Badung, LenteraEsai.id – Menyambut pergantian tahun Saka 1942 ke 1943, krama Desa Adat Jempeng, Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung pada Kamis sore, 11 Maret 2021, melaksanakan upacara melasti.
Ritual yang bermakna penyucian Bhuana Agung (makrokosmos) dan Bhuana Alit (mikrokosmos) itu, tidak dilakukan dengan beriring-iringan ke pantai atau ke sumber air lainnya, melainkan cukup digelar di lingkungan pura, yakni di Pura Tegalsuci.
Hal tersebut dilakukan sesuai dengan surat edaran MDA dan PHDI Provinsi Bali yang mengimbau kegiatan melasti sebaiknya dilakukan dengan cara ‘ngubeng’ karena Virus Corona kini masih terus mewabah.
Sehubungan digelar di Pura Tegalsuci, krama kemudian mengambil air suci di mata air di pinggir Sungai Ayung. Setelah dipuja mantra oleh pemimpin upacara, air suci (tirta) tersebut kemudian secara simbolik digunakan menyucikan Pratima (Stana Bhatara/Dewa) yang disungsung di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Jempeng. Tirta itu pula dipercikkan kepada umat (krama) setempat.
“Sekarang karena sedang pandemi Covid-19, kami tidak ngiring Sesuhunan melasti ke segara (laut). Sebelum-sebelumnya pernah kami laksanakan melasti ke luat,” kata Bendesa Adat Jempeng I Ketut Jenar, di sela-sela ngayah persiapan upacara.
Sebelum upacara melasti digelar, didahului mendak tirta (air suci) ke mata air di tepi Sungai Ayung dengan medan cukup terjal. Sehingga harus sangat hati-hati agar tidak terpeleset. Kembalinya juga sangat menantang dan menguras tenaga.
Petugas yang mendak tirta, dua orang krama, yakni prajuru dan Jro Mangku Dalem. Upacara melasti di Pura Tegalsuci dimulai pukul 14.00 Wita, dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan (prokes). Setelah selesai melasti, Ida Bhatara distanakan di Balai Agung, nyejer dua hari.
Upacara melasti juga dirangkaikan dengan upacara mawinten (penyucian) dan majaya-jaya dua kelian banjar adat yang terpilih kembali untuk masa jabatan kedua (2021-2026). Yaitu Kelian Banjar Adat Jempeng, I Made Ekajaya, dan Kelian Banjar Adat Jempeng Kauh, I Made Subaga.
Upacara mewinten dan mejaya-jaya dipimpin Jero Mangku Kahyangan Tiga, Desa Adat Jempeng. Sementara keseluruhan kegiatan dikoordinasikan Bendesa Adat Jempeng, I Ketut Jenar. (LE-Ima)







