Badung, LenteraEsai.id – Dupa khas Bali telah lama dikenal sebagai penghantar untuk relaksasi, sarana persembahyangan atau menambah kekhusyukan saat melakukan meditasi. Bahkan belakangan kemunculan dupa herbal disambut positif dikarenakan makin tingginya kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan.
Salah satu dupa herbal yang sedang diminati adalah ‘Dupa Herbal Suputra’ yang diproduksi di Desa Angantaka, Kecamatan Abiansemal, Badung, Bali. Ternyata, peminat dupa herbal ini tidak hanya warga dari berbagai daerah di Indonesia, melainkan pula warga negara asing (WNA) asal Rusia, karena produk ini dinilai lebih ramah lingkungan dan tidak berefek negatif bagi siapapun yang menghirup asapnya.
Semenjak tahun 2017 menggeluti usaha Dupa Herbal Suputra, Ni Komang Ayu Septiani SE (30) menjelaskan bahwa usaha ini bukanlah bisnis turunan keluarga, melainkan dirinya meniatkan untuk merintis berdasarkan dorongan dari salah seorang dosen ketika menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi di Universitas Ngurah Rai – Denpasar.
“Salah seorang dosen pengajar mata kuliah wirausaha tidak henti-henti mendorong para mahasiswa untuk memiliki usaha sendiri. Kalaupun belum bisa diwujudkan secara riil, dosen meminta untuk memvisualisasikan dulu kegiatan usaha yang kita dirikan, dengan tujuan agar mahasiswa tidak hanya terpaku menjadi pegawai melainkan disupport untuk memiliki usaha sendiri. Saat itu, sambil kuliah saya bekerja di sebuah bank perkreditan rakyat (BPR),” ujar Ayu ketika ditemui pada awal Februari 2022 di ruang workshop dupa di salah satu sisi halaman rumahnya di Desa Angantaka.
Saat mendapat support itulah, lanjut ibu dua anak ini, dirinya terpikir untuk mendirikan bisnis dupa dikarenakan masyarakat Bali setiap hari selalu memerlukan dupa untuk sarana bersembahyang. Selain itu, dupa tidak gampang ‘expired’ seperti ketika seseorang berbisnis kuliner yang ada masa kadaluwarsanya, sehingga lebih beresiko jika dijalani pelaku usaha pemula.
Pada bulan Agustus 2015, Ayu mulai menkonkretkan niatnya berbisnis dupa. Wanita ini memulai dengan menjadi ‘reseller’ produk dupa milik salah seorang kawannya. Ternyata usaha ini berjalan lancar dan Ayu mulai kontinyu melakukan pembelian dupa untuk dijual langsung secara eceran. Namun malang tidak dapat ditolak, suatu ketika Ayu baru saja membeli dupa sebanyak dua karung, mendadak kena musibah kecelakaan sehingga mengalami sejumlah luka serius. Tidak ayal, sebagian besar dupa sebanyak dua karung akhirnya mengalami kerusakan dan tertinggal 25% saja yang masih layak jual. Untuk sementara, akhirnya Ayu memutuskan untuk beristirahat dulu karena dalam masa pemulihan.
Sebulan menjalani masa pemulihan usai kecelakaan, Ayu kembali bergiat berjualan dupa. Sebanyak 25% dupa yang masih bagus, dijual ke pelanggan. Berikutnya, dengan menggunakan uang gajian sebagai karyawan BPR, Ayu kemudian memutuskan mencari sendiri produk dupa jadi dan dikemas serta diberikan merek dagang sendiri. Ternyata, para pelanggan tetap menyambut dupa dengan merek baru itu sehingga Ayu makin giat menggulirkan usaha.
“Saat itu saya sudah menikah dan memiliki seorang anak berusia 2 tahun. Suatu ketika, saya mendapati anak saya nafasnya seperti tersengal-sengal ketika tidur. Saya kaget, karena berpikir tidak ada keturunan sakit sesak nafas di keluarga kami. Tidak lama berselang, dada saya pun terasa sakit dan napas juga pendek-pendek. Saya lantas teringat, barangkali itu efek dari menghirup pewangi dupa yang setiap hari saya kemas itu. Dari sinilah, saya kemudian memutuskan untuk berhenti bisnis dupa wangi, karena khawatir akan berefek bagi kesehatan nanti kena penyakit kronis,” ujar Ayu.
Mandeknya usaha bisnis dupa ini, ternyata tidak luput dari pengamatan sang dosen di kampus. “Suatu ketika, dosen bertanya kenapa sudah lama saya tidak membawa dagangan dupa ke kampus. Saya jawab: anak saya terganggu nafasnya dan saya mengalami sakit dada. Dosen kemudian memberikan solusi supaya saya beralih pada dupa herbal sehingga tidak mengalami dampak bahan kimia yang berefek buruk bagi kesehatan. Dosen ini lantas memberikan kontak salah seorang pelaku usaha yang sudah lebih dulu melakoni bisnis dupa herbal. Seketika saya tertarik karena bagaimanapun, saya sudah memiliki pelanggan dupa sejak dulu,” ujar Ayu antusias.
Dengan bermodalkan mesin manual, pada Januari 2017 Ayu kembali bangkit dan kali ini mengibarkan dupa herbal. Sengaja Ayu mengusung merek ‘Suputra’, karena merujuk nama anak pertamanya Putra dan digabung dengan ‘Su’ yang bermakna baik. Jadi Suputra adalah harapan agar pembeli dupanya adalah orang-orang yang baik dan berbakti. Perlahan tapi pasti, dupa herbal itu mendapatkan perhatian tersendiri di masyarakat. Pada setiap kabupaten/kota di Bali, Ayu memiliki jaringan reseller sehingga produksi dupa herbal itu berjalan lancar.
Jenis dupa yang ditawarkan Ayu terdiri dari beberapa macam bahan kayu, meliputi: gaharu, kayu manis, masohi dan wargasari. Dupa herbal ini dikemas estetis, dengan dibandrol harga mulai Rp 10 ribu hingga Rp 80 ribu per bungkus.
Peminat dupa herbal itu tidak hanya masyarakat dalam negeri saja, melainkan mulai dikenal turis asing, khususnya yang tengah berada di Bali. Mayoritas pelanggan adalah turis yang berasal dari Rusia, yang dalam beberapa tahun terakhir ini secara rutin memesan dupa untuk dibawa ke negaranya sebagai cenderamata. Terkadang para warga Rusia itu sengaja membeli dalam jumlah banyak untuk dikirimkan ke keluarganya.
Belakangan, bahkan Ayu memperluas jaringan pemasaran dupa herbal melalui pemasaran e-commerce sehingga pemesan produknya tidak hanya sebatas di Bali saja, melainkan telah bertambah di sejumlah kota-kota besar se-Nusantara. Pelanggan yang sering memesan tiap bulan berasal dari Tangerang, Jakarta, Manado, Bekasi, Surabaya, Mataram dan sejumlah kota lainnya.
Ayu mengaku gembira, karena ternyata peminat dupa herbalnya tidak hanya dari warga di berbagai kota Indonesia saja, melainkan juga dari beragam pemeluk agama turut menyambut baik kehadiran produknya.
“Bukan hanya pemeluk Hindu saja yang menjadi pelanggan dupa herbal, melainkan juga dari umat Muslim, Katolik, Kristen atau Budha, rutin memesan setiap bulan,” ucap Ayu dengan wajah sumringah.

Ayu melanjutkan, setiap mengirim dupa keluar daerah, dirinya selalu mengandalkan jasa pengiriman SiCepat Ekspres. “Pilihan ekspedisi ini saya lakukan sejak tahun 2018, dan ternyata pilihan ini tidak meleset, karena selama ini tidak pernah mengalami komplain pelanggan misalnya karena barang rusak atau terlalu lama waktu pengiriman. Syukur tidak pernah ada komplain seperti itu, sehingga saya tetap setia berlangganan ekspedisi pengiriman menggunakan SiCepat. Apalagi dengan e-commerce yang saya pilih, sudah include biaya pengiriman menggunakan SiCepat sampai batas berat produk 1 kg akan diberlakukan bebas biaya kirim. Wah tentu ini layanan yang sangat menarik. Pembeli saya jadinya secara rutin memesan hampir tiap minggu karena ada layanan spesial dengan menggunakan SiCepat, yang diberlakukan tanpa pembatasan hari. Inilah yang bikin usaha mulai melaju pesat, penjualan dupa merambah daerah-daerah lain di luar Bali yang bisa dilakukan secara praktis, efisien, tepat waktu serta hemat berkat SiCepat,” kata Ayu bersemangat.
Ke depan Ayu berharap setelah pandemi usai, dirinya dapat menata manajemen usaha dengan memperbanyak reseller di berbagai daerah di Indonesia. “Saya juga berharap dapat mengekspor dupa secara langsung ke mancanegara. Sebelum pandemi sudah ada ancang-ancang untuk ekspor dupa ke sejumlah negara, namun rencana ini tidak bisa lanjut karena terkendala pandemi ini. Jadi astungkara, ke depan bisa memasarkan dupa ke luar negeri, serta memperkuat jaringan reseller di dalam negeri dengan dukungan pengiriman melalui SiCepat,” harap Ayu sembari mengatakan kisaran omzetnya kini sekitar Rp 7 jutaan per bulan.
Sementara itu, pada tahun 2022 ini SiCepat Ekspres telah genap memasuki usia ke-8 sebagai lini bisnis yang mencatatkan sebagai perusahaan layanan jasa ekspedisi terpercaya, yang kian mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia.
