Oleh Yanes Setat
DINGIN-dingin dimandiin, nanti masuk angin. Demikian sepenggal syair lagu yang dilantunkan penyangi Joshua Suherman yang populer pada 1998. Ketika itu, Joshua yang terlahir 1992 masih tergolong penyanyi cilik.
Lewat syair lugu tersebut mengandung arti bahwa mandi merupakan salah satu sumber dingin. Karenanya, kalau sudah dingin jangan lantas dimandiin, biar tidak masuk angin.
Namun belakangan ini tak sedikit warga masyarakat yang beranggapan bahwa udara dingin yang muncul sejak awal Juli 2021 ini bukan lagi hanya perkara mandi semata, tetapi akibat munculnya Fenomena Aphelion. Terkadang dugaan tersebut masuk di akal. Masalahnya, Fenomena Aplelion adalah peristiwa alam yang menunjukkan jarak antara matahari dengan bumi, berada pada posisi terjauh.
Pada sepanjang hari biasanya, jarak matahari dengan bumi berada pada kisaran 149-150 juta kilometer, sementara pada munculnya Fenomena Aphelion jarak bumi dengan wujud yang memancarkan sinar panas itu berada pada 152,6 juta kilometer.
Melihat itu, wajar kalau masyarakat awan kemudian beranggapan bahwa semakin jauh letak matahari dari bumi akan membuat planet yang dihuni manusia ini menjadi semakin dingin. Terlebih, sejak awal Juli ini udara memang terasa jauh lebih dingin dibandingkan hari-hari biasanya.
Temperatur ruang pada kisaran 28 sampai 25 derajat celsius, bahkan sempat 22 pada pada malam hari. Akibatnya, belakangan ini cukup membuat penduduk Denpasar, Bali dan sekitarnya, merasakan udara yang lebih dingin.
Terlepas dari itu, ternyata para ahli di bidangnya tidak sependapat kalau jarak matahari lebih jauh dari bumi, adalah penyebab dinginnya suhu udara di permukaan bumi.
Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Herizal membenarkan bahwa Fenomena Aphelion kini tengah terjadi, dan seperti biasa berlangsung setahun sekali pada kisaran bulan Juli.
Harizah menyebutkan bahwa fenomena itu terjadi ketika posisi matahari berada pada titik jarak terjauh dari bumi. Meskipun demikian, kondisi tersebut tidak berpengaruh banyak pada fenomena atmosfer di sekitaran bumi. Dengan kata lain, jauh dekatnya jarak matahari dengan bumi, tidak banyak berpengaruh dengan suhu udara yang ada di atas ‘lahan’ yang dihuni manusia ini.
Lantas apa yang menyebabkan suhu udara kini menusuk hingga ke tulang sumsum paling dalam, terutama di wilayah Pulau Dewata, Nusa Tenggara Barat, Jawa bagian timur dan sekitarnya ?.
Sebenarnya pertanyaan itu sudah cukup banyak orang yang bisa menjawab didasarkan atas pengalaman yang mereka jalani selama ini. Di mana ketika musim kemarau panjang, biasanya udara dirasakan jauh lebih dingin dibandingkan dengan musim penghujan tiba.
Hal tersebut dibenarkan oleh Herizal. Ia menyebutkan, bersamaan dengan munculnya Fenomena Aphelion, secara umum wilayah Indonesia berada pada periode musim kemarau. “Hal ini menyebabkan seolah Aphelion memiliki dampak yang ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia,” katanya.
Padahal, Fenomena Aphelion merupakan hal yang biasa terjadi setiap tahun. Menurut Herizal, suhu udara dingin sebetulnya merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau, antara Juli sampai September setiap tahunnya. Saat ini wilayah Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur menuju periode puncak musim kemarau. Periode ini ditandai pergerakan angin dari arah timur, yang berasal dari Benua Australia.
Herizal mengatakan, adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia atau dikenal dengan istilah ‘Monsoon Dingin Australia’.
“Angin monsoon Australia yang bertiup menuju wilayah Indonesia melewati perairan Samudera Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih dingin, mengakibatkan suhu di beberapa wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa (Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara) terasa juga lebih dingin,” kata Herizal serperti yang dikutif Okezone.
Selain dampak hembusan angin dari Australia, berkurangnya awan dan hujan di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara turut berpengaruh ke suhu yang dingin di malam hari. Sebab, tidak adanya uap air dan air menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi pada malam hari, tidak tersimpan di atmosfer.
Tak hanya itu, langit yang cenderung bersih awannya (clear sky) akan menyebabkan panas radiasi balik gelombang panjang ini langsung dilepas ke atmosfer luar, membuat udara dekat permukaan terasa lebih dingin terutama pada malam hingga pagi hari. Hal ini yang kemudian membuat udara terasa lebih dingin terutama pada malam hari, ucapnya, menjelaskan.
Dari penjelasan itu menjadi benderang bahwa Fenomena Aplelion bukan sebagai penyebab suhu udara di permukaan bumi menjadi lebih dingin, lantaran jarak matahari berada pada posisi terjauh dari bumi.
Seperti dilansir dari NASA Science, kebalikan dari Fenomena Aphelion adalah Perihelion. Pada fenomena ini jarak matahari terdekat dari bumi, yakni 147,5 juta kilometer. Sementara saat Aphelion jarak matahari diketahui yang terjauh, 152,6 juta kilometer dari permukaan bumi.
Puncak dari Fenomena Aphelion di Indonesia pada tahun ini sesungguhnya terjadi pada 6 Juli 2021, kemudian secara perlahan bumi yang beredar dalam orbitnya kembali mendekat kepada Sang Surya. Demikian seterusnya sepanjang hari dan bulan hingga kembali berada pada jarak terdekat dan sebaliknya terjauh pada bulan-bulan tertentu sepanjang tahun. (LE-YS)







