Dari Batuan Purba ke Peluang Wisata: Geopark dan Mimpi Indonesia

Panorama kawah di Gunung ljen, Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (4/5/2023). TWA Ijen yang ditetapkan sebagai anggota UNESCO Global Geopark (UGG) itu ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara saat liburan. ANTARA FOTO

Jakarta, (ANT/LE) – Di balik hamparan alam Indonesia yang memukau, tersimpan kekayaan yang belum sepenuhnya terjamah: lanskap geologi yang membentuk wajah bumi sejak jutaan tahun lalu. Gunung-gunung yang berdiri megah, lembah curam yang memeluk sungai, dan formasi batuan purba—semuanya bukan sekadar keindahan alam, tetapi warisan geologi tak ternilai yang kini mulai bangkit menjadi ujung tombak pariwisata masa depan: geopark.

Di bulan April 2025, dua kawasan baru resmi masuk ke dalam jaringan UNESCO Global Geopark (UGGp): Geopark Kebumen di Jawa Tengah dan Geopark Meratus di Kalimantan Selatan. Keduanya menambah daftar taman bumi Indonesia yang kini berjumlah 12 situs, memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan kekayaan geologi paling beragam di dunia.

Bacaan Lainnya

Namun, di balik penetapan prestisius itu, ada semangat besar yang menyala: menjadikan geopark bukan sekadar destinasi wisata, tetapi pusat pembelajaran, pelestarian, dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Lebih dari Sekadar Pemandangan

Geopark adalah kawasan yang memiliki warisan geologi bernilai tinggi dan diintegrasikan dengan pelestarian budaya serta pembangunan pariwisata berkelanjutan. Di sinilah alam, manusia, dan sejarah berjabat tangan.

Coba tengok Geopark Ciletuh di Jawa Barat, misalnya. Air terjun bertingkat, dinding batuan raksasa yang terbentuk jutaan tahun lalu, hingga pesisir Samudera Hindia yang dramatis, membuat Ciletuh bukan hanya indah untuk dilihat, tapi juga menjadi “buku terbuka” tentang proses pembentukan bumi.

Lalu ada Geopark Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dengan kaldera luas dan danau Segara Anak di puncak gunung vulkanik aktif. Atau Geopark Kaldera Toba, yang menjadi saksi letusan supervulkanik terbesar di Asia.

Taman-taman bumi ini kini jadi contoh sukses bagaimana warisan alam bisa dirangkai menjadi cerita yang mendidik, menarik, dan menghidupi.

Potensi Besar yang Menunggu Dijemput

Indonesia, negeri yang dibentuk oleh lempeng-lempeng tektonik dan dikelilingi oleh Cincin Api Pasifik, menyimpan lebih dari yang telah ditetapkan. Dari Geopark Ranah Minang di Sumatera Barat hingga Geopark Banda di Maluku, dari Gunung Tambora hingga Teluk Cenderawasih di Papua, keajaiban geologi tersebar luas dari Sabang sampai Merauke.

Namun banyak dari tempat-tempat ini masih menunggu untuk mendapatkan perhatian dan perlindungan yang layak. Mereka belum menjadi bagian dari jaringan UNESCO, tetapi potensinya tak kalah dahsyat. Di balik sunyinya Gunung Palung di Kalimantan Barat atau Sungai Mahakam yang membelah Kalimantan Timur, ada cerita geologi yang luar biasa.

Harapan dari Tanah yang Diam

Mengembangkan taman bumi bukan hanya tentang mendatangkan wisatawan. Di desa-desa kecil sekitar geopark, ada harapan baru yang tumbuh: pekerjaan untuk pemandu wisata lokal, pelatihan keterampilan untuk ibu rumah tangga yang kini menjual produk kerajinan, atau anak-anak sekolah yang mengenal geologi sejak dini.

Dengan konsep ekowisata, geopark menawarkan perjalanan yang lebih bermakna. Wisatawan tak hanya datang untuk selfie, tapi diajak memahami bagaimana batuan terbentuk, bagaimana budaya lokal hidup selaras dengan alam, dan kenapa menjaga keseimbangan lingkungan itu penting.

Tantangan di Balik Potensi

Tentu, tak semua berjalan mulus. Pengelolaan wisata yang berlebihan bisa merusak kawasan rapuh. Inilah kenapa pengelolaan berkelanjutan harus menjadi prinsip utama dalam pengembangan geopark.

Dari pembatasan jumlah kunjungan, edukasi wisatawan, hingga pengelolaan limbah, semuanya harus diperhatikan. Belum lagi soal dana, infrastruktur, dan dukungan kebijakan yang kadang masih belum merata. Evaluasi berkala diperlukan agar geopark tetap sejalan dengan standar UNESCO.

Masa Depan yang Kita Bangun Bersama

Pemerintah memegang peran penting dalam inisiasi dan pengelolaan taman bumi. Tapi keberhasilan geopark sejatinya lahir dari kolaborasi—antara negara, masyarakat lokal, akademisi, dan sektor swasta.

Bayangkan jika setiap daerah mampu mengangkat nilai-nilai lokal, melestarikan lingkungan, dan menjadikan taman buminya sebagai ruang belajar terbuka. Maka pariwisata Indonesia tidak hanya menjual keindahan, tapi juga mendidik dan menjaga bumi.

Geopark bukan sekadar taman. Ia adalah jendela masa lalu, cermin masa kini, dan harapan masa depan. Dan kini, Indonesia punya kesempatan emas untuk menjadikannya sebagai wajah baru pariwisata dunia: pariwisata yang peduli, mendalam, dan berkelanjutan. (ANT/LE)

 

 

Pos terkait