Buleleng, LenteraEsai.id – Mengenal tentang produk UMKM tak elok rasanya tanpa melirik UMKM yang memproduksi wayang kaca di Desa Nagasepaha, Kabupaten Buleleng. Bagaimana tidak, wayang kaca ini sudah diakui secara nasional dan mendapat predikat WBTB pada tahun 2020 lalu.
Selain dikenal dengan wayang kaca-nya, Desa Nagasepaha juga memiliki UMKM khas, yaitu perajin saab, tenun, perak dan yang lainnya, yang selama ini menjadi potensi desa tersebut dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Berkaitan dengan itu, Program Studi Manajemen Ekonomi Dharma Duta STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja kini tengah melakukan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di desa yang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Buleleng itu.
Perbekel Desa Nagasepaha I Wayan Sumeken saat ditemui di sela kegiatan mahasiswa PKM itu, Jumat (26/5/2023), menyatakan sangat menyambut baik program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang tengah dilancarkan Jurusan Manajemen Ekonomi Dharma Duta STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja yang setiap tahun rutin dilaksanakan.
Wayan Sumeken menuturkan bahwa di Desa Nagasepaha memiliki potensi UMKM dan wisata yang masih tersembunyi dan banyak yang belum terpublikasikan. Melalui kegiatan ini pihaknya berharap mampu meningkatkan mutu dan daya saing produk termasuk potensi desa di kalangan khalayak luas.
“Kita tidak boleh berdiam saja melihat kerajinan dan potensi desa yang kita miliki, karena kurang promosi. Melalui kegiatan dari STAH Negeri Mpu Kuturan ini kita harus bersinergi untuk wujudkan UMKM yang berdaya saing,” ucapnya, menegaskan.
Di sisi lain, Ketua Panitia Pelaksana PKM Anak Agung Gede Mahendra Kusuma menyebutkan, dipilihnya Desa Nagasepaha tidak terlepas karena banyaknya potensi industri UMKM yang ada di desa ini. Untuk itu, Program Studi Manajemen Ekonomi STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja memprogramkan suatu wadah bagi para perajin atau pelaku usaha agar dapat mengelola produk usahanya, baik dari segi pemasaran maupun administrasinya, sehingga bisa lebih profesional dan dikenal di masyarakat umum.
“Potensi yang ada di Desa Nagasepaha, dapat diibaratkan mutiara yang masih tenggelam, belum muncul ke permukaan. Inilah permasalahan yang akan kami gali di sini,” ujar Mahendra Kusuma, menjelaskan.
Mahendra Kusuma mengatakan, kegiatan PKM ini merupakan program berkelanjutan, dan kali ini sudah berjalan selama dua minggu, yang antara lain telah diisi dengan kegiatan lounching program ‘Pojok UMKM’ Desa Nagasepaha. Tujuannya tidak lain agar para perajin yang ada di desa mempunyai wadah untuk menyalurkan hasil kerajinan mereka, sehingga bisa lebih dikenal di masyarakat, termasuk tentang harga yang lebih baik serta pemasarannya bisa lebih luas.
Disinggung mengenai tempat dan lokasinya, Mahendra Kusuma menjelaskan, program ‘Pojok UMKM’ ini sementara waktu tempatnya masih akan dipersiapkan dan diskemakan oleh pihak desa, agar sekiranya bisa memilih tempat yang relevan sehingga nanti bisa dibuatkan mini galeri untuk memajang hasil kerajinan.
“Nanti apabila ada pengunjung yang datang ke Desa Nagasepaha dan ingin mengetahui informasi terkait kerajinan, maka akan diarahkan ke ‘Pojok UMKM’, karena segala bentuk pemesanan kerajinan akan melalui ‘Pojok UMKM’ dan tidak menutup kemungkinan juga akan diintegrasikan dengan kesenian adat dan destinasi wisata yang ada di Desa Nagasepaha,” ucapnya.
Selain itu, pihaknya juga mengaku sudah menyusun program kerja serta struktur organisasi, di mana nanti bentuk output-nya akan mengarah pada digitalisasi karena saat ini zaman sudah memasuki era industri 4.0 maka segala bentuk pemasaran dan transaksinya juga akan dipasarkan melalui media sosial dan akun e-commerce.
Penjualan produk UMKM yang ada di desa secara konvensional akan diarahkan ke media plafon e-commerce dan secara bertahap akan menuntun generasi mudanya untuk bisa membuat konten kreator, membangkitkan mental kewirausahaannya serta melatih untuk membuat foto produknya semenarik mungkin sehingga nantinya bisa dijual di maketplace.
“Untuk itu kita harapkan semua bentuk kegiatan bisnis di desa sudah terdigitalisasi, salah satunya di media sosial Facebook, Instagram, Tiktok dan media e-commerce yang sangat relevan saat ini,” katanya. Terakhir, ia mengajak seluruh generasi muda untuk turut melestarikan budaya dan kekayaan yang dimiliki oleh setiap desa. (LE/Nom)