Sebagai perusahaan jasa pengiriman asli Indonesia, SiCepat Ekspres turut mendukung para pelaku UMKM supaya dapat mengembangkan bisnisnya, baik dari segi permodalan, kreativitas, hingga digitalisasi. Dengan bertambahnya usia SiCepat ke-8 tahun ini, diharapkan semakin banyak pihak-pihak, baik swasta maupun pemerintahan untuk bersinergi bersama membangun perekonomian Indonesia.
Pada satu kesempatan, Chief Executive SiCepat Ekspres The Kim Hai mengatakan bahwa SiCepat Ekspres bisa berkembang hingga pada titik seperti saat ini, tidak lain adalah sebuah mukjizat Tuhan. Berkat kolaborasi dan sinergi dari seluruh pihak baik eskternal maupun internal perusahaan, SiCepat mampu bertumbuh dan berkembang dengan pesat menjadi perusahaan yang terus mengutamakan pelayanan terbaik, berorientasi memberikan kemudahan bagi masyarakat, serta peduli dan secara aktif melakukan kegiatan sosial demi membantu sesama.
Sejak awal berdiri, SiCepat mengambil sikap untuk fokus melayani pelanggan secara maksimal, sehingga menghadirkan beragam layanan supaya pelanggan bisa memilih secara tepat sesuai kebutuhannya ketika melakukan pengiriman barang.
Sejumlah program dan layanan SiCepat adalah: (1). SiUntung merupakan layanan standar yang memungkinkan untuk mengirim paket dengan estimasi waktu 15 jam untuk wilayah Jabodetabek dan Bandung serta 1-2 hari sesuai ETA untuk wilayah lainnya di seluruh Indonesia dengan tarif reguler. (2). SiCepat BEST adalah layanan pilihan yang menginginkan pengiriman paket kilat yang sampai dalam waktu satu hari saja, SICepat menawarkan layanan BEST (Besok Sampai Tujuan). (3). SiCepat GOKIL (Cargo Kilat) menawarkan tarif pengiriman yang lebih terjangkau untuk paket dengan ukuran besar atau jumlah yang banyak. Penggunaan layanan SiCepat GOKIL ini untuk pengiriman paket dengan volume minimal 10 kg. Selain benefit diskon yang lebih hemat, paket SiCepat Cargo juga memastikan paket akan sampai dalam watu cepat yakni 1-3 hari. (4). SiCepat COD (Cash On Delivery) yang memungkinkan untuk membayar barang belanjaan secara cash saat barang sudah sampai di tangan pelanggan. Melalui layanan COD ini, SiCepat juga memastikan barang akan sampai dalam waktu maksimal 8 jam pengiriman. Layanan COD ini baru bisa dinikmati Sahabat SiCepat yang berada di wilayah Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Surabaya. (5). SiCepat GO adalah layanan untuk pengiriman paket ke luar negeri. Pelanggan bisa mengirim barang ke negara-negara di benua Asia dan Australia dengan tarif yang lebih murah, dan estimasi waktu yang cepat sesuai dengan tujuan negara sesuai ETA. Layanan pengiriman Internasional SiCepat GO ini baru berlaku di beberapa daerah saja, seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Denpasar, dan Medan. (6). SiCepat Syariah memberikan layanan agar Sahabat SiCepat bisa ikut berdonasi membantu kaum dhuafa lewat layanan SiCepat Syariah. Sahabat SiCepat bisa membantu kemajuan literasi dan pendidikan anak-anak pesantren di wilayah Cilacap dan Lombok melalui diskon ongkir sebesar 2.5% dari biaya ongkos kirim yang dibayarkan. Program layanan SiCepat Syariah ini berlaku untuk Sahabat SiCepat yang melakukan pengiriman di laur marketplace. Tak hanya sekedar menerima dana donasi Sahabat SiCepat dan menyalurkannya saja, SiCepat EKspres juga akan memberikan laporan pertanggungjawaban setiap 6 bulan sekali kepada Sahabat SICepat yang sudah menjadi donator. Dan (7). H3LO (Heboh 3 Kilo), yang semakin memberikan kemudahan bagi para seller untuk mengirimkan paketnya dengan tarif yang lebih hemat. Dengan bergabung dalam program H3LO ini, Sahabat SiCepat bisa mengirimkan barang dengan berat maksimal 3,29 kg dengan tarif ongkir yang dihitung setara dengan 1 kg. Layanan ini hanya berlaku khusus bagi Sahabat SiCepat yang menggunakan layanan reguler dan customer social media/drop paket, namun tidak berlaku untuk customer yang tergabung dalam marketplace.
Beragam pilihan layanan ini, sesungguhnya merupakan wujud persembahan terbaik bagi pelanggan SiCepat, sebagai sinergi dan dukungan konkret bahwa SiCepat memang hadir untuk memberikan layanan pengiriman dengan kualitas terdepan. SiCepat adalah perusahaan jasa pengiriman yang didirikan generasi asli Indonesia, yang memang memimpikan memberikan layanan ‘harga kaki lima’ dengan kualitas ‘bintang lima’ bagi segenap masyarakat di Tanah Air. (Tri Vivi Suryani)







