DenpasarHeadlines

Masa Pandemi, Tepis Virus Covid-19 dengan Transaksi QRIS

Denpasar, LenteraEsai.id – Pandemi Covid-19 (SARS-CoV-2) hingga kini masih membayangi penduduk bumi, dengan rentetan ketakutan menginfeksi manusia dikarenakan virus ini akan menyebar melalui droplet
pernafasan. Percikan bersin atau batuk dari orang yang sudah terinfeksi Covid-19 akan menempel pada benda, selanjutnya dapat dengan mudah berpindah menjadi rangkaian fase penularan melalui kontak fisik atau sentuhan pada benda bersangkutan.

Mudahnya fase penularan Covid-19, membuat pihak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta semua orang supaya segera mencuci tangannya dengan sabun, khususnya usai menyentuh atau bertransaksi menggunakan
uang tunai.

Menyikapi kondisi ini, selanjutnya WHO merekomendasikan bahwa pada masa pandemi Covid-19 dan memasuki masa New Normal, semua orang hendaknya menggunakan sistem pembayaran ‘digital payment’ yang bersifat’contactless’.

“QRIS (Quick Response Indonesia Standard) ialah metode pembayaran digital yang bersifat contactless sehingga sangat tepat digunakan oleh warga dan pelaku UMKM untuk mendukung ekonomi Bali Bangkit. Akselerasi implementasi QRIS juga sejalan dengan inovasi model bisnis yang bergeser mengikuti prinsip protokol kesehatan dan memenuhi aspek bersih, sehat dan aman,” ujar Trisno Nugroho selaku Kepala Bank Indonesia Provinsi Bali, baru-baru ini.

Trisno Nugroho meneruskan, guna mendorong akselerasi QRIS, Bank Indonesia juga memperpanjang masa berlaku MDR QRIS 0% khusus untuk merchant dengan kategori Usaha Mikro (UMI) hingga 31 Desember 2020 mendatang.

Langkah ini ini diharapkan dapat meminimalkan ‘transaction cost’ oleh merchant UMKM sekaligus sebagai buffer di tengah kondisi pelemahan ekonomi akhir-akhir ini. Saat ini layanan terintegrasi antara logistik, ride hailing ecosystem, kuliner, e-commerce serta digital marketing sudah terfasilitasi dengan pembayaran digital melalui QRIS termasuk kegiatan transfer dana juga dapat memanfaatkan QRIS.

Per 27 Oktober 2020, jumlah merchant yang sudah menerapkan digitalisasi pembayaran berbasis QRIS di Provinsi Bali tercatat sebanyak 149.266 merchant, atau meningkat 486% bila dibandingkan dengan jumlah
merchant pada akhir tahun 2019 (ytd). Ekspansi jumlah merchant tersebut mampu meningkatkan penggunaan transaksi digital berbasis QRIS di masyarakat, dengan jumlah transaksi lebih dari 60 ribu transaksi
dan nilai nominalnya mencapai Rp 11,93 miliar pada akhir Agustus 2020 di mana 70% berasal dari transaksi pada usaha mikro, kecil dan menengah.

“Momentum Covid-19 telah memaksa lompatan quantum digitalisasi yang selama ini terlihat linier bergerak. Model bisnis QRIS yang menawarkan solusi offline to online diharapkan dapat mendukung geliat aktivitas UMKM di Bali. Kami berharap inisiatif digital payments ini dapat bermanfaat bagi
seluruh pihak,” ujar Trisno Nugroho menegaskan.

Sementara itu, Putu Sudi Adnyani pemilik Bara Silver mengatakan, sejak masa pandemi pihaknya sudah menerapkan transaksi digital melalui QRIS Bank Indonesia. Langkah ini dilakukan, mengingat sejumlah pemberitaan menyebutkan bahwa merebaknya Covid-19,  salah satunya disebabkan dari peredaran uang yang sudah diterinfeksi virus.

“Kami kan takut pegang uang selama masa pandemi ini, sehingga sangat terbantu dengan adanya transaksi digital QRIS. Peralatan penunjang pun sudah disiapkan di gerai dan workshop untuk aplikasi transaksi QRIS,” ujar pelaku usaha asal Gianyar ini.

Sudi Adnyani melanjutkan, selama melakoni usaha perak kurang lebih  berjalan selama 18 tahun, baru kali ini pihaknya merasa takut memegang uang. Jadi kehadiran QRIS, benar-benar menjadi solusi atas ketakutan yang selama ini dirasakannya. Begitu juga yang dialami pelaku UMKM lain, yang merasa terbantu dengan hadirnya QRIS sebagai penepis agar terhindar dari Virus Covid-19.

“Manfaat pakai QRIS selain dengan tujuan agar terhindar dari Covid-19, juga praktis karena kita tidak perlu menyediakan uang kembalian. Tidak seperti transaksi konvensional yang menggunakan uang tunai langsung, sehingga selalu menyiapkan uang kembalian. Makanya saya sangat setuju transaksi QRIS ini diterapkan di pasar-pasar tradisional sehingga penyebaran Covid-19 makin bisa diminimalisir,” ujarnya.

Diharapkan, lanjut Sudi Adyani, agar sosialisasi QRIS kian digencarkan di masyarakat sehingga warga makin terbiasa untuk bertransaksi digital. Selain itu, diharapkan nilai maksimal transaksi QRIS lebih ditingkatkan, karena sekarang di kisaran Rp 2 juta.

“Sebagai contoh, di bisnis perak saya kan ada  produk yang harganya murah hingga mahal,  tergantung tingkat kerumitan desain dan penggunaan bahan baku. Nah,  semoga nilai transaksi QRIS ditingkatkan lagi, sehingga harga produk yang tinggi di atas Rp 2 juta  tetap bisa terkover QRIS,” ucapnya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pada acara peluncuran QRIS menyebutkan bahwa QRIS merupakan satu-satunya QR yang berlaku di Indonesia.

“Tujuan BI membuat QRIS ialah memperlancar sistem pembayaran non-tunai atau transaksi digital yang dilakukan secara aman dan lancar. Selain itu,  bertujuan memajukan UMKM dan mendorong inklusi keuangan digital di Tanah Air,” ujar Perry Warjiyo.

Perry Warjiyo meyakini bahwa transaksi digital ini memiliki potensi untuk makin berkembang. Selain terkait adanya perubahan perilaku warga di masa pandemi yang menginginkan bertransaksi secara bersih, aman dan sehat, juga dilihat pertumbuhan perangkat digital yang masif di kalangan generasi milenial. (Tri Vivi Suryani)

Lenteraesai.id