Buleleng, LenteraEsai.id – I Ketut Berata (66), seorang kakek pensiunan guru yang sempat ‘mesesangi’ akan lari sejauh 40 kilometer bila Joko Widodo (Jokowi) terpilih untuk yang kedua kalinya sebagai Presiden RI, sukses ‘nawur sesangi’ atau membayar kaulnya itu pada Jumat, 21 April 2023.
Selain ‘mesesangi’ untuk Jokowi, janji serupa juga diucapkan mantan kepala SMA Negeri 1 Banjar itu bila Ketut Kariyasa Adnyana SP dan Nyoman Sukarmen masing-masing terpilih sebagai anggota DPR RI dan DPRD Kabupaten Buleleng. Pada Jumat (21/5) siang, ‘sesangi’ tersebut dapat dibayar tunai, meski sesungguhnya sempat tertunda kurang lebih empat tahun lamanya.
Dengan pengawalan ketat tim Busungbiu Bicycle Club, Ketut Berata sukses menjajal jalanan sejauh 40 kilometer mulai dari Desa Busungbiu, Kecamatan Busungbiu, hingga finis di Desa Jinengdalem, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali bagian utara.
Nyoman Sukarmen yang mengibarkan berdera start dimulainya lari marathon pada pukul 05.30 Wita itu, berhasil diselesaikan Ketut Berata hingga ke garis finis dengan menempuh jalanan yang tidak sedikit ditemui tanjakan dan turunan cukup terjal pada pukul 12.30 Wita, setelah sempat jeda selama kurang lebih lima menit.
Pelari sempat berhenti pada kilometer 25 untuk melakukan sembahyang di Pura Labuan Aji Temukus yang ada di pinggir rute yang dilalui. Setelah kurang lebih lima menit, Ketut Berata kembali melanjutkan aksinya. Tiba di Terminal Banyuasri, Berata disambut dan ditemani berlari hingga ke garis finis oleh Gede Kusuma Putra, anggota DPRD Provinsi Bali.
Tiba menginjak garis finis di Desa Jinengdalem, rasa bangga terpancar dari raut wajah Berata, terlebih setelah disambut dan dipeluk rangkul oleh anggota DPR RI Ketut Kariyasa Adnyana SP serta Gede Kusuma Putra dan Ni Kadek Turkini yang anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Buleleng.
Antusiasme masyarakat di Desa Jinengdalem juga tampak sangat tinggi menyambut kedatangan Ketut Berata yang sudah 42 tahun meninggalkan desa kelahirannya untuk kepentingan tugas ‘melanglang buana’ sebagai guru pada sejumlah sekolah. Terakhir, Berata menetap sebagai krama adat Desa Busungbiu, Kecamatan Busungbiu.
“Atas nama pribadi, PDIP, bangsa dan negara, saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Pak Tut Berata yang sudah menginspirasi kita, generasi muda atas idealismenya. Saya merasa terharu sekali Pak Tut bisa menyelesaikan kaulnya dengan sekses,” ucap Kariyasa Adnyana di garis finis.
Bagi Kariyasa, hari ini adalah peristiwa sejarah dan momentum besar. Di mana dirinya sebagai pekerja pantai, harus mulai gigih memenangkan calon Presiden RI untuk Pilpres 2024 yang telah diumumkan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputi. “Ibu Mega telah mengumumkan calon Presiden dari PDI Perjuangan adalah Ganjar Pranowo, yang kini menjabat Gubernur Jawa Tengah. Kami harus dukung itu,” ujar Kariyasa, penuh semangat.
Di sela penuh kegembiraan atas suksesnya Berata membayar ‘sesangi’, ucapan senada juga disampaikan Gede Kusuma Putra, Ni Kadek Turkini dan Nyoman Sukarmen. Para petugas partai tersebut senada mengatakan akan berupaya keras untuk mememangkan Ganjar Pranowo dan partai berlambang banteng moncong putih pada Pemilu 2024 mendatang.
Di samping itu, Sukarmen mengku bersyukur karena Ketut Berata sudah sampai dengan selamat rahayu di Jinengdalem bersama tim Busungbiu Bicycle Club yang melakukan pengawalan melekat sejak dari garis start di Desa Busungbiu. “Semua ini berkat rasa kebersamaan yang solid,” kata Sukarmen.
Gede Kusuma Putra juga merasa bangga menyaksikan semangat Ketut Berata yang juga didukung rasa kebersamaan dari keluarga besar Dadya Arya Kanuruhan Tangkas Kori Agung Desa Jinengdalem. Hal senada disampaikan Ni Kadek Turkini yang mengaku berbahagia atas keselamatan dan kesuksesan Ketut Berata dalam membayar ‘sesanginya’.
“Melalui kesempatan ini tiang mepunia sebagai rasa kasih sayang tiang kepada keluarga besar Pak Berata, dan semoga di tahun berikutnya tiang dapat berbuat lebih maksimal untuk masyarakat Buleleng,” kata Turkini, menyampaikan.
Usai acara penyambutan, dilakukan prosesi ritual agama Hindu untuk memutus rantai Dewa Rna, yakni sesangi atau kaul yang pernah disampaikan Ketut Berata. Ritual dilakukan di Sanggah Kemulan keluarga besar, diikuti dan disaksikan oleh manggala praja dan manggala adat Desa Jinengdalem. Yang disebut dengan Dewa Rna adalah utang manusia kepada Ida Sang Hyang Paraning Dumadi, Tuhan Yang Maha Agung.
Di akhir acara, Kariyasa Adnyana memberikan sentuhan rasa kasih sebesar Rp5 juta dan Turkini Rp2 juta kepada keluarga besar Ketut Berata. “Saya terharu dan bangga bisa membayar kaul ini, meski waktunya tentunda kurang lebih empat tahun lamanya,” ujar Berata, dengan milik wajah sumeringah bercampur haru usai semua rangkaian ‘sesangi’ dilaksanakan. (LE/Nom)







