Tiga Pancuran di Pura Beji Batan Gatep, Tempat Krama Nunas Toya Ning Lan Penglukatan

Badung, LenteraEsai.id – Keberadaan Pura Beji Batan Gatep di tepi Sungai Penet, tepatnya di wilayah Banjar Tambak Sari, Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, diketahui cukup banyak dikunjungi pemedek dari berbagai daerah.

Pemedek yang datang tangkil tidak hanya munas toya ning untuk berbagai keperluan terkait upakara, tetapi juga tidak sedikit yang nunas untuk mebayuh, melukat guna melebur berbagai kotoran dan mala.

Bacaan Lainnya

Adapun sejarah berdirinya pura tersebut tidak terlepas dari kedatangan seorang Rsi yang melakukan semedi di tempat itu. Usai bersemedi dalam hitungan bulan lamanya, sang Rsi yang bernama Bagawan Banu langsung moksa, wafat tanpa jenazah.

Bersamaan dengan moksanya sang Rsi, di tempat itu muncul kelebutan atau mata air yang dinamakan Beji Batan Gatep, kemudian menyusul dibangun pelinggih hingga disebut Pura Beji Batan Gatep.

Ada dugaan dulunya di lokasi semedi Bagawan Banu tumbuh pohon gatep (gayam) yang cukup besar, hingga kemudisan mata air dan pura dinamakan Pura Beji Batan Gatep, yakni di bawah pohon gatep.

“Memang keberadaan Pura Beji Batan Gatep tidak terlepas dari kisah Bagawan Banu keturunan Arya, yang melakukan semedi di areal pura tersebut. Beliau moksa di situ, tepat di lokasi kelebutan air yang masih mengalir sampai saat ini,” ujar Jro Mangku Beji, saat ditemui di kediamanya di Desa Kapal belum lama ini.

Pura Beji Batan Gatep kini memiliki tiga pancuran yang selama ini airnya ditunas oleh krama untuk keperluan upakara, melukat dan lain-lain. Adapun yang melingih di pura tersebut, kata Jro Mangku Beji, adalah Dewa Wisnu.

Dahulu, lanjut Jro Mangku Beji, hanya ada satu pancuran dengan satu kelebutan sebagai sumber air. Namun setelah mendapat pewisik serta tuntunan dari tokoh spiritual, menyusul dibuatkan tiga pancuran bambu.

“Jadi, satu sumber mata air itu kini mengalir pada tiga pancuran yang ada di kawasan pura,” ujar Jro Mangku Beji sembari menjelaskan, dari ketiga pancuran itulah krama nunas toya ning untuk berbagai keperluan.

Dikatakan, ketiga pancuran tersebut memiliki nama serta fungsi yang berbeda-beda, yakni Pancuran Toya Ning, Kelebusan Capuhan dan Pancuran Suda Mala.

“Air dari Pancuran Toya Ning biasanya ditunas krama untuk rangkaian upakara, salah satunya mekarya di pura. Untuk Pancuran Kelebusan Capuhan dipakai melukat pembersihan diri, sedangkan Pancuran Suda Mala biasanya digunakan krama untuk mebayuh,” ucapnya.

Kendati dimikian, sejauh ini krama nampaknya lebih banyak yang nunas di Pancuran Toya Ning untuk keperluan upakara dan upacara di pura, ujarnya, mengungkapkan.

Selain memiliki tiga pancuran, tepat di areal pura juga ada pelinggih Lingga Yoni yang ditemukan saat dilakukan pengalian untuk memperbaiki aliran air yang keluar dari kelebutan.

“Saat dilakukan penggalian, tiba-tiba muncul Lingga Yoni yang kini kami sungsung sebagai pelinggih Dewa Siwa, di samping pelinggih Dewa Wisnu,” katanya.

Mengenai pengempon pura, Jro Mangku Beji mengatakan diempon oleh keluarga besarnya sendiri, dikarenakan kelebutan itu sendiri memang medal di atas lahan milik pribadi.

Namun demikian, krama yang datang nunas toya di pancuran di Pura Beji Batan Gatep tidak hanya dari lingkungan keluarga besar saja, tetapi hampir dari berbagai kabupaten di Bali.

Menurut Jro Mangku Beji, krama yang memiliki piodalan pada hari Buda Kliwon Pegattuakan, biasanya datang untuk nunas toya ning di salah satu pancuran di Pura Beji Batan Gatep.

Dikatakan, bagi krama yang ingin tangkil atau mepinunasan, cukup hanya membawa daksina dan satu bungkak nyuh gading untuk dihaturkan di tempat pelinggih.

Biasanya krama yang mepinunasan selalu memberitahukan dan mengajak Jro Mangku Beji untuk ngaturan bebantenan yang mereka bawa untuk dipersembahkan.  (LE-AK)

Pos terkait