BKSDA Jadikan Lari Lintas Alam Tambahan Fungsi Kawasan Konservasi

BKSDA jadikan lari lintas alam tambahan fungsi kawasan konservasi
Kepala BKSDA Bali Ratna Hendratmoko membahas pemanfaatan kawasan konservasi di Gunung Batur untuk sport tourism lari lintas alam, Denpasar, Sabtu (9/5/2026). ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari

Denpasar, LenteraEsai.id – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali menjadikan ajang lari lintas alam sebagai tambahan fungsi kawasan konservasi.

“Iya pasti penambahan fungsi, pariwisata menjadi sesuatu yang harus kita dukung di Bali, dan kawasan konservasi bukan hanya melarang, sesuai peruntukannya taman wisata alam bisa dimanfaatkan,” kata Kepala BKSDA Bali Ratna Hendratmoko di Denpasar, Sabtu.

Bacaan Lainnya

Ia menyampaikan hal ini sebagai dukungan kepada perkumpulan Bali Trail Running (BTR), di mana ajang sport tourism yang akan mereka gelar melintasi Taman Wisata Alam Gunung Batur Bukit Payang yang secara regulasi tidak melarang untuk pengunjung menikmati alam.

Jika diperhatikan, katanya, dalam ajang ini ratusan pelari bahkan memilih rute sepanjang 100 kilometer dengan batas waktu tempuh 34 jam. Hal ini menandakan lari lintas alam sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

“Saya kira kawasan-kawasan konservasi baik hutan lindung maupun hutan konservasi memang harus mampu beradaptasi pengelolaannya dengan gaya hidup seperti ini dan bagaimana kita mampu beradaptasi dengan regulasi, jangan sampai seakan-akan obral kawasan padahal ini diperuntukkan dengan sesuai” ujarnya.

Pada ajang lari lintas alam MyBCA BTR Ultra 2026 itu, terdapat kategori jarak jauh yang berlari dari Gunung Batur ke Gunung Agung.

Ia mengatakan di kawasan Gunung Agung terdapat area berstatus hutan lindung, sehingga melalui antusias ajang ini pemerintah menaikkan status menjadi kawasan konservasi atau taman nasional, dengan demikian Bali akan memiliki taman nasional di dataran tinggi.

Dengan mengembangkan sport tourism di kawasan taman wisata alam ini, ia juga mengingatkan bahwa akan ada penerimaan negara bukan pajak yang bisa diterima dari masuknya peserta di kawasan, serta dampak ekonomi dari usaha masyarakat setempat.

“Saya kira kawasan konservasi manfaatnya bukan hanya untuk jargon konservasi perlindungan, tapi untuk masyarakat karena masyarakat yang ikut mendukung, menjaga, melestarikan kawasan konservasi, kalau konservasi hanya miliknya kami, kami gagal sebab konservasi milik bersama,” kata dia.

Ketua Perkumpulan BTR I Made Budiana menambahkan pada penyelenggaraan lari lintas alam ke-7 di Kabupaten Bangli ini mereka menekankan bahwa olahraga ini memberi dampak tidak hanya kegembiraan bagi pelari namun penjagaan kepada lingkungan alam.

“Daerah yang kita lalui ini paling tidak kita bisa kontrol, dari pengalaman kita, tiap saat kita bisa lihat kondisinya, kita akan sadar kalau ada orang yang merusak lingkungan,” ucapnya.

Ia mencontohkan ketika awal lari lintas alam ini berkembang para anggota komunitas sering menemukan aktivitas penebangan, mendengar suara alat berat, dan oknum yang menebar jaring tanpa diketahui tujuannya.

“Tapi begitu kami sering-sering lewat sana, semakin hari semakin berkurang, makin tidak ada, lalu saya ke Gunung Agung lihat jalur-jalur ada orang menarik kayu dari atas tapi setelah kami sering naik akhirnya berkurang dan bahkan saat ini sudah tidak pernah kami temukan lagi,” katanya.

Selain membantu BKSDA Bali memantau aktivitas di kaldera, komunitas menekankan penjagaan lingkungan dalam hal sampah, di mana 5.916 peserta lari dari berbagai negara dilarang membuang sampah sembarangan.

Mereka bahkan memproduksi jersei lari dari 80 persen bahan daur ulang guna mempertegas dukungan terhadap sport tourism yang peduli kelestarian alam.

Ajang lari lintas alam ini berlangsung pada 15-17 Mei 2026 dengan kategori jarak 7K, 18K, 30K, 60K, dan 100K dengan waktu tempuh maksimal bagi kategori paling jauh 34 jam.

Tak hanya Gunung Batur, para pelari juga akan melintasi Gunung Abang dan Gunung Agung yang merupakan gunung tertinggi di Bali. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait