Denpasar, LenteraEsai.id – Dampak yang dirasakan dari hampir dua tahun berlangsungnya pandemi Covid-19 tidak hanya di bidang kesehatan, namun juga yang tak kalah penting di bidang ekonomi. Perekonomian Bali yang sebelumnya sangat bertumpu pada sektor pariwisata menjadi paling terdampak, mengalami kontraksi paling dalam di antara provinsi lainnya di Indonesia.
Saat ini perekonomian Bali mulai menggeliat, Pemerintah Provinsi Bali pun terus melaksanakan upaya-upaya pemulihan ekonomi Bali. Penegasan ini disampaikan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Provinsi Bali AA Ngurah Oka Sutha Diana dalam siaran persnya di Denpasar, Selasa (1/2).
“Dalam rangka mempercepat pembangunan ekonomi nasional khususnya ekonomi Bali, serta mewujudkan kedaulatan politik dan ekonomi Indonesia, diperlukan peningkatan penanaman modal untuk mengolah potensi ekonomi menjadi kekuatan ekonomi riil dengan menggunakan modal yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri,” ucapnya.
Untuk itu, Pemprov Bali mengimbauan para pelaku usaha untuk dapat menyampaikan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) kepada pemerintah, ucapnya.
Kadis PMPTSP menyebutkan, kegiatan penanaman modal yang dilakukan oleh pelaku usaha perlu terus didorong dan ditingkatkan agar memiliki daya saing yang lebih kondusif. Pelaku usaha yang dimaksud adalah orang perseorangan, badan usaha, kantor perwakilan, dan badan usaha luar negeri yang melakukan kegiatan usaha atau kegiatan pada bidang tertentu.
Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan melakukan tindakan pengendalian pelaksanaan penanaman modal, yaitu tindakan untuk menekan terjadinya penyimpangan-penyimpangan terhadap pelaksanaan penanaman modal.
“LKPM merupakan salah satu sarana komunikasi dan informasi perkembangan pelaksanaan penanaman modal yang dilakukan oleh pelaku usaha, berisi laporan mengenai perkembangan realisasi penanaman modal dan permasalahan yang dihadapi pelaku usaha sejak berdirinya perusahaan sampai dengan berakhirnya kegiatan usaha. Jadi suatu perusahaan semasih berdiri (mungkin dalam masa pandemi tidak beroperasi), perusahaan tersebut tetap wajib melaporkan LKPM-nya,” ujar mantan Karo Umum dan Protokol Setda Provinsi Bali ini.
Lebih jauh ia menjelaskan, LKPM merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaporkan secara berkala oleh pelaku usaha kepada pemerintah di samping kewajiban-kewajiban lainnya sesuai peraturan perundang-undangan.
“Pemerintah juga memberikan pengecualian/tidak mewajibkan penyampaian LKPM bagi Pelaku Usaha Mikro, bidang Usaha Hulu Migas, Perbankan, Lembaga Keuangan Non Bank dan Asuransi,” imbuhnya.
Tak hanya sekedar imbauan, ternyata pelaksanaan LKPM bagi pelaku usaha yang tidak mematuhi ketentuan peraturan pelaksanaan penanaman modal dapat dikenakan sanksi, mulai sanksi ringan berupa peringatan tertulis hingga Pencabutan Perizinan Berusaha Untuk Menunjang Kegiatan Usaha.
Hal ini sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang sah oleh Pemerintahan RI, di antaranya Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal, serta Peraturan Kepala BKPM RI Nomor 5 Tahun 2021 tentang Pedoman Dan Tata Cara Pengawasan Perizinan berusaha Berbasis Risiko.
Mengikuti perkembangan teknologi informasi, saat ini pelaporan LKPM oleh para pelaku usaha pun telah dipermudah yang bisa diakses secara online, cukup Download Aplikasi LKPM online melalui website https://lkpmonline.bkpm.go.id atau melalui website https://oss.bkpm.go.id; dan selanjutnya membuat laporan sesuai petunjuk yang tersedia pada aplikasi.
“Bilamana mengalami kendala, dapat menghubungi nomor telp (0361) 243804, atau konsultasi langsung ke Kantor DPMPTSP Provinsi Bali Jalan Raya Puputan Niti Mandala Renon Denpasar,” kata AA Sutha Diana. (LE-DP1)







