Kisah Nestapa Tukang Pijat di Bugbug, Hidupi Anak Difabel Dalam Himpitan Ekonomi

Pasangan Nengah Suparta (44) dan Komang Kariasih (43) dan kedua anaknya, yang tinggal Banjar Samuh, Desa Bugbug, Karangasem (Foto: Dok LenteraEsai)

Karangasem, LenteraEsai.id – Kehidupan ‘tersengal-sengal’ karena himpitan ekonomi dijalani pasangan suami-istri I Nengah Suparta (44) dan Ni Komang Kariasih (43) yang tinggal Banjar Samuh, Desa Bugbug, Kecamatan dan Kabupaten Karangasem.

Ni Komang Kariasih sehari-hari menawarkan jasa sebagai tukang pijat di Pantai Candidasa, sedangkan suaminya bekerja sebagai buruh bangunan. Akan tetapi, dikarenakan situasi pandemi Covid-19, Nengah Suparta sudah lama tidak mendapatkan panggilan untuk menangani proyek membangun rumah atau servis bangunan.

Bacaan Lainnya

“Suami sudah dua tahun lebih menganggur karena pandemi ini. Biasanya dapat penghasilan sekitar Rp90 ribu per hari, sekarang nihil. Kalau saya mecik orang, dapat upah sekitar Rp70.000 atau Rp 80.000 dari wisatawan yang ingin dipijat. Tapi kan sekarang di Candidasa sepi sekali tamunya,” ujar Kariasih dengan wajah sedih ketika ditemui pewarta LenteraEsai baru-baru ini.

Dia melanjutkan, dengan seretnya penghasilan dari suaminya sebagai buruh bangunan maupun dirinya sebagai tukang pijat, membuat keluarga ini sempat kelimpungan dan hanya makan sekadarnya untuk kelangsungan hidup sehari-hari. “Saya memiliki dua orang anak yang harus dihidupi. Anak pertama Gede Widiantara (20) dalam keadaan difabel, lalu sebenarnya ada anak kedua Nengah Suputra, tapi telah meninggal dalam usia 2 tahun karena kesetrum listrik. Dan anak selanjutnya ialah Nyoman Indrawan yang kini berumur 9 tahun,” ujar Kariasih.

Mengenai anak pertamanya yang dalam keadaan difabel, kata Kariasih, harus senantiasa ada yang mengawasi. Dikarenakan suka keluyuran keluar rumah, atau berkeliaran di jalan-jalan tidak karuan. Kadang ke rumah tetangga, lalu melempari sumur tetangga dengan berbagai macam barang yang ditemukan. “Kalau tidak diawasi, Gede ini suka memakan apa saja yang dilihatnya. Mungut di tanah, langsung dimasukkan mulut,” ujarnya.

Upaya pemulihan Gede sudah dilakukan, dengan memasukkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli beberapa bulan lalu. Akan tetapi, di RSJ kondisi Gede justru menurun karena memang tidak bisa makan sendiri, sehingga hampir selama 2 hari lemas tidak makan. Akhirnya keluarganya mengalah, memilih tinggal di rumah kos di dekat RSJ untuk bisa ikut menjaga Gede. Namun, langkah ini membuat pengeluaran membengkak karena setiap hari harus membeli makanan, termasuk membayar rumah kos bulanan.

“Akhirnya Gede diboyong pulang lagi. Sekarang wajib minum obat 3x sehari sehingga tidak pernah keluyuran dan bisa tenang di rumah. Meski demikian, tetap harus ada yang mengawasi. Saya tidak tega meninggalkan anak saya sendirian di rumah karena dia suka memungut apa saja yang ada di tanah untuk dimakan. Karena harus jagain anak, saya tidak bisa maksimal juga bekerja sebagai tukang pijat. Saya sedih, situasi pandemi begini, suami lama menganggur, saya gak bisa kerja. Baru-baru ini suami ada panggilan, tapi kan tidak bisa tiap hari kerja, mengingat perekonomian warga belum pulih sehingga jarang orang bangun rumah,” katanya.

Kariasih berharap ada bantuan pemerintah, supaya hidupnya tidak terlampau sulit dijalani. “Moga ada bantuan bulanan misalnya sembako atau uang tunai dari pemerintah supaya keluarga kami tidak terlampau susah begini,” ujar Kariasih berharap, didampingi Nengah Suparta. (LE-KR)

Pos terkait