Karangasem, LenteraEsai.id – Kemunculan bunga Rafflesia Arnoldii (Amorphophallus titanum) yang juga disebut bunga bangkai, ditemukan tanpa sengaja di sebuah tegalan di Desa Bukit, Kecamatan/Kabupaten Karangasem, Jumat (29/10) siang.
Temuan tersebut cukup mengagetkan sejumlah warga, dikarenakan bunga yang berukuran cukup besar dengan garis tengah sekitar 25 cm itu, baru pertama kali terlihat muncul di wilayah Desa Bukit.
“Saya kaget menemukan bunga itu tadi siang. Saat itu, saya sedang ke rumah ipar dan mau minta kelapa muda. Eh… ketika jalan menuju pohon kelapa di tegalan, mendadak nampak bunga itu,” kata I Gusti Made Singarsi ketika dihubungi awak media massa, Jumat (29/10/2021) malam.
Mantan Dirut PDAM Karangasem itu mengungkapkan, setelah menemukan satu Bunga Rafflesia, dirinya berusaha keliling ladang mencari yang lainnya, tapi tidak lagi ketemu.
“Jadi ya cuma satu bunga itu saja yang ada. Warnanya merah tua,” ujar IGM Singarsi penuh antusias dengan temuannya yang tergolong langka, meski dengan menebar ‘aroma’ yang cukup ‘menyengat’ itu.
IGM Singarsi melanjutkan, sebelumnya tidak pernah diketemukan Bunga Rafflesia di tegalan milik iparnya itu. “Ya baru sekarang ini saja ditemukan, makanya mengagetkan saya dan keluarga lain yang akhirnya ikut melihat-lihat,” katanya seraya menambahkan, lokasi ditemukannya Bunga Raflesia ialah tegalan yang ditanami pepohonan pisang.
Sementara itu, pada hari yang sama, warga di Banjar Angkal, Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, juga menemukan Bunga Raflesia di dekat kandang sapi. Baunya yang mencolok mendekati aroma busuk, membuatnya gampang ditandai. Apalagi bunga ini berukuran besar, beberapa kali lipat dari ukuran bunga lain pada umumnya, sehingga setiap kemunculannya selalu menarik perhatian.
Merujuk pada data di Wikipedia menyebutkan bahwa Rafllesia termasuk genus tumbuhan yang mengalami kelangkaan karena kehidupannya secara biologis bergantung kepada tumbuhan inang dari jenis Tetrastigma tertentu. Kondisi pertumbuhan Rafflesia ditentukan oleh kondisi tumbuhan inang. Faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhannya ialah iklim dan lingkungan tumbuhan inangnya. Hampir semua spesies Rafflesia hanya dapat tumbuh di habitat alaminya.
Rafflesia pertama kali ditemukan oleh seorang dokter dan penjelajah berkebangsaan Prancis yang bernama Louis Auguste Deschamp. Penemuan Rafflesia merupakan hasil dari ekspedisi tumbuhan selama tiga tahun di Pulau Jawa pada akhir abad ke-18 masehi. Ekspedisi ini merupakan permintaan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Pieter Gerardus van Overstraten.
Untuk kemudian Rafflesia Arnoldii beberapa kali ditemukan tumbuh di wilayah Provinsi Bengkulu, Sumatera, dan beberapa ahli kehutanan kemudian mengadopsi tumbuhan tersebut untuk ditanam di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat.
Rafflesia dijadikan sebagai lambang kelangkaan berbagai jenis flora di dunia. Status konservasi Rafflesia di tingkat internasional adalah flora malesiana. Status ini menandakan bahwa Rafflesia merupakan tumbuhan langka di kawasan Malesia. Sementara itu, di Indonesia sebagai habitat alami terbesar bagi Rafflesia, spesies Rafflesia Arnoldii memperoleh status sebagai Puspa Langka. Status ini menandakan bahwa Rafflesia merupakan spesies langka yang mewakili flora langka di Indonesia. (LE-KR)







