Update Erupsi Semeru, 46 Korban Meninggal ‘Disambar’ Awan Panas

Warga yang selamat dari bencana alam erupsi Gunung Semeru, Sabtu (4/12/2021)

Lumajang, LenteraEsai.id – Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) yang berada di bawah koordinasi Basarnas memfokuskan pencarian di tiga sektor terhadap korban yang dinyatakan hilang ‘disambar’ awan panas guguran dan lava yang meluncur dari kawah Gunung Semeru.

Bacaan Lainnya

Hingga hari kedelapan, Sabtu (11/12), tercatat sebanyak 46 korban meninggal dunia yang telah berhasil ditemukan tim SAR gabungan yang juga mengerahkan sejumlah anjing pelacak dan peralatan lainnya.

Tim SAR dari personel Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan dan warga ini terbagi ke dalam 4 grup. Tiga grup memfokuskan pada pencarian di tiga sektor, sedangkan satu lainnya bersiaga untuk evakuasi dan membantu pendataan warga terdampak bencana.

Grup pertama melakukan pencarian di Dusun Kajar Kuning dan Curah Kobokan, grup dua di daerah tambang pasir yang dikelola H Satuhan, dan grup ketiga di Dusun Keboneli dan Kampung Renteng, Kabupaten Lumajang.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari PhD mengatakan, selain 46 korban ditemukan telah menjadi mayat, petugas juga mencatat 9 warga lainnya yang hingga kini masih dinyatakan hilang. Sedangkan korban luka-luka terhitung sebanyak 29 orang, terdiri atas 18 luka berat dan 11 luka ringan.

Abdul Muhari menjelaskan, kondisi cuaca hujan terkadang menghambat proses pencarian korban yang hilang. Basarnas menekankan pada keamanan dan keselamatan responder yang bekerja di lapangan. Para responder sebelum melakukan operasi di lapangan terlebih dahulu mendapatkan briefing keamanan dan keselamatan.

Sementara itu, pendataan warga yang mengungsi pada hari ini (11/12) berjumlah 9.118 jiwa. Proses pendataan penyintas masih terus dimutakhirkan setiap harinya. Dari total angka tersebut, jumlah penyintas laki-laki 4.435 jiwa dan 4.683 jiwa.

Saat ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama para relawan, membantu untuk penguatan pendataan di lapangan, sehingga data terpilah, khususnya kelompok rentan, akan dapat terdata dengan lebih baik, ucapnya.

Dikatakan, penyintas sebanyak itu tersebar di 115 titik pos pengungsian, di antaranya terpusat di 18 titik di 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Pasirian 6 titik (2.081 jiwa), Candipuro 8 titik (3.538) dan Pronojiwo 4 titik (1.056).

Sebanyak 94 titik lain tersebar di Kabupaten Lumajang, di antaranya Sukodono 10 titik (334 jiwa), Sumbersuko 8 titik (312), Lumajang 12 titik (380), Yosowilangun 4 titik (70), Pasrujambe 2 titik (197), Randuagung 9 titik (52), Senduro 7 titik (131), Tekung 4 titik (68), Jatiroto 4 titik (90), Kunir 5 titik (171), Klakah 7 titik (55), Kedungjajang 9 titik (61 jiwa), Gucialit 2 titik (15), Tempusari 1 titik (21), Padang 4 titik (205), Ranuyoso 1 titik (31) dan
Rowokangkung 5 titik (60). Sedangkan warga mengungsi di luar Lumajang berada di Kabupaten Malang 2 titik (179) dan Probolinggo 1 titik (11).

Dalam upaya penanganan darurat ini, pemerintah daerah mengaktivasi pos komando (posko) yang berlokasi di Kecamatan Pasirian. Posko Penanganan Darurat Bencana Awan Panas dan Guguran Erupsi Gunung Semeru didukung dua Pos Sub Satgas I (Lumajang) yang berada di Desa Candipuro, Kecamatan Candipuro dan Pos Sub Satgas II (Malang) di Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo. Masih di bawah kendali Posko, pos logistik bantuan dipusatkan di Pendopo Bupati Lumajang, sedangkan Pos Pendukung Lapangan berada di Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro.

Selain pada operasi pencarian dan pertolongan, Posko juga mengutamakan pelayanan kepada warga terdampak serta pemulihan sarana dan prasarana yang rusak akibat abu vulkanik. Pada upaya pelayanan warga, Posko utama tanggap darurat di Lumajang membuka pusat layanan atau call center di nomor 081234570077, sehingga ini diharapkan dapat membantu warga yang membutuhkan dukungan pelayanan selama masa tanggap darurat hingga 17 Desember 2021, katanya, menjelaskan.  (LE-LM)

Pos terkait