Denpasar, LenteraEsai.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali bersama Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Bali, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Provinsi Bali, serta Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Ekonomi Provinsi Bali meluncurkan Modul Ajar Literasi Keuangan tingkat SMA/MA di Provinsi Bali pada 7 Oktober 2025. Langkah ini dilakukan dalam rangka meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di kalangan pelajar.
Sebagai tindak lanjut dari peluncuran tersebut, OJK Bali menggelar kegiatan Kick Off dan Training of Trainers (ToT) implementasi Modul Ajar Literasi Keuangan secara tatap muka dan daring (hybrid) dengan mengundang kepala sekolah serta perwakilan guru ekonomi SMA/MA se-Provinsi Bali pada Selasa (24/2).
Modul ajar ini disusun untuk menstandarkan materi pembelajaran literasi keuangan bagi siswa SMA/MA di seluruh Bali. Tujuannya adalah memastikan para siswa memiliki pemahaman dan keterampilan yang seragam mengenai konsep dasar keuangan, mulai dari manajemen keuangan pribadi hingga pemahaman produk dan layanan jasa keuangan.
Modul ini akan diajarkan kepada siswa kelas X pada semester kedua setiap tahun pelajaran dengan total 16 jam mata pelajaran.
Kepala Direktorat Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis OJK Provinsi Bali, Irhamsah, dalam sambutannya menegaskan pentingnya pemahaman keuangan sebagai essential life skill yang perlu dipelajari sejak dini oleh generasi muda.
“Dengan jumlah pelajar di Bali sekitar 902.437 orang atau 20,23 persen dari total penduduk Pulau Dewata, peningkatan literasi keuangan bagi pelajar tidak dapat dikesampingkan. Pemahaman keuangan menjadi keterampilan hidup yang penting untuk mencegah potensi permasalahan seperti investasi ilegal, pinjaman online ilegal, hingga kejahatan keuangan digital,” ujar Irhamsah.
Acara tersebut juga dihadiri Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Bali Ida Bagus Gde Wesnawa Punia yang menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif OJK dalam membekali guru SMA/MA dengan materi literasi keuangan.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Bali, kami menyampaikan apresiasi kepada OJK Provinsi Bali bersama MGMP Ekonomi Provinsi Bali atas inisiasi dan kolaborasi strategis ini. Langkah nyata ini akan memperkuat kapasitas generasi muda Bali agar memiliki kecakapan literasi dan inklusi keuangan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa literasi keuangan di kalangan pelajar diharapkan tidak berhenti pada tingkat pengetahuan semata, tetapi juga didukung oleh ekosistem yang memungkinkan para siswa mempraktikkan literasi keuangan yang diperoleh di bangku sekolah.
Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, indeks literasi keuangan ditargetkan mencapai 69,35 persen pada tahun 2029, sementara indeks inklusi keuangan ditargetkan mencapai 93 persen.
Sementara itu, berdasarkan Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, sektor keuangan menjadi salah satu dari 45 indikator utama pembangunan nasional. Sektor ini diarahkan menjadi sumber pembiayaan yang dalam, inovatif, efisien, stabil, dan inklusif.
Dalam RPJPN tersebut, inklusi keuangan ditargetkan mencapai 98 persen pada tahun 2045.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan yang dilakukan OJK bersama Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2025, tingkat literasi keuangan nasional tercatat 66,46 persen, lebih rendah dibandingkan tingkat inklusi keuangan yang telah mencapai 80,51 persen.
Pada kelompok usia pelajar 15–17 tahun, tingkat literasi dan inklusi keuangan masing-masing tercatat 51,68 persen dan 74 persen.
Penyusunan modul ajar ini bertujuan menyeragamkan materi pembelajaran terkait OJK dan industri jasa keuangan yang berada di bawah pengawasannya. Dengan demikian, para guru dan siswa di seluruh wilayah Bali memperoleh pemahaman yang setara.
Selain itu, modul ini juga diperkaya dengan informasi terkini mengenai kejahatan keuangan digital, produk lembaga keuangan berbasis teknologi seperti pinjaman daring dan aset digital, serta mekanisme pelindungan konsumen yang disediakan oleh OJK.
Melalui kegiatan Training of Trainers ini, diharapkan kapasitas dan pemahaman para guru sebagai Duta Literasi Keuangan semakin meningkat. Hal ini diharapkan dapat mendukung peningkatan literasi keuangan siswa sejak dini sehingga membentuk karakter generasi muda yang cerdas, mandiri secara finansial, serta mampu mendukung pertumbuhan ekonomi menuju Indonesia Emas. (LE-003)







