Badung, LenteraEsai.id – Ketua DPRD Badung, Gusti Anom Gumanti, bersama dua anggota dewan, Made Sada dan Nyoman Graha Wicaksana, menghadiri peringatan Hari Air Sedunia 2026 yang digelar di Pantai Kelan, Kecamatan Kuta, pada Jumat (27/3/2026). Kegiatan ini tidak hanya diisi dengan apel, tetapi juga aksi bersih-bersih pantai dari sampah kiriman.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta beserta istri, jajaran Forkopimda Badung, Plt Kepala DLHK Badung Made Rai Warastuthi, para kepala OPD, camat, lurah se-Kecamatan Kuta, unsur TNI/Polri, relawan, serta ratusan pelajar.
Di sela kegiatan, Gusti Anom Gumanti menegaskan bahwa aksi bersih-bersih atau korve telah rutin dilakukan sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat agar bersama pemerintah menangani persoalan sampah di Badung. Ia menilai, pengelolaan sampah harus menjadi prioritas bersama dengan sistem yang jelas dan terstruktur.
Menurutnya, pemerintah daerah telah mengambil langkah strategis dalam penanganan sampah. DPRD, lanjutnya, siap memberikan dukungan penuh terutama dari sisi penganggaran. Ia menegaskan bahwa pihaknya siap menyetujui alokasi dana yang dibutuhkan untuk mengatasi persoalan sampah.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penanganan sampah dimulai dari sumber, yakni rumah tangga. Masyarakat diimbau untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya, seperti organik, anorganik, dan B3. Ia juga mendorong pemerintah untuk menyediakan sarana pendukung, seperti tempat sampah terpilah dan komposter bagi masyarakat.
Selain itu, ia mengusulkan pengembangan fasilitas seperti teba modern di tingkat rumah tangga guna mengurangi jumlah sampah hingga tahap residu. Upaya tersebut dinilai sebagai langkah konkret dalam mendukung pengelolaan sampah berbasis sumber.
Terkait fenomena sampah kiriman, ia menyebut hal tersebut sebagai bagian dari siklus alam yang tidak dapat dihindari, namun tetap harus diantisipasi. Ia menjelaskan bahwa sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sampah kiriman dapat dibuang ke TPA Suwung.
Ia juga menyoroti tantangan di lapangan, khususnya di wilayah Kuta, yang masih kesulitan dalam penyediaan tempat penampungan sementara saat volume sampah meningkat. Kondisi ini berdampak pada estetika kawasan pantai.
Selain itu, proses pengangkutan sampah ke TPA dinilai memerlukan waktu cukup lama, bahkan satu kali perjalanan bisa memakan waktu hingga sehari, ditambah kendala kemacetan. Hal ini menjadi perhatian untuk dicarikan solusi ke depan.
Untuk itu, DPRD Badung berencana melibatkan akademisi, tenaga ahli, dan pakar guna merumuskan strategi penanganan sampah yang lebih efektif. Mengingat volume sampah yang terus meningkat, terutama saat musim angin barat, diperlukan solusi komprehensif yang berkelanjutan. (LE)







