Nusa Dua, LenteraEsai.id – Komisi VII DPR RI menilai pengolahan limbah cair yang dilakukan BUMN PT Pengembangan Pariwisata Indonesia di kawasan Nusa Dua, Bali, berpotensi menjadi solusi nasional untuk konservasi sumber daya air, khususnya di destinasi pariwisata.
“Indonesia kaya dengan pantai dan wisata bahari, tetapi di pulau-pulau sering mengalami kesulitan air bersih. Ini bisa menjadi solusi,” kata Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty di sela kunjungan kerja reses di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Selasa.
Menurut dia, pengolahan limbah cair menjadi air bersih perlu disesuaikan dengan kondisi daerah, termasuk dari sisi anggaran dan skala pengembangan.
Ia menilai inovasi tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam menekan limbah, termasuk sampah di kawasan wisata.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan DPR meninjau kawasan Lagoon Nusa Dua yang dikelola ITDC, yang mengolah limbah cair menjadi air bersih serta mengolah sampah organik menjadi kompos.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Utama ITDC Ahmad Fajar menjelaskan instalasi pengolahan limbah tersebut merupakan proyek percontohan yang dikelola anak usaha Nusantara Utilitas dan berpotensi diterapkan di daerah lain.
Ia menyebut kawasan tersebut memiliki kolam penampungan limbah cair seluas sekitar 16 hektare yang terhubung melalui jaringan pipa dari 21 hotel berbintang dan vila di kawasan tersebut.
Limbah kemudian diolah melalui sistem penyaringan hingga menjadi air untuk penyiraman tanaman dan suplai air bersih di kawasan.
“Rata-rata kapasitas pengolahan mencapai sekitar 4.000 meter kubik air bersih per hari dan 1.800 meter kubik untuk kebutuhan irigasi,” ujarnya.
Selain itu, ITDC juga mengolah air laut menjadi air bersih menggunakan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), yakni proses pemisahan garam dari air laut melalui tekanan osmotik sehingga menghasilkan air layak konsumsi.
Teknologi tersebut memiliki kapasitas produksi hingga sekitar 1,31 juta meter kubik per tahun.
Proyek air sirkular itu menelan investasi sekitar Rp120 miliar melalui kemitraan dengan investor.
“Air ini sudah digunakan oleh perhotelan dan harganya lebih rendah,” kata Ahmad Fajar tanpa merinci tarifnya. (LE)
Source: ANTARA








