BadungHeadlines

Mantan Wakil Rakyat AA Gede Gerana Mengaku Pamit dari Dunia Politik

Badung, LenteraEsai.id – AA Gede Gerana Putra SH yang biasa dipanggil Gung Granat, merupakan angga Puri Selat, Desa Selat, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung yang masih ada hubungan kerabat dengan Puri Ageng Mengwi, Bali.

Ditemui pewarta LenteraEsai (LE) di kediamannya di kawasan Vila Ayung di pinggir Tukad Ayung wilayah Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal, Badung  pada Jumat, 27 Agustus 2021 lalu, pria berkumis jempe kelahiran 1961 itu tidak keberatan untuk menuturkan kembali perjalanan hidupnya.

Sore itu suasana kediaman AA Gede Gerana Putra yang asri, tampak lengang, seperti tanpa penghuni. Pintu gerbang depan dan pintu masuk samping tertutup. Mendengar ada suara yang memanggil-manggil tuannya, dua ekor anjing piaraan dalam kandang pun menyalak. Dan yang empunya rumah pun sontak muncul dari dalam rumah.

Seraya membukakan pintu, AA Gede Gerana Putra menyapa hangat kedatangan pewarta LE, yang merupakan teman lama. Yakni teman ketika sekolah dasar di SD 1 Gunung, Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Badung, walau tidak sampai tamat, lantaran keburu pindah ke SD 1 Sangeh, kira-kira setelah duduk di Kelas V (lima).

Setelah tamat sekolah dasar, Gung Granat mengaku meneruskan ke SMP dan lanjut SLUA Saraswati Denpasar. Lantas gelar sarjana hukumnya (SH) ia raih di Universitas Ngurah Rai (UNR) Denpasar.

Berbincang dengan salah seorang moncol Puri Selat itu, sangat menyenangkan. Tutur katanya santun, lembut, bijaksana dan akrab di balik nama panggilannya yang begitu ‘angker’, Gung Granat.

Dulu ketika masih muda, Gung Granat kalau bicara penuh semangat, kadang menggebu-gebu, diselingi gelaktawa. Perubahan yang kini terlihat mungkin seiring bertambahnya usia.

Kisah dan kiprah AA Gede Gerana Putra penuh warna dan dinamika. Pernah berkarier di RSUP Sanglah Denpasar. Tetapi memilih berhenti di tengah jalan. Lalu konsentrasi pada jalur bisnis (dagang), seperti bergelut dalam bidang komoditas beras dan sebagainya, bersama istri tercinta.

Tidak mandeg di situ, Gung Granat terjun merambah dunia politik praktis. Pertama-tama berlabuh ke Partai Demokrasi Indonesia (PDI). PDI adalah hasil fusi (gabungan) dari beberapa parpol berhaluan nasionalisme seperi PNI, Partindo, IPKI dan lain-lain di era Orde Baru (Orba), pascapelaksanaan pemilu 1971 yang diikuti 10 partai politik.

Tetapi dalam perjalanannya, Gung Granat memilih hengkang dari PDI ke Partai Demokrat. Dan pada pemilu 2009 masuk daftar caleg (calon legislatif) DPRD Provinsi Bali dapil Kabupaten Badung. Sayang perolehan suaranya tidak cukup baginya untuk melenggang ke kursi parlemen di Kantor Renon, Denpasar.

Namun demikian, nasib baik masih berpihak padanya. Gung Granat akhirnya melenggang ke DPRD Bali, yakni lewat jalur pengganti antarwaktu (PAW). Karena koleganya, I Gusti Made Putrayasa berpulang, setelah kurang lebih enam bulan bertugas menjadi anggota DPRD Bali dari Fraksi Demokrat.

Dalam pemilu berikutnya yang bersangkutan mencalonkan diri kembali diri partai yang sama, sebagai calon anggota DPRD Bali. Tetapi perolehan suaranya lagi-lagi tidak mencukupi untuk duduk (kembali) di DPRD Bali.

Perihal yang mengejutkan pewarta LE, pria dengan tiga orang putri dan putra serta tiga cucu itu mengatakan, tidak mau lagi bicara politik. Apalagi aktif berkiprah dalam dunia politik praktis. Namun dia tidak bersedia menjelaskan secara gamblang, mengapa memilih berhenti berkiprah di jalur politik.

“Saya tidak akan lagi terjun ke dunia politik. Stop bicara politik. Saya sudah pamit dari politik,” ujar Gung Granat dengan nada suara yang tampaknya tidak main-main.

Selain sempat mencicipi sebagai anggota parlemen, Gung Granat juga pernah menjabat Perbekel Desa Selat, Badung, tiga periode. Ia merupakan Kepala Desa Selat pertama, setelah pisah (mekar) dengan desa induknya, yakni Desa Sangeh.  (LE/Ima)

Lenteraesai.id