Kisah Guru yang Mantan Pedagang Telur, Selepas Ngajar Jadi Tukang Foto Keliling

Badung, LesteraEsai.id – Tak pernah menduga bahkan terpikirkan sebelumnya kalau pedagang telur itu akhirnya menjadi tenaga pengajar pada sebuah sekolah dasar negeri (SDN) di sebuah desa Kabupaten Badung, Bali.

Namun demikian, Yang di Atas nampaknya punya kehendak lain hingga pria bernama I Wayan Luat (78) akhirnya menjadi seorang guru pengajar yang tergolong sukses di SDN Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.

Bacaan Lainnya

Keiketsertaannya sebagai tenaga pengajar itu berawal dari adanya informasi salah seorang teman asal Ubud, Kabupaten Gianyar yang bertugas selaku Penilik Sekolah (PS).

Ida Bagus Rai ketika itu menginformasikan sekaligus menyarankan agar Wayan Luat yang lulusan sekolah tehnik negeri (STN) pada 1963, dapat mengikuti Kursus Guru Kilat pada tahun 1967 di Denpasar, Berbekal sertifikat kursus guru itulah yang kemudian mengantarkan Wayan Luat  menjadi guru SDN di Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal.

“Kursusnya ketika itu berlangsung hanya tiga bulan. Setelah lulus dan bersertifikat, langsung diangkat menjadi guru,” tutur Wayan Luat, penduduk Banjar Karangdalem I, Desa Bongkasa Pertiwi, Kecamatan Abiansemal dalam perbincangan dengan pewarta LenteraEsai (SE) pada Sabtu siang, 12 Juni 2021 di pelataran rumahnya.

Dengan wajah berbinar-binar didampingi istrinya Ni Made Musi, Wayan Luat berceritera tentang awal kisahnya menjadi guru. Lelaki yang dikaruniai empat anak dan enam cucu itu menerangkan, ia tamat Sekolah Teknik Negeri (STN) Denpasar tahun 1963. Lulus STN, sempat bekerja di proyek pembangunan Hotel Bali Beach (HBB) Sanur.

Selain bekerja di proyek, ia juga mengaku pernah melakoni sebagai pedagang telur itik dan membuka warung, sebelum menjadi guru. “Saya berjualan telur bebek ke Mengwi, langganan (pembeli) punya usaha penetasan telur. Sekali bawa 200 butir, diangkut pakai sepeda gayung. Dari sini ke Mengwi lumayan jauh. Pagi-pagi buta sudah berangkat, agar terhindar dari panas terik matahari,” ujarnya, mengisahkan.

Telur-telur dibeli dari peternak itik yang ada di kampungnya, Karangdalem I, dan kampung-kampung lain sekitarnya. Ada pula yang membawakan dari Desa Tanggayuda, Gianyar seberang Tukad Ayung. Tetapi akhirnya pekerjaan proyek dan berjualan telur bebek harus ditinggalkannya, karena ada kesempatan ikut Kursus Guru Kilat dan meniti karier menjadi guru, yakni sebagai pegawai negeri sipil (PNS) melalui proses.

Ia mengatakan, setiap pekerjaan dijalaninya dengan sungguh-sungguh, bersemangat dan senang hati. Setelah menyandang predikat guru, Wayan Luat mulai dengan kehidupan babak baru. Waktu itu di SD belum ada guru bidang studi. Melainkan semua guru kelas. Artinya setiap guru memegang satu kelas, memborong semua mata pelajaran. Maka guru ketika itu harus ‘all round’, yakni bisa mengajar semua mata pelajaran.

“Setelah berjalan beberapa bulan, kami guru eks Kursus Guru Kilat, dapat lagi pendidikan lanjutan. Yakni pendidikan SGB (Sekolah Guru Bawah), sejenis penyetaraan,” katanya.

Luat mengaku sangat menyenangi profesi guru. Sebagai guru muda ia sangat bersemangat. Tiap hari menggenjot sepeda pancal merek Simking pergi pulang (pp) sekolah, menempuh jarak kurang lebih dua kilometer. Namun, kata dia, kondisi jalan belum sebagus sekarang.

Gajinya sebagai tenaga pendidik ketika itu hanya Rp 300 ribu. Tergolong kecil, walau untuk hidup di wilayah pedesaan. Tetapi tetap dia mensyukuri dan bangga bisa menjadi guru. Apalagi kalau ilmu yang ditransfer kepada murid-murid, bisa diterima. Senang kalau berjumpa murid atau disapa mantan murid di luar sekolah.

“Beberapa orang mantan anak didik saya, malah sampai menjadi dosen. Mereka rata-rata ingat pada gurunya. Kalau ketemu menyapa dan mengucapkan terima kasih,” katanya, sambil melempar senyum riang.

Lantaran gaji kecil, Luat mengaku sempat putar otak untuk mencari tambahan uang dapur. Pilihannya jatuh pada tukang foto keliling atau panggilan. Bermodal sebuah kamera merek Toshiba yang dibeli seharga Rp 60 ribu, Luat memulai pekerjan sampingan sebagai tukang foto. Pekerjaan ini dilakoninya selepas mengajar di sekolah.

Ia mengatakan, tidak pernah meninggalkan tugas dan kewajiban sebagai pendidik untuk mencerdakan anak bangsa. “Tidak pernah saya bolos dari tempat tugas mengajar. Karena itu tugas negara. Saya motret selepas mengajar,” ucapnya, menandaskan.

Tidak hanya di seputar desanya, Luar keliling  memotret hingga ke daerah Payangan, Gianyar. Kebetulan waktu itu sudah punya sepeda motor, sehingga gerakannya lebih lincah. Hasil motret lumayan untuk sedikit bisa nabung, hingga kemudian Luat berani untuk menikah, mempersunting gadis pujaannya, Ni Made Musi dari Tanggayuda, Gianyar.

Singkat cerita, Luat kini sudah pensiun sejak beberapa tahun lalu, yakni sejak usianya menginjak 60 tahun. Tercatat ia berdinas selama 40 tahun, terhitung sejak diangkat menjadi PNS. Dalam menjalani hari-harinya setelah pensiun, ia selalu menjaga kesehatan fisik dan mentalnya. Jalan-jalan ke ladang dan sebagainya.  (LE/Ima)

Pos terkait