Wagub Cok Ace Saksikan Prosesi ‘Mapepada Wewalungan’ di Pura Semeru

Persembahyangan dalam prosesi Mapepada Wewalungan di Pura Mandara Giri Semeru Agung. (Foto: Dok Humas Pemprov Bali)

Lumajang, LenteraEsai.id – Wakil Gubernur Bali Prof Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) didampingi Kapolres Lumajang AKBP Dewa Putu Eka D SIK MH dan Camat Lumajang Dedwi Suprapto, menyaksikan prosesi ‘mapepada wewalungan’ yang dipuput Ida Pedanda Selat Duda, serangkaian karya pujawali di Pura Mandara Giri Semeru Agung, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur pada Selasa (12/7).

Prosesi ‘mapepada wewalungan’ merupakan penyamaan terhadap roh hewan (kambing, kerbau, babi dan kura-kura) yang akan digunakan untuk sarana upakara. Dengan mapepada diharapkan arwah dari hewan yang digunakan untuk upakara, ketika lahir kembali mengalami kenaikan tingkat atau tidak menjadi hewan kembali. Selain itu, banten yang digunakan juga terbuat dari janur, dan bahan lainnya sebagai sarana upakara.

Bacaan Lainnya

Tampak istri dari Wagub Bali Ny Tjok Putri Hariyani Ardhana Sukawati (Ny Cok Ace) dan putra pertamanya turut serta mengikuti prosesi mapepada wewalungan yang mengitari Pura Mandara Giri Semeru Agung sebanyak tiga kali.

Sebelum dilaksanakan upacara mapepada wewalungan, segenap umat Hindu yang ada di Lumajang dan juga dari Bali secara guyub mengisi rentetan karya dengan tari rejang dewa, wirayuda dan topeng.

Prosesi mapepada wewalungan ini dilaksanakan sehari sebelum puncak karya pujawali di Pura Mandara Giri Semeru Agung yang diharapkan mampu membersihkan jagad raya secara sekala dan niskala. Setelahnya, puncak karya dilaksanakan pada Buda Kliwon Wuku Pahang (13/7) besok, akan dilanjutkan pujawali nyejer selama sebelas hari.

Seperti diketahui, mapepada adalah upacara penyucian yang dilaksanakan sebelum memotong hewan yang hendak digunakan untuk upacara yadnya sehingga terhindar dari Ahimsa Karma.

Dengan mapepada diharapkan arwah dari hewan yang digunakan untuk upakara, ketika lahir kembali mengalami kenaikan tingkat atau tidak menjadi hewan kembali.

Upacara yang dipimpin Ida Pedanda Djelantik Giri dari Selat Duda itu juga mengambil langkah untuk tetap melaksanakan upacara Nganyarin secara bergilir dari masing-masing kabupaten dan kota se-Bali selama 11 hari tersebut.  (LE-LM1)

Pos terkait