Buleleng, LenteraEsai.id – Melukat, merupakan ritual untuk membersihkan diri secara sekala dan niskala bagi umat Hindu di Bali. Itu sebabnya, ritual yang adalah warisan secara turun-temurun dari para leluhur, tak pernah surut dilakukan umat di Bumi Dewata.
Di Kabupaten Buleleng, Bali bagian utara, cukup banyak pura suci yang memiliki fungsi sebagai tempat penglukatan, seperti halnya Pura Yeh Ketipat, Pura Tirta Sudhamala, Pura Sakti dan lain-lain, yang umumnya memiliki mata air yang ‘medal’ dari kawasan pura.
Dari sekian banyak pura yang memiliki fungsi sebagai tempat malukat itu, terdapat satu pura panglukatan yang sangat unik dan telah banyak didatangi oleh pamedek dari berbagai daerah di Bali, bahkan luar Bali.
Pura tersebut berada di Banjar Yeh Mas, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, yakni Pura Taman Beji yang letaknya berdampingan dengan Danau Buyan. Pura yang lebih dikenal dengan sebutan Petirtaan Yeh Masem itu, memang berbeda dari banyak tempat malukat pada umumnya.
Kendatipun berada di pinggir Danau Buyan, namun air suci atau tirta yang berada pada Pura Taman Beji, terasa masam di lidah. Keunikan ini sudah dirasakan oleh banyak umat Hindu yang pernah malukat ataupun sembahyang di pura itu.
Jro Mangku Wayan Laba, selaku Pemangku di Pura Taman Beji menerangkan, pura lebih dikenal dengan sebutan Petirtaan Yeh Masem sehubungan rasa air yang ‘medal’ dari kawasan pura berasa masam ketika dikecap. Anehnya, bila air itu dibawa pulang maka rasa masamnya dipastikan akan hilang.
“Tirta di sini memang sangat unik dan berbeda dengan yang lain. Rasanya masam meskipun bercampur dengan air Danau Buyan. Anehnya lagi, bila air yang keluar dari mata air telah mengalir dalam beberapa meter dari areal pura ini, airnya berasa normal, sama seperti air pada umumnya,” ucapnya, menjelaskan.
Ketika ditemui di areal pura pada awal pekan ini, Jro Mangku Wayan Laba mengungkapkan bahwa dirinya pernah menerima kedatangan seorang Sulinggih asal Negara, Kabupaten Jembrana, yang menyatakan ingin bersembahyang dan malukat di Pura Taman Beji.
Keinginan untuk bersembahyang dan melukat di pura tersebut, timbul setelah Ida Sulinggih mendapatkan ‘pawisik’ atau bisikan suci dari Ida Sanghyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Sulinggih itu juga berpesan bahwasannya pura ini sangat baik untuk panglukatan dan pengobatan.
“Setelah kedatangan Sulinggih itu, pura menjadi cukup banyak didatangi pemedek untuk melukat dan bersembahyang,” ujar Jro Mangku Wayan Laba sembari penuh tanya, entah dari mana orang-orang mendapatkan informasi bahwa Pura Taman Beji memang terbukti ‘manjur’ sebagai tempat penglukatan dan ‘nunas tamba’ dewasa ini.
Pemedek yang datang tangkil tidak hanya dari sejumlah daerah di Kabupaten Buleleng, tetapi juga dari kabupaten lain di Bali bahkan luar Bumi Dewata seperti dari Jawa dan Sumatera. Terbukti, tidak sedikit pemedek yang tangkil untuk kepentingan berobat dengan aneka penyakitnya, dianugrahi kesembuhan setelah melukat di Pura Taman Beji, di pinggir Danau Buyan. (LE/Ags)







