Badung, LenteraEsai.id – Masyarakat Bali memanfaatkan gelaran pameran buku internasional Big Bad Wolf (BBW) buat mengalihkan anak dari gawai.
“Saya sengaja Senin pas baru buka langsung ke sini karena anak lagi usia balita suka eksplorasi tulisan dan gambar jadi saya mau kenalkan buku daripada gadget,” kata Deby Mulia (37) warga Denpasar yang ditemui di pameran buku BBW.
Deby di Kabupaten Badung, Senin, mengatakan anaknya yang saat ini berusia 4 tahun cenderung aktif ingin mengenal banyak hal, untuk itu melalui buku fisik anak dapat belajar sambil memegang dan mendapat pengalaman langsung alih-alih hanya menonton di layar gawai.
“Makanya saya beli macam-macam ini buku aktivitas, ada menggambar, menggunting menempel, mewarnai, dan bacaan kuda poni karena anak-anak perempuan ini suka daripada nonton di hp saja,” ujarnya.
Ibu lainnya bernama Eka Putri (32) bahkan mengaku tiap tahun menantikan pameran buku internasional ini, mengingat akses terhadap buku anak yang lengkap bahkan berbahasa asing sulit ditemukan di Bali.
Ia sengaja datang langsung bersama suami dan dua anaknya yang berusia 5 tahun dan 2 tahun, alasannya agar anak ikut memilih mengingat terdapat jutaan buku yang dipajang membuat orang tua cukup sulit menentukan sendiri.
“Kami sudah kebiasaan tiap ada pameran buku menyempatkan datang, belinya sesuai kebutuhan dan kalau harga variatif ada yang Rp10.000 sampai Rp100.000, seperti anak saya yang 2 tahun kami cari buku aktivitas menggambar, mewarnai, dan kosakata, untuk yang 5 tahun buku baca, tulis, dan hitung dasar,” ujarnya.
Warga Ungasan Badung itu berharap pameran buku serupa diadakan lebih banyak di Bali, sebab ia dan orang tua lainnya gemar berburu buku anak atau buku pengembangan diri bagi mereka sendiri.
“Harapan kami ya lebih baik kalau lebih sering ada bazar seperti ini, kejadian di saya anak-anak saya jadi minat terhadap bukunya tinggi tidak hanya gadget saja, dan buku fisik ini juga lebih gampang diingat dibanding digital-digital yang hanya dilihat saja,” tuturnya.
Melihat situasi ratusan orang rela antre sebelum pameran buku internasional ini dibuka di Discovery Mall Bali, Country Director Big Bad Wolf Books Indonesia Marthius Wandi Budianto merasa tidak menyangka.
Sejak tiga tahun lalu BBW datang menghadirkan akses literasi bagi masyarakat, baru ini antusiasme sangat terasa, menurutnya ini penanda keberhasilan membangkitkan semangat membaca masyarakat.
“Jujur untuk hari pertama ini di luar ekspektasi apalagi ini Hari Senin tapi jam 8 pagi sudah antre berarti sudah ditunggu,” ujarnya.
Meski saat ini sedang gejolak dinamika global dan inflasi, pihak BBW memutuskan tidak menaikkan harga buku demi menjaga semangat masyarakat untuk mendapat buku terjangkau namun berkualitas.
Untuk itu Wandi mengajak masyarakat memanfaatkan pameran buku ini untuk selain menanamkan pengetahuan anak sejak dini juga menambah ilmu orang dewasa lewat buku literasi.
“Justru sebenarnya di situasi saat ini di media sosial kan banyak yang jadi guru kehidupan bicara pengembangan diri, padahal kalau benar-benar ingin membangun diri baca buku, itu metode tradisional tapi paling menjamin daripada hanya menonton media sosial,” kata dia.
Founder Big Bad Wolf Books Internasional Andrew Yap menambahkan untuk memantik semangat membaca masyarakat di Bali mereka sengaja menggelar pameran dari 25 Mei-7 Juni 2026 di kawasan mal.
Mal menjadi tren lokasi kunjungan keluarga atau individu di Bali, alih-alih membuat di ruang konvensi mewah, mal menjadi tempat umum yang bisa diakses semua kalangan.
Belum lagi, Bali memiliki keunikan tersendiri dibanding negara lain, yaitu beragamnya asal pecinta buku, tak hanya dari lokal Bali atau Indonesia, namun luar negeri seperti Rusia, Eropa, dan Australia.
“Sebagian besar masyarakat Bali sepakat bahwa Bahasa Inggris itu penting sehingga buku-buku ini penting, Bali juga unik berbeda dengan di negara lain dimana disini pengunjungnya perpaduan berbagai negara, dan melihat tren media sosial saat ini membuat buku fisik menjadi semakin penting,” tuturnya. (LE)
Source: ANTARA







