HeadlinesKlungkungNews

Kemunculan Ular ‘Duwe’ di Goa Lawah Banyak Timbulkan Tanda Tanya ‘???’

Klungkung, LenteraEsai.id – Kumunculan ular raksasa yang dipercayai sebagai ‘duwe’ di Pura Goa Lawah Klungkung, Bali, kini banyak menimbulkan pertanyaan tentang pertanda apa yang bakal terjadi di seantero jagat, khususnya di Pulau Dewata.

Uniknya, begitu keluar dari mulut goa, ular langsung masuk ke dalam tempayan atau gentong yang biasa dipakai tempat tirta di Pura Goa Lawah. Ular bagai sedang mandi mencelupkan diri ke dalam gentong berisi air suci tirta tersebut.

Kemunculan ular jenis piton sepanjang lebih dari 3 meter dari mulut goa yang dipenuhi kelelawar pada Senin (11/5/2020) lalu itu, tergolong peristiwa yang cukup langka, sehingga tak heran bila kemudian menimbulkan penafsiran yang beragam.

Tidak sedikit warga yang kemudian mengkaitkannya dengan wabah penyakit yang kini tengah merundung Bali bahkan dunia, yakni ‘serangan’ Virus Corona atau Covid-19. Banyak kalangan yang menduga virus tersebut akan semakin mewabah, sebaliknya tidak kurang juga jumlahnya yang menduga bahwa Covid-19 akan segera sirna.

“Kuat dugaan Virus Corona akan secepatnya sirna dari Bumi Dewata setelah ‘duwe’ di Pura Goa Lawah ‘medal’ sebagai pertanda ‘Beliau’ ‘mececingak’ terhadap umatnya yang lagi kesusahan akibat wabah virus yang sangat meresahkan itu,” kata Jro Mangku Tastra, tokoh spiritual asal Rendang, Kabupaten Karangasem saat dihubungi, Selasa (12/5) siang.

Pendapat sebaliknya datang dari Jro Komang Danu, penekun spiritual asal Kintamani, Kabupaten Bangli yang mengatakan bahwa dampak dari Covid-19 akan menjadi semakin parah. “Ular ‘duwe’ muncul untuk mengingatkan kita agar lebih waspada,” katanya, menandaskan.

Sementara sulinggih yang malang melintang menekuni dunia theologi, Ida Cri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, melihatnya sebagai fenomena alam yang erat hubungannya dengan situasi kekinian, di mana dunia sedang bergolak dengan kondisi yang begitu ‘panas’.

Panasnya dunia tidak hanya dirasakan akibat adanya pembantaian orang-orang tak berdosa di sejumlah negara, tetapi juga yang lebih terasa lagi ialah munculnya wabah Covid-19. Menurut Ida Bhagawan, wabah ini tidak hanya telah merenggut nyawa manusia dalam jumlah yang tidak sedikit, tetapi juga memporak-porandakan sendi-sendi perekonomian dunia.

“Ini betul-betul ‘panas’. Sebagai pertanda, dari Pura Goa Lawah tidak hanya ‘medal’ ular berukuran besar, tetapi juga kera-kera yang ada di kawasan perbukitan itu beramai-ramai turun ke kawasan pura bahkan ke jalan raya,” ujar Ida Bhagawan, menjelaskan.

Puluhan kera yang selama ini hidup di kawasan perbukitan yang menjulang di sebelah utara Pura Goa Lawah, turun ke kawasan pura juga sebagai pertanda ‘panas’. Mungkin beberapa jenis binatang lain juga ikut turun, hanya saja kurang mendapat perhatian dari umat yang ‘tangkil’ ke pura tersebut.

Ida Bhagawan menyebutkan, bila binatang, terlebih yang melata keluar dari habitatnya, adalah suatu pertanda bumi sudah tua dan penuh ‘kepanasan’. Ini tidak lain sebagai akibat dari amburadulnya tatanan kehidupan masyarakat.

Amburadulnya tatanan kehidupan masyarakat dengan semakin merosotnya moralitas, merupakan ciri-ciri bahwa dunia telah masuk ke dalam zaman ‘rugha sanghara kali’, ujar Ida Bhagawan.

Dalam lontar Pranatha Masa Kali Sanghara Ida Dalem Waturenggong, disebutkan: “Ri wekasan akweh wwang tan wruh ring kalinggan lan kawanganta, apan keliput Rugha sanghara kali ikang jagat, sura pandita widagda hina dina anglayaping daneswara, akweh wwang imilati parajana, pada angrebut cengilan sor, akweh wwang ngaku-ngaku ratu lan angasi-asih ring parabala, sang mahawira angrbut ikang kuasa, akweh wwang tan wruh ring sastra utawi sudra lan daridra mandita lan samacad ikang sastra,sira nanak piwal ring bapa, japa mantra tanpesari, satmiya kumbang ngisep bacin. iki cihna angresik ikang bhuwana, satus kang tumbaling pati, lima kang urip, elingakna ayuwa lali, ayuwa lupa ripta raja purana, ika
bhaktinin, bhakti ring hyang widhi, tresna ring kadang kulawarga, sih ring sarwa bhuta”.

Artinya, kata Ida Bhagawan, “Di kemudian hari banyak orang tidak tahu asal-usul dan tata krama, sebab sudah dirangsuki zaman kehancuran, kekacauan dan kepanasan. Seorang kesatria, para panditha dan orang terpelajar menghambakan diri kepada orang-orang kaya. Banyak orang saling berebut dengan sesama, pada mengambil hak dan kewajiban orang lain. Banyak orang mengaku-ngaku jadi Raja, mengemis dan meminta- minta sama rakyatnya, dan orang-orang pinter berebut kekuasaan. Banyak orang tidak memahami sastra agama menjadi Pendeta, akibatnya banyak sastra agama diabaikan. Anak-anak menentang dan menakuti orang tua, puja-puja tidak mumpuni, seperti kupu-kupu menghisap kotoran. Inilah ciri-ciri bhuwana agung dibersihkan, satu sebagai tumbal kematian, hanya lima orang yang hidup, ingatlah dan catat pesan ku ini.” (LE-YS)

Lenteraesai.id