Denpasar, LenteraEsai.id – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) mengajak para sineas mengangkat kekayaan kearifan lokal Indonesia dalam film yang didaftarkan ke festival-festival perfilman.
“Karena kekayaan luar biasa dari budaya Indonesia selain kekayaan kuliner dan wastra, kearifan lokal itu penting kita angkat kembali, dengan kondisi sekarang jati diri bangsa Indonesia tergerus berbagai aspek, kearifan lokal yang diangkat di film untuk mengingatkan kembali bahwa modernisasi penting, tapi ada hal-hal yang secara kultur mendamaikan kita,“ kata Direktur Film, Musik, dan Seni Kemenbud, Irini Dewi Wanti.
Irini dalam festival film internasional Balinale di Denpasar, Rabu, menjelaskan dengan sineas mengangkat kelokalan Indonesia dalam sebuah cerita, budaya Indonesia yang kaya akan semakin dikenal.
Kemenbud juga memastikan pemerintah hadir untuk mendukung, termasuk dalam hal pendanaan dengan berbagai skema.
“Kami mendukung, misalnya pendanaan dari Dana Indonesia Raya atau fasilitas-fasilitas, misalnya kalau ke luar negeri ada travel grant yang dari Dirjen Diplomasi, skema-skema ini bisa diakses lewat website kementerian,” ujarnya.
Tak hanya untuk festival film besar seperti Balinale dengan kualifikasi Oscar, Kemenbud ingin agar kearifan lokal masuk pada setiap film yang hadir mulai dari festival-festival tingkat kampus maupun komunitas.
Bagi sineas yang filmnya lolos di Balinale ke-19 tahun ini, Irini berpesan agar mereka memanfaatkan kesempatan dengan baik lewat belajar, terlibat dalam diskusi, dan memperluas jaringan dengan sineas global yang memiliki ciri khas beragam.
“Teruslah percaya pada kekuatan cerita kalian, cerita-cerita dari Indonesia memiliki tempat yang penting dalam percakapan global,” ucapnya.
Balinale ke-19 yang berlangsung 1-7 Juni 2026, meloloskan 94 film dari 38 negara, dimana 26 judul di dalamnya adalah karya sineas Indonesia.
Kemenbud berharap bagi mereka yang lolos menjadikan forum ini bukan hanya ruang untuk bertukar ide, tetapi juga peluang untuk membangun jaringan, menciptakan kolaborasi, dan semakin memperkuat posisi sinema Indonesia di panggung internasional.
Pemerintah menegaskan komitmen dalam mendorong film sebagai media budaya dengan kekuatan untuk melestarikan memori, mencerminkan identitas, menyampaikan nilai, dan memperkenalkan Indonesia kepada dunia.
Salah satu film garapan sineas Indonesia yang berhasil lolos, yaitu Bunga-Bunga di Jala Ikan atau dalam Bahasa Inggris diberi judul A Mixed Blessing karya sutradara sekaligus penulis Cinta Setia mengikuti arahan Kemenbud.
Alumni ISI Yogyakarta itu bercerita film pendek ini menceritakan tradisi sedekah Rawa Pening yang masih dipercaya sebagai upacara untuk menambah rezeki dan menghