Jerman-Indonesia Perkuat Riset Energi Terbarukan, Perubahan Iklim hingga Kecerdasan Buatan

Indonesia-Jerman
Konferensi pers bersama Presiden Layanan Pertukaran Akademik Jerman (DAAD), Joybrato Mukherjee, di Jakarta, Jumat (Foto: Dok Antara)

Jakarta, LenteraEsai.id – Pemerintah Jerman mendorong penguatan kemitraan akademik dengan Indonesia melalui peningkatan pertukaran mahasiswa, peneliti, dan pengembangan riset bersama di berbagai bidang strategis, mulai dari energi terbarukan hingga kecerdasan buatan.

Wakil Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Oliver Sperling, mengatakan kedua negara memiliki peluang besar untuk memperluas kolaborasi ant perguruan tinggi sekaligus menghasilkan penelitian yang mampu menjawab tantangan bersama.

Bacaan Lainnya

“Kami ingin mendorong lebih banyak mahasiswa dan peneliti untuk mengeksplorasi peluang yang ditawarkan oleh kedua negara, memperkuat kemitraan antar universitas, serta mengembangkan penelitian bersama di bidang energi terbarukan, perubahan iklim, keanekaragaman hayati, digitalisasi, dan kecerdasan buatan,” katanya dalam konferensi pers bersama Presiden Layanan Pertukaran Akademik Jerman (DAAD), Joybrato Mukherjee, di Jakarta, Jumat.

Sperling juga menyoroti keterjangkauan pendidikan tinggi di Jerman. Sebagian besar program gelar di universitas negeri Jerman tidak mengenakan biaya kuliah umum, sementara DAAD menyediakan beasiswa dan dukungan finansial untuk membantu mahasiswa memenuhi biaya hidup.

Menurutnya, kerja sama akademik perlu diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, peneliti, dan institusi kedua negara.

Sementara itu, Mukherjee menyampaikan bahwa pada 2025 DAAD mendukung lebih dari 600 warga Indonesia yang mengikuti studi, penelitian, dan kegiatan akademik lainnya di Jerman. Pada periode yang sama, hampir 250 mahasiswa dan peneliti Jerman menjalankan kegiatan akademik di Indonesia.

Ia menegaskan bahwa pertukaran akademik merupakan hubungan dua arah yang perlu terus diperkuat melalui beasiswa, penelitian bersama, pengelolaan perguruan tinggi, serta proyek yang berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Mukherjee berharap semakin banyak mahasiswa dan peneliti Indonesia memilih Jerman sebagai tujuan studi dan riset, serta semakin banyak warga Jerman yang menjadikan Indonesia sebagai tempat mengembangkan karier akademik.

Kedua pihak juga menyoroti peran alumni Indonesia lulusan Jerman dalam memperkuat hubungan profesional dan personal antarkedua negara. Sperling mencontohkan B.J. Habibie dan Toto Sugiri sebagai figur yang menunjukkan kontribusi pendidikan di Jerman terhadap perkembangan industri kedirgantaraan dan teknologi di Indonesia. (LE-Ant)

Pos terkait