Tokyo, LenteraEsai.id – Tak jauh dari hiruk-pikuk jalan raya di kawasan Kuramae, Tokyo, dua bendera kecil Merah Putih tampak terpasang bersilang membentuk huruf X di balik pintu kaca sebuah bangunan.
Tepat di antara kedua bendera, tergantung sebuah tulisan Open, Come In. Sementara itu, di atas pintu terbentang sebuah banner yang memperkenalkan identitas tempat ini: SUKA, Indonesian Convenience Store and Eatery, tertulis dalam bahasa Inggris dan Jepang. Bangunan berlantai dua ini membagi ruangnya secara fungsional. Lantai pertama berfungsi sebagai toko kelontong, sedangkan lantai kedua adalah area warung atau tempat makan.
Begitu memasuki ruangan di lantai satu, Theresia Tawan Gayatri Anggraini, sang pemilik SUKA, menyambut hangat dari area kasir.
Rak berisi pernak-pernik UMKM dari Indonesia menyambut pandangan. Isinya berbagai benda yang cocok dijadikan kado atau oleh-oleh untuk warga Negeri Sakura.
Bergerak lebih ke dalam, nampak berdiri jajaran rak lain yang memuat ragam bahan makanan asal Tanah Air
Di ujungnya terdapat kulkas berisi berbagai bahan makanan, termasuk cabe rawit, sumber rasa pedas yang jarang ditemui di masakan-masakan khas Jepang.
Mengingat perut sudah bergejolak karena sudah menunjukkan nyaris pukul 12.30 waktu setempat, kaki ini melangkah ke lantai dua, area tempat warung SUKA beroperasi.
Lagu-lagu Indonesia diputar keras, menghangatkan suasana.
Musik-musik era 90an hingga lagu yang viral belakangan ini di media sosial ada di daftar putar. Suara Once, Tulus, hingga Yura Yunita membuat bibir otomatis ikut berdendang sembari melihat-lihat isi restoran.
Bangku dan meja berjejer rapi di ruangan yang tak seberapa besar. Bagian pojoknya terlihat meriah berkat dinding yang ditempeli dengan potongan-potongan iklan majalah jadul.
Di sudut lain, terdapat penjelasan soal apa itu bakso dan mie ayam dalam bahasa Inggris dan Jepang, dikhususkan untuk tamu asing yang belum familier dengan jajanan khas Indonesia ini.
Informasinya meliputi apa saja bahan-bahan yang dipakai, bumbu, bahan pendamping, dan apa artinya bagi masyarakat Indonesia.
Berbagai foto-foto pengunjung, termasuk para pesohor yang pernah mampir untuk makan di sana juga dipajang, lengkap dengan kesan pesan mereka soal rasa mie ayam bakso di sana.
Sebetulnya menu di SUKA bervariasi, tak hanya mie ayam dan bakso, ada juga nasi tim ayam hingga ayam penyet.
Namun, hujan seharian yang mengguyur Tokyo hari itu membuat bayangan menyantap makanan berkuah hangat jadi sangat menggiurkan.
“Kashikomarimashita,” ujar Tere setelah ANTARA memesan mie ayam bakso dan es jeruk nipis madu.
Tak berapa lama, semangkuk mie ayam dan bakso pun datang, kali ini lengkap dengan otak-otak dan sausnya serta gorengan tahu tempe dan saus kecap pedas.
“Kalau mau pedas, ini ada sambal dan saus ya,” ujar Tere sambil menunjuk bumbu-bumbu yang tersedia di setiap meja. Bukan cuma itu, cuka sampai kecap untuk mereka yang suka memodifikasi mie ayam agar cita rasanya sesuai selera.
Ternyata, porsi mienya lumayan besar, tak hanya bisa mengganjal perut yang lapar, niat untuk mencari camilan usai dari SUKA agaknya kandas. Pugasannya terdiri dari potongan sawi dan daging ayam yang kuantitasnya tidak pelit, pangsit goreng, bawang goreng, dan daun bawang.
Baksonya disuguhkan dalam mangkuk kecil dengan kuah panas yang gurih. Tekstur baksonya mantap, kenyal dan padat dengan rasa daging yang sangat dominan, mengingatkan kepada bakso-bakso mahal di Indonesia.
Mie diaduk, kuah bakso diseruput. Nikmat! Agar lebih menggugah selera, tambahkan satu sendok sambal. Rasanya cukup pedas, membuat kian lahap.
Walau sudah mulai kenyang, masih ada gorengan yang menanti untuk ditelan. Tahu gorengnya unik, sebab bahannya bukan seperti tahu goreng di gerobak kaki lima, melainkan tekstur lembut tofu. Sambal kecapnya membuat gorengan tahu tempe ini langsung habis dalam sekejap. Rasanya otentik. Otak-otaknya pun tak kalah enak.
Es jeruk nipis madu menjadi pelengkap makan siang kala itu. Rasa pedas, gurih, dan asin dalam rongga mulut berganti dengan manisnya madu dan segarnya jeruk.
Harga mie ayam dan bakso di SUKA berkisar antara 1.100-1.300 yen termasuk pajak, harga yang standar untuk makan siang di Jepang.
Warung tersebut juga menyediakan tempat shalat yang terletak di lantai tiga, sebuah oase bagi pelancong muslim yang ingin mencari tempat shalat yang terbatas di luar negeri.
Rindu jajan
Theresia, yang sudah empat tahun bermukim di Jepang, memberanikan diri untuk membuka warung ini gara-gara kangen dengan jajanan Indonesia, khususnya mie ayam dan bakso. Setelah berburu ke sana-sini, belum ada yang cocok dengan seleranya.
Akhirnya, Theresia yang besar di keluarga yang berbisnis katering mencoba masak sendiri. Rupanya mie ayam buatannya juga disukai oleh teman-temannya. Dari situ, niat membuka warung mulai muncul.
“Di sini saya juga dibantu suami yang punya background F&B (makanan minuman), jadi banyak bantuan datang dari beliau, dari higienitas, cara packing, dan lain lain,” tutur istri Kenny Erawan Tjahyadi yang membuka kafe Kopi Kalyan di Harajuku, Tokyo.
Nama SUKA dipilih karena sangat Indonesia, punya arti yang positif, serta mudah diucapkan oleh orang Jepang, serta gampang ditulis dalam hiragana dan katakana.
Setelah mendapatkan tempat di Kuramae, yang relatif dengan dengan Asakusa, warung mie ayam sekaligus toko kelontong ini resmi beroperasi pada Februari 2025.
“Saya dan suami mau menciptakan satu tempat di mana terutama buat orang Indonesia agar bisa punya ‘rumah’ yang jauh dari rumah. Jadi dari (beli) kebutuhan pokok (untuk) di rumah, bisa makan juga, bisa dengar lagu-lagu Indonesia, bisa dilayani sama orang Indonesia yang bisa bahasa Indonesia, jadi nggak perlu pusing mikir dulu untuk bisa order,” ujarnya sambil tertawa.”
Memang tidak semua warung atau restoran di Jepang punya staf yang bisa berbahasa Inggris. Tempat makan yang sudah biasa melayani turis umumnya punya menu bahasa Inggris.
Mengingat semuanya dilakukan serba mandiri, jam beroperasi SUKA juga terbatas, yakni pukul 12 siang hingga 8 malam. Faktor ini juga yang membuat harga makanan di warung SUKA relatif terjangkau.
Ke depannya, ia berharap bisa tetap menjaga agar harga mie ayam dan bakso bisa tetap ramah di kantong saat karyawannya bertambah dan durasi jam operasional harian bisa lebih panjang.
“Biasanya kan restoran buka dari jam 11 siang ya, tapi saya cuma bisa satu shift, yang paling pas jamnya ya mulai jam 12 siang,” ungkap dia.
Tidak seperti tempat makan di Jepang yang mewajibkan setiap tamu untuk memesan satu menu, SUKA lebih fleksibel. Theresia tidak mempermasalahkan bila ada tamu yang memilih untuk berbagi menu, misalnya orang tua dan anak yang menyantap semangkuk mie ayam dengan porsi besar itu untuk berdua.`
Soal rasa, ia berusaha menjaga agar tetap otentik. Untuk mengakomodasi agar warga lokal yang rata-rata tidak terbiasa dengan pedas yang menyengat, sambal bisa disajikan secara terpisah.
“Tapi kalau rasa, nggak mengubah rasa yang ada di Indonesia.”
Theresia juga mengungkapkan rahasia di balik kelezatan mie dan bakso yang terjamin halal di warungnya. Ia menjalin kontrak dengan perusahaan mie di Jepang untuk memproduksi mie dengan bahan-bahan sesuai standar halal.
“Kalau bakso, ada salah satu produsen bakso sangat terkenal dan mereka setuju kerja sama dengan kami. Saya suka sekali dengan bakso produsen itu, kalau nggak ketemu dengan produsennya, mungkin saya nggak bisa jualan bakso,” papar dia.
Selama setahun beroperasi, ia bersyukur bisa punya pelanggan setia yang menyebarkan informasi soal warung ini dari mulut ke mulut, termasuk mahasiswa atau para diaspora yang membawa teman-teman mereka untuk makan bersama-sama. Meski awalnya didominasi oleh tamu Indonesia, saat ini pelanggannya bervariasi.
“20 persen orang Jepang, sisanya turis asing,” tutup dia. (LE)
Source







