Ritual Mebayuh Diiringi Pentas Wayang Kulit, Digelar di Mayong Buleleng

Prosesi mebayuh yang berlangsung di Dusun Sabit, Desa Mayong, Seririt, Buleleng pada Senin tanggal 23 Oktober 2023 (Foto: Dok Komang Pandit)

Buleleng, LenteraEsai.id – Sebuah ritual yang tergolong tidak terlalu banyak dilakukan masyarakat Pulau Dewata, yakni ‘mebayuh’ disertai dengan nanggap wayang kulit, digelar warga di Dusun Sabit, Desa Mayong, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali bagian utara.

Ritual yang telah disiapkan sejak beberapa pekan sebelumnya dengan proses ‘mejejahitan’ daun janur lengkap dengan buah-buahan, kue-kue tradisional dan aneka bunga, puncaknya dilakukan pada Senin atau Soma Paing, Menail, 23 0ktober 2023.

Bacaan Lainnya

Puncak acara diambil pada Soma Paing, Menail sehubungan yang dibayuh adalah seorang pria yang terlahir atau otonan pada hari itu, yakni I Nyoman Sura Supada Pandit.

Ritual yang dipimpin Jro Mangku Kadek Mahardika, seorang pemangku Dadia Pasek Gaduh Desa Mayong, tidak saja berupa persembahan wenantenan yang juga dilengkapi pedagingan, tetapi juga harus disertai dengan persembahan atau pertunjukan wayang kulit.

Itu sebabnya, usai persembahan wewantenan dan sembahyang bersama di sanggah kemulan keluarga, dilanjutkan nanggap wayang kulit yang disampaikan seorang dalang Ida Kade Ayam, penduduk Desa Rindikit, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng.

I Gede Anom Wijaya, kakak tertua dari I Nyoman Sura Supada Pandit, mengungkapkan bahwa dirinya memegang amanah dari orang tua untuk dapat melaksanakan upacara mebayuh yang disertai nanggap wayang bagi adik kandungnya.

Ia menyebutkan, pada tahun 2019 lalu pihak keluarga pernah menanyakan kepada ‘orang pintar’, yang pada pokoknya menyatakan bahwa leluhur yang numitis pada Nyoman Sura minta dilakukan ritual mebayuh yang dilengkapi nanggap wayang kulit pada hari otonan Nyoman Sura.

Ni Ketut Suryani, selaku menyedia dan koordinator penggarap wewantenan mengatakan, nyaris semua proses upacara dilaksanakan secara gotong royong bersama saudara dan warga sekitar tempat tinggal. “Ya.., persiapan banten atau sesajen kurang lebih kami lalukan selama dua minggu dengan cara mejejaitan bersama di rumah,” ujarnya, penuh semangat.

Dengan telah dilakukannya ritual mebayuh tersebut, kata Suryani, seluruh perjalanan hidup Nyoman Sura diharapkan menjadi lebih lancar, sehat dan sukses dalam mengarungi bahtera kehidupan di masyarakat.

Usai seluruh rangkaian ritual dilaksanakan, dilanjutkan dengan acara hiburan berupa pentas karaoke yang dikoordinasikan pemusik cukup kenamaan di daerahnya, yakni Nyoman ‘Kopral’ Sutarjana.

Pewarta: Komang Pandit
Redaktur: Laurensius Molan

Pos terkait