Denpasar, LenteraEsai.id – Kinerja Industri Jasa Keuangan (IJK) di wilayah Bali dan Nusa Tenggara tetap resilien dan stabil hingga Mei 2025. Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat ketahanan ini didukung permodalan yang kuat, likuiditas memadai, serta profil risiko yang terjaga, di tengah pelemahan ekonomi global.
Sektor perbankan, baik Bank Umum maupun BPR, menunjukkan pertumbuhan positif. Penyaluran kredit mencapai Rp236,53 triliun atau tumbuh 7,74 persen (yoy), meningkat dari April 2025 yang sebesar 6,74 persen. Sebagian besar (58,29 persen) kredit disalurkan untuk kegiatan produktif, seperti modal kerja (33,23 persen) dan investasi (25,06 persen). Kredit investasi mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 33,47 persen yoy, demikian disampaikan Kepala OJK Regional 8 Bali-Nusra Kristrianti Puji Rahayu, melalui siaran pers pada Jumat (11/7/2025) pagi.
Dari sisi sektoral, penyaluran kredit terbesar berasal dari Sektor Penerima Kredit Bukan Lapangan Usaha (41,71 persen) dan Sektor Perdagangan Besar dan Eceran (23,92 persen). Di Provinsi Bali, sektor akomodasi dan makan minum menjadi penyumbang utama kenaikan kredit (Rp2,1 triliun atau tumbuh 18,12 persen yoy). Di NTB, sektor pertambangan dan penggalian mencatat peningkatan tertinggi (Rp6,27 triliun atau tumbuh 58,22 persen), sedangkan di NTT, sektor non-usaha mencatat pertumbuhan terbesar (Rp1,44 triliun atau tumbuh 5,62 persen yoy).
Kredit untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tercatat sebesar 42,21 persen dari total kredit, tumbuh 1,57 persen yoy. Porsi ini menunjukkan komitmen perbankan dalam mendukung perekonomian daerah.
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp283,67 triliun atau tumbuh 7,70 persen yoy, meningkat dibandingkan April 2025 (6,46 persen yoy). Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan tabungan sebesar Rp11,62 triliun dan deposito Rp6,2 triliun. Rasio Loan to Deposit (LDR) sebesar 83,38 persen, naik tipis dari 83,35 persen pada Mei 2024.
Likuiditas dan permodalan BPR juga terjaga. Rasio kecukupan modal (CAR) BPR di Bali tercatat 33,84 persen, NTB 47,38 persen, dan NTT 45,68 persen. Rasio kas (Cash Ratio) BPR masing-masing: Bali 14,23 persen, NTB 17,3 persen, dan NTT 7,09 persen. Kualitas kredit tetap baik dengan NPL gross sebesar 3,20 persen, masih di bawah ambang batas 5 persen.
OJK mengimbau perbankan meningkatkan ketahanan melalui penguatan modal, menjaga pencadangan CKPN dan PPAP secara memadai, serta rutin melakukan stress test untuk mengantisipasi dampak risiko global dan domestik.
Sementara itu, jumlah investor pasar modal di Bali dan Nusa Tenggara terus tumbuh. Per April 2025, terdapat 258.052 investor saham atau naik 25,67 persen yoy. Investor reksa dana naik 20,92 persen dan investor Surat Berharga Negara (SBN) tumbuh 16,99 persen yoy.
Nilai kepemilikan saham mencapai Rp8,72 triliun, sedikit terkoreksi 0,49 persen yoy, sementara nilai transaksi saham naik signifikan sebesar 31,57 persen menjadi Rp3,17 triliun.
Perusahaan pembiayaan di wilayah ini mencatatkan piutang pembiayaan sebesar Rp19,42 triliun per April 2025, tumbuh 7,61 persen yoy. Pertumbuhan ini melandai dari bulan sebelumnya (8,20 persen yoy) dan dari April 2024 (16,43 persen yoy).
Pembiayaan melalui modal ventura tercatat Rp317,61 miliar, terkontraksi 1,56 persen yoy namun membaik dibandingkan Maret 2025 yang terkontraksi 2,55 persen yoy.
Tingkat pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing/NPF) perusahaan pembiayaan relatif rendah sebesar 1,51 persen, sedikit naik dari April 2024 (1,49 persen). Sementara NPF modal ventura menurun menjadi 7,60 persen dari sebelumnya 7,75 persen. (LE-Vivi)







