Badung, LenteraEsai.id – Dr Fadli Syamsudin dari BPPT BRIN menyampaikan kuliah umum secara online yang diikuti para mahasiswa Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) Universitas Udayana (Unud) pada Kamis (24/2).
Topik yang diangkat pada kuliah umum yang diikuti 48 mahasiswa itu adalah ‘Kondisi Fisik Benua Maritim Indonesia: Potensi, Bencana, dan Adaptasinya’. Kuliah umum ini merupakan bagian dari pembelajaran pada mata kuliah Pemodelan Oseanografi.
Pada pemaparannya, Dr Fadli Syamsudin menyatakan, Indonesia merupakan satu-satunya negara dengan pulau terbanyak yang dikelilingi laut. Selain itu, Indonesia juga dilewati oleh Global Conveyer Belt atau pola sirkulasi dunia yang dibentuk oleh suhu dan salinitas. Siklus tersebut terbentuk selama 50-60 tahun.
Keberadaan pola sirkulasi itu nantinya akan mempengaruhi iklim serta menciptakan ITF (Indonesia Through Flow). “Perubahan suhu 1°C saja pada perairan laut Indonesia dapat mempengaruhi iklim dunia,” imbuhnya.
Gelombang Kelvin yang merupakan suatu gelombang dengan skala planet yang memiliki panjang 5.000-7.000 km dan lebar 200-300 km, menjadi topik khusus yang ditekankan pada kuliah umum kasli ini. Gelombang ini menjadi penting karena bergerak mengitari planet dengan membawa suhu air yang panas dan dapat menyebabkan kenaikan muka air laut.
“Keberadaan Gelombang Kelvin dapat mengganggu sistem budidaya atau akuakultur di pesisir karena periode berlangsungnya yang cukup lama, yaitu 1-3 bulan dan dapat terjadi sebanyak 4 kali dalam setahun. Gelombang Kelvin membawa suhu panas dan mengakibatkan stres pada rumput laut. Selain itu, keberadaan Gelombang Kelvin juga dapat menyebabkan banjir rob di pesisir Pantura. Pada kegiatan penangkapan ikan, panas dari Gelombang Kelvin dapat mempengaruhi migrasi ikan sehingga terjadi kondisi yang tidak kondusif (ikan berenang menghindar), dan menyebabkan penurunan jumlah tangkapan,” ucapnya.
I Wayan Gede Astawa Karang SSi MSi PhD selaku dosen FKP Unud yang menjadi koordinator pada mata kuliah tersebut menyampaikan pentingnya mahasiswa mendapatkan keterpaparan akademik yang luas. “Dinamika oseanografi yang terjadi di Indonesia sangatlah kompleks. Karena itu mahasiswa harus dikenalkan dengan berbagai fenomena yang terjadi di laut Indonesia,” ujarnya.
Wakil Dekan III FKP Unud tersebut juga berharap dengan adanya kuliah umum dari akademisi yang expert di bidangnya, mahasiswa diharapkan dapat menggali lebih dalam tentang fenomena-fenomena oseanografi di laut Indonesia dan upaya mitigasi yang dapat dilakukan. (www.unud.ac.id)







