Getar Magis, Menyeruak di Lokasi ‘Nunas’ Keturunan Taman Beji Punggul Badung

Pura Taman Beji, Desa Punggul, Badung, Bali

Badung, LenteraEsai.id – Getar magis dan sakral terasa menyeruak begitu menginjakkan kaki di hadapan air terjun yang diapit dinding batu yang menjulang tinggi dengan panorama relief yang tampil alami.

Detak jantung semakin kerap setelah masuk ke lorong cukup sempit di balik cahaya temaram di antara batu-batu berlumut, lengkap dengan sejumlah tempat ‘ngunggahang’ canang sebagai wujd sembah bakti kepada yang berstana di sana.

Bacaan Lainnya

Itulah gambaran dari satu sudut Pura Taman Beji milik Geria Gede Manuaba Desa Punggul, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, yang kini mulai banyak dikunjungi dan dimanfaatkan umat sebagai tempat melukat (menyucikan diri), dan bahkan sering pula ada warga yang datang untuk ‘nunas’ keterunan dan sebagainya.

Cukup ramainya pengunjung tidak hanya tampak pada rahinan seperti Purnama atau Tilem, tetapi juga hari-hari biasa lainnya. Menurut pihak pengempon pura, jumlah pengunjung berada pada kisaran 100 hingga 500 orang setiap pekannya.

Berkaitan dengan siatuasi yang kini masih dirundung Covid-19, pihak pengempon atau pengelola tetap harus menerapkan protokol kesehatan terhadap setiap pengunjung yang datang. “Kami atur pengunjung yang akan melukat, yakni memberlakukan antri sehingga jarak tetap dapat terjaga,” kata Ida Bagus Eka Giri Artha, selaku pemilik dan penanggung jawab Taman Beji itu dalam perbincangan dengan pewarta LenteraEsai (LE) pada Sabtu sore, 29 Mei 2021.

Aturan ketat diberlakukan terhadap pemedek (pengunjung) itu, kata Giri Artha, mengingat pandemi Covid-19 kini belum berakhir. Dengan harapan semua selamat, setrta mendapatkan kesucian dan kedamaian di tempat ini. “Waktu Purnama beberapa hari lalu, pengunjung ramai sekali. Kami atur sedemikian rupa agar sembahyang dan melukat dilakukan secara bergiliran,” ucapnya.

Menurutnya, para pengunjung pun sangat paham dengan situasi sekarang, sehingga mereka tidak susah untuk mentaati peraturan yang ditetapkan. Terlebih, pengelola menyiapkan cukup banyak petugas pemandu. Pesan-pesan tertulis juga sudah dipasang lengkap di setiap sudut lokasi, dalam tiga bahasa. Yakni Bahasa Bali, Indonesia dan Bahasa Inggris.

Di Taman Beji Geria Manuaba Punggul, terdapat sejumlah air klebutan (mata air), air campuan dan air terjun yang lokasinya di tebing dan di dalam goa. Kata Giri Artha, semua itu anugrah alam (Hyang Widhi). “Sumber-sumber air yang disucikan di Taman Beji ini, selain untuk pabejian Gria, juga untuk prosesi pasucian Ida Bhatara Kahyangan Tiga Desa Adat Punggul setiap menjelang piodalan,” ucapnya, bersemangat.

Ada sejumlah titik air bulakan (mata air) dan pancuran untuk prosesi melukat di kompleks Pura Taman Beji Geria Punggul. Selain keramas dan mandi, air suci di situ langsung diminum. Menurut  Giri Artha, khasiat air di situ bisa menyembuhkan penyakit. Bukan hanya itu, di tempat juga sekaligus bisa bersembahyang mohon keturunan, mohon kesuksesan dalam berbisnis dan sebagainya. “Tentu semua itu harus didasari keyakinan penuh dan ketulusan jati,” ucap pria empat orang putra dan putri itu.

Yang tidak kalah menarik, di air terjun campuan, adalah tempat pemedek (pengunjung) meluapkan unek-unek. Misalnya meneriakkan kekesalan, kemarakan dan sejenisnya. Bisa dilakukan sekeras-kerasnya dengan mengulang beberapa kali. Di air terjuan campuan itu pula tempat meluapkan kegembiraan, dengan bernyanyi-nyanyi, menari-nari supaya benar-benar ‘happy’.

“Tujuannya supaya vibrasi air suci melalui melukat di Taman Beji ini memberi kesejukan, kekuatan, kesucian dan kedamaian bagi para pengunjung. Dan itu nantinya bisa tercermin dalam pikiran, ucapan dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari,” katanya, menjelaskan.

Pengelola bersyukur dianugrahi sumber-sumber air suci itu, hingga kemudian bisa dimanfaatkan untuk semua kalangan. Sejak dibuka untuk umum pada akhir 2017 lalu. secara perlahan kehadiran pengunjung kian semakin banyak.

Pengunjung yang datang melukat ke Taman Beji Geria Manuaba Punggul, cukup hanya membawa satu banten pejati, sejumlah canang serta dua buah bungkak kelapa gading dan nunglak kelapa gadang. Pemedek boleh mengenakan pakaian adat ringan. Kalau toh karena satu dan lain hal pemedek tidak sempat menyiapkan sarana upakara, di lokasi juga tersedia, termasuk pihak pengelola menyediakan kamen (kain) dan senteng bagi yang tidak membawanya dari rumah.  (LE/Ima)

Pos terkait