dasar yang mampu memberikan kenyamanan bagi pengunjung tanpa mengurangi nilai budaya dan keaslian destinasi.
“Kita terus mendorong agar destinasi-destinasi wisata diperbaiki dan disempurnakan. Yang paling penting adalah bagaimana mewujudkan pariwisata berkelanjutan, menjaga kebersihan lingkungan, kenyamanan pengunjung, serta menyiapkan sanitasi yang memadai di setiap destinasi wisata,” katanya.
Sugeng menjelaskan, Kementerian Pariwisata telah membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mengusulkan peningkatan fasilitas pendukung wisata melalui program yang akan dilaksanakan pada tahun mendatang.
Berbagai kebutuhan dasar seperti peningkatan akses jalan menuju destinasi, pembangunan toilet umum, tempat ibadah, hingga fasilitas pelayanan wisata lainnya dapat diusulkan oleh pemerintah kabupaten dan kota untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat.
Menurut dia, langkah tersebut menjadi peluang penting bagi daerah-daerah perbatasan yang memiliki potensi wisata besar, namun masih menghadapi keterbatasan infrastruktur.
“Kementerian Pariwisata sudah meminta daerah untuk mengusulkan kebutuhan fasilitas yang perlu diperbaiki maupun dilengkapi. Ini menjadi kesempatan bagi daerah untuk mempercepat pengembangan destinasi wisata,” ujarnya.
Khusus untuk kawasan perbatasan Kalimantan Barat, Sugeng mengatakan pemerintah provinsi terus mendorong penguatan destinasi melalui peningkatan fasilitas pendukung sekaligus pengembangan berbagai atraksi dan event wisata yang melibatkan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.
Menurut dia, posisi geografis Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia memberikan peluang besar untuk mengembangkan wisata lintas batas berbasis budaya, sejarah, dan kearifan lokal.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Kalbar bersama pemerintah kabupaten dan kota terus memperkuat promosi melalui kalender event pariwisata yang terintegrasi serta berbagai platform digital guna memperluas jangkauan promosi wisata. (LE)
Source: ANTARA








