Tradisi ‘Ngerebong’ di Desa Adat Kesiman Denpasar Dipenuhi Pemedek

Denpasar, LenteraEsai.id – Ritual sakral ‘Ngerebong’ diadakan setiap enam bulan sekali, yakni delapan hari usai hari raya Kuningan dan selalu dipenuhi pemedek dari berbagai daerah di Bali.

Desa Adat Kesiman Kota Denpasar menggelar ritual atau tradisi ‘Ngerebong’ di Pura Agung Petilan bertepatan dengan rahina Redite Pon Wuku Medangsia yang jatuh pada hari Minggu (28/11).

Bacaan Lainnya

Tradisi rutin setiap enam bulan sekali ini dihadiri langsung Gubernur Bali Wayan Koster, didampingi Wakil Wali kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, anggota DPRD Kota Denpasar I Wayan Warka, Panglingsir Puri Kesiman AA Ngurah Gede Kusuma Wardana, serta prajuru Desa Adat Kesiman dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Bendesa Adat Kesiman I Ketut Wisna saat dijumpai di sela pelaksanaan tradisi ‘Ngerebong’ menjelaskan, konsep ‘Pengerebongan’ ini adalah dari kata Ngerebu yang berarti suatu pesta oleh raja kepada rakyatnya dengan tatanan yang ada di Desa Adat Kesiman dengan Tata Dewa-nya melaksanakan Tata Keraton. Artinya, Sang Pencipta dipersonifikasikan seperti tatanan keraton, ada raja, patih, dan seterusnya.

“Ini membaur dalam satu rangkaian kegiatan dan ada Napak Pertiwi penyatuan dari unsur pertiwi dan akasa dengan Ngereh Lemah, dengan Ngiterin Bhuana di wantilan Pura Agung Petilan sebagai porosnya,” ucapnya.

“Pemedek dan pengiring dari luar Desa Adat Kesiman ada yang dari Pemogan, Sawangan, Sanur, Bekul dan beberapa desa yang lainnya di Denpasar. Itu untuk waktu persembahyangannya, menyesuaikan,” ucapnya.

Wisna menjelaskan, ritual ‘Ngerebong’ atau ‘Pengerebongan’ ini adalah warisan budaya tak benda yang telah diakui dan terdaftar oleh negara melalui keputusan Mendikbud tanggal 10 Oktober 2018.

Bendesa Adat Ketut Wisna juga mengatakan bahwa ritual yang berlangsung sehari ini diikuti oleh 31 banjar di wilayah Desa Adat Kesiman serta pelawatan Ida Bhatara dari beberapa pura di luar wilayah Kesiman yang memiliki keterkaitan dengan Kesiman, antara lain Sanur, Bukit Jimbaran, Pamogan, Bekul dan Tohpati.

Dalam prosesi ‘Ngerebong’, dimulai dengan mengitari wantilan Pura Agung Petilan sebanyak 3 kali. Saat mengitari wantilan inilah kerauhan massal terjadi. Hingga beberapa pemedek yang mengalami kerauhan akan menusukan sebilah keris ke bagian tubuhnya yang dikenal dengan istilah ngurek.

Sementara itu, Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa berharap pelaksanaan tradisi ‘Ngerebong’ di Desa Adat Kesiman Kota Denpasar ini dapat menyeimbangkan alam semesta beserta isinya. Hal ini juga diharapkan dapat terus meningkatkan sradha dan bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa

“Pelaksanaan Yadnya ini tentu sebagai sarana peningkatan nilai spiritual sebagai umat beragama. Diharapkan upacara Yadnya Ngerebong ini dapat memberikan energi Dharma yang dapat memancarkan hal positif bagi jagat Bali serta menetralisir hal-hal negatif, melihat berbagai macam situasi yang terjadi dewasa ini demi terciptanya keseimbangan jagat beserta isinya,” ujarnya. (LE-DP)

Pos terkait