Denpasar, LenteraEsai.id – Masyarakat kini dapat memeriksakan status HIV/AIDS secara gratis di 120 puskesmas yang tersebar di seluruh Bali. Hal tersebut diungkapkan dalam pertemuan Koordinasi Kelompok Jurnalis Peduli AIDS (KPJA) yang digelar di ruang rapat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali, Senin (28/7/2025).
Kepala Sekretariat KPA Provinsi Bali, Anak Agung Ngurah Patria Nugraha, menyampaikan pentingnya deteksi dini terhadap HIV/AIDS, terutama bagi individu yang memiliki perilaku berisiko. Atas dasar ini, maka perlunya kesadaran untuk pemeriksaan kesehatan. Apalagi di Bali ada 120 Puskesmas yang tersebar di berbagai daerah, di mana seseorang bisa memeriksakan apakah dirinya terinfensi HIV/AIDS atau tidak. Pemeriksaan ini tidak berbayar alias gratis bagi masyarakat.
“Bahaya besar terjadi ketika seseorang terinfeksi HIV namun tidak menyadarinya, terutama mereka yang berperilaku seksual berisiko atau melakukan hubungan seksual di luar pernikahan,” ujarnya.
Menurutnya, seseorang yang dinyatakan positif HIV akan mendapatkan konseling dan pendampingan dari tenaga kesehatan. Bahkan, mereka tetap bisa menjalani pernikahan asalkan berada dalam pengawasan medis dan rutin mengonsumsi obat antiretroviral (ARV).
Dalam forum tersebut, Penasihat KPJA Bali, Rofiqi Hasan, menekankan pentingnya pendekatan jurnalisme empati dalam peliputan isu HIV/AIDS. Ia membedakan antara jurnalisme angka, yang berfokus pada statistik, dan jurnalisme empati yang menggali sisi kemanusiaan para penyintas HIV.
“HIV adalah persoalan kesehatan, bukan persoalan moral. Siapa pun bisa terinfeksi tanpa memandang latar belakang. Orang baik-baik pun bisa terpapar,” tegas pria yang juga Humas Forum Peduli AIDS.
Ia menyoroti masih tingginya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) akibat kurangnya pemahaman masyarakat. Mitos seputar HIV, seperti mudah menular dan tidak dapat diobati, menurutnya harus diluruskan melalui edukasi publik yang tepat dan berkelanjutan.
“Edukasi kerap ditolak karena dianggap mempromosikan seks bebas, padahal edukasi adalah kunci pencegahan. Informasi soal seks banyak diakses tanpa panduan yang tepat, mendorong remaja mencoba tanpa memahami risiko,” jelas Rofiqi.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan pengurangan risiko, seperti penggunaan kondom, akses jarum suntik steril, serta pendidikan seks dan kesehatan reproduksi, daripada semata-mata menghilangkan perilaku berisiko yang cenderung utopis.
Senada dengan itu, Pengelola Program Media KPA Bali, Yuniambara SIP berharap agar KPJA dapat terus berkembang sebagai komunitas jurnalis yang aktif dan independen dalam mengedukasi publik soal HIV/AIDS.
“KPJA kami harapkan bisa lebih berdaya dan berkontribusi nyata dalam membangun Bali yang lebih sehat dan bebas stigma,” ujarnya.
Edukasi mengenai pola hidup yang baik bisa diajarkan pada anak-anak sejak dini, salah satu bacaan yang menunjang bisa didapatkan melalui: https://s.shopee.co.id/7KmLIA6ZT7. (LE-Vivi)







