Pedawa, sebuah Desa Bali Aga yang Tetap Mampu Mempertahankan Warisan Leluhur

LESTARI - Rumah tradisional warisan leluhur yang masih lestari di Desa Pedawa (Foto: LenteraEsai/Anom Wijaya)

Banjar, LenteraEsai.id – Pedawa, adalah sebuah desa di wewengkon desa tradisional Bali Aga. Desa tua yang terletak di ketinggian sebuah bukit itu masuk ke dalam wilayah Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali bagian utara.

Kontur daerah yang berkemiringan, berteras sering dan berelief itu, membuat wajah Desa Pedawa begitu elok dan bersahaja. Terlebih, di berbagai pojok desa masih cukup banyak warga yang mampu mempertahankan bentuk bangunan tempat tinggal yang khas Bali Aga, menjadikan desa ini memiliki daya pikat tersendiri.

Bacaan Lainnya

Selain Pedawa, sederet desa tetangganya yang masuk ke dalam wilayah desa ‘buhun’ Bali Aga adalah Sidatapa, Tigawasa dan Cempaga, yang bertengger di bagian lereng dan puncak perbukitan ‘mungil’ di wilayah Kecamatan Banjar tersebut.

Antusiasne warga Desa Pedawa sangat tinggi dan tak pernah lekang oleh waktu untuk melestarikan warisan budaya leluhurnya yang sudah ada sejak akhir abad kesepuluh. Rumah adat yang disebut Bandung Rangki, Sri Dandan dan Mesegali, hingga kini masih ajeg di desa tradisional itu.

Sederet bangunan tua yang masih tetap bertahan dan kokoh berdiri di Desa Pedawa, merupakan local genius yang patut dibanggakan dari sekian banyak situs, ritus jejak petilasan ragam budaya yang ada di Bumi Nusantara.

Rumah adat Bandung Rangki bermuasal dari kata Bandung, yang memiliki arti berhadapan atau bersaing, dan Rangki yang artinya penyekat atau pembatas. Nama lain dari rumah Bandung Rangki adalah Ngetimang atau Sri Rerod, dibangun dengan 16 tiang penyangga pokok berbentuk tebasan prisma segilima.

Layaknya peninggalan leluhur, hingga kini rumah adat Bandung Rangki dibiarkan berlantai tanah, tiang bangunan ditopang sendi di atas bataran, lengkap dengan undak-undakan tumpukan batu padas dan batu bulitan dengan sentuhan polpolan atau polesan tanah liat.

Bagian dinding bangunan adalah anyaman bambu yang disebut bedeg ulatan belimbingan di bagian depan rumah, serta ulatan kenyiri umah-umahan untuk bagian samping dan balakang rumah yang bangunan tanpa jendela. Atap terbuat dari genteng bambu, atau ada juga yang dari anyaman ilalang, daun kelapa atau selipir.

Sementara rumah adat Mesegali dibangun berbentuk kubus bertiang 14, dan untuk rumah adat Sri Dandan dilengkapi 12 tiang pokok. Kedua rumah adat ini difungsikan sebagi tempat melangsungkan acara keagamaan, adat istiadat, memasak dan membuat gula aren.

Menariknya, untuk membuat gula aren yang juga disebut gula merah itu, penduduk Desa Pedawa tidak melakukannya secara sembarangan, melainkan harus mencari ‘dewasa ayu’, yakni hari baik. Itu sebabnya, gula aren Pedawa dikenal memiliki cita rasa khas, manis, gurih dan legit yang tidak ada tandingannya.

Berbeda halnya bila dibuat pada hari sembarangan, cita rasanya tidak akan senikmat itu, melainkan akan sama saja seperti rasa gula aren yang diproduksi di daerah-daerah lainnya di Bali, atau bahkan di luar Bali, ujar beberapa warga pembuat gula merah di Desa Pedawa.

Perbekel Desa Pedawa Putu Mardika SH ketika ditemui di kediamannya, Minggu (5/3/2023), menyatakan sangat bersyukur diberi kesempatan untuk mengabdikan diri dalam merajut anugerah semesta alam demi pembangunan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di Desa Pedawa.

“Kami tidak lagi bangga dengan sebutan desa yang berkarakter keras hanya demi sebuah tepukan dada. Kami hanyalah sebutir debu di hadapan Ida Sang Hyang Paraning Dumadi,” ujar Perbekel yang sudah sejak setahun silam memimpin Desa Pedawa.

Hamparan pohon cengkeh, durian, manggis, kopi robusta dan persawahan dengan teras sering yang indah dipandang mata, merupakan anugerah yang tiada taranya bagi warga masyarakat setempat. Keseimbangan dan hubungan harmonis antarsesama manusia, dengan alam dan dengan Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan konsep Tri Hita Karana, sangat dijunjung tinggi sebagai budaya adi luhung oleh masyarakat Pedawa.

Gencarnya gempuran pola hidup moderenisasi tidak pernah menggoyahkan rasa kegotongroyongan warga dalam proses tata kelola pembangunan dan menjaga peradaban sebagai Desa Bali Aga atau Bali Mula guna menyokong visi pembangunan Pemerintah Provinsi Bali ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’, ujar Putu Mardika, penuh semangat.

Luas wilayah Pedawa yang dulunya pernah bernama Desa Gunung Tambleg adalah 1.668 Ha dengan jumlah penduduk 5.744 jiwa. Sebagian besar dari mereka hidup sebagai petani dan perajin dengan penuh kesederhanaan dan kesahajaan, yang seakan menyiratkan makna mustika kehidupan.

Selain sempat benama Desa Gunung Tambleg, yang artinya sebuah desa yang bercokol di pegunungan udik, Pedawa juga dijuluki Desa Gunung Sari. Namun, sebutan Pedawa untuk Desa Gunung Sari hanya digunakan dalam upacara-upacara keagamaan saja.

“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih jika ke depannya Pemerintah Kabupaten Buleleng, atau pemerintah provinsi dan pusat, dapat memfasilitasi pembangunan atau perawatan kompleks rumah adat yang sudah kami warisi turun-temurun sejak berabad-abad lalu,” kata Sekretaris Desa Pedawa, Made Warsita Kusuma, menambahkan. Pernyataan Sekdes ini diamini oleh Perbekel dan 6 Kelian Banjar Dinas di desa setempat.

Di samping nuansa tradisional yang tetap lestari di desa tua tersebut, Pedawa juga kini sedang menggenjot aneka pembangunan desa berbasis data digital SDGS sebagai ujung tombak, guna terwujudnya desa membangun bangsa dengan segala kearifan lokal yang dimiliki.

“Marilah berkreasi tanpa batas atas tuntunan Ida Sang Hyang Widhi Wasa demi peradaban generasi berikutnya yang lebih baik di sisa hidup kita ini, dengan tanpa mengesampingkan nilai-nilai local genius,” ujar Perbekel Desa Pedawa, menutup pembicaraan. (LE-Anom Wijaya)

Pos terkait