Demi Seember Air, Warga Seraya Timur Rela Mendaki Bukit Terjal dan Ngantri Berjam-jam

Karangasem, LenteraEsai.id – Seperti tahun-tahun sebelumnya, jika musim kemarau panjang tiba, warga di Desa Seraya Timur, Kecamatan/Kabupaten Karangasem mulai dilanda kekeringan dan kesulitan mendapatkan air bersih.

Tahun inipun mereka mengalami hal yang sama. Penyebabnya ialah stok air yang ditampung dalam cubang mulai habis setelah hujan tak lagi turun dari langit sejak beberapa bulan ini.

Bacaan Lainnya

Seperti pada Selasa (13/9/2022), warga Bukit Catu, Desa Seraya Timur berbondong-bondong membawa ember besar, disunggi di atas kepalanya. Dengan mendaki bukit yang terjal serta harus melintasi jalan setapak yang diapit jurang, mereka tampak ‘merayap’ untuk dapat menemukan sumber air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Puluhan warga harus dengan tenaga ekstra untuk dapat sampai ke bagian lereng Bukit Jumas untuk dapat menemukan sumber air yang merupakan satu-satunya di wilayah Dusun Bukit Catu, Seraya Timur.

Tergolong tangguh, mereka itu. Bayangkan, tak hanya sekali, melainkan saban hari mereka harus mendaki bukit demi mendapat air bersih untuk kebutuhan hidup seperti minum, memasak dan juga mandi dan mencuci. Mereka tidak hanya harus mencapai sumber air yang tereletak di ketinggian 2.300 MDPL, namun juga harus ‘dibentak’ panas sinar mentari saat menjelajah jalan setapak dengan jarak tempuh yang cukup jauh.

Tiba di lokasi yang dituju, warga harus mengantri untuk bergiliran dapat mengisi air ke dalam ember cukup besar yang mereka bawa. Antrian bahkan bisa sampai berjam-jam karena saking kecilnya debit air yang mengucur dari bagian tebing perbukitan itu. Jika dilihat, sumber air tersebut berasal dari rembesan air dari akar pohon di bagian tebing di atasnya.

Ni Ketut Sari, salah seorang warga Dusun Bukit Catu yang ikut mengantri air mengatakan, satu ember cukup besar yang digunakan untuk menadah air, baru terisi penuh setelah 40 menit lamanya. “Di sini tidak ada sumber mata air lagi, jadi cuman ini saja yang ada. Saya berangkat dari jam enam pagi, perjalanan dua jam hingga sampai di sini. Untuk menunggu giliran bisa sampai empat jam baru dapat. Perjalanan pulang juga ditempuh dalam waktu dua jam,” ucapnya, menuturkan.

Sementara Ni Wayan Sulendri, yang juga warga yang sedang mengambil air di tempat tersebut, mengaku terpaksa harus mengajak kedua anaknya untuk mendaki menuju sumber air. “Walaupun sebenarnya takut juga mengajak anak-anak, tapi saya tidak punya pilihan lain,” katanya.

“Dengan mengajak anak-anak, tentu lebih banyak kami bisa mendapatkan air bersih untuk dibawa pulang dalam sekali perjalanan mendaki bukit,” ucapnya, menjelaskan.

Kepala Dusun Bukit Catu, I Made Kari mengatakan, sedikitnya 170 KK yang bergantung pada sumber mata air yang debit sangat kecil itu. “Kami berharap pemerintah pusat, provinsi dan daerah bisa mencarikan solusi untuk mengatasi masalah kesulitan air bersih yang dihadapi warga kami ini, di mana masalah ini sebenarnya sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun lampau, namun belum ada yang dapat mengatasi dengan serius,” katanya, mengharapkan. (LE-Ami) 

Pos terkait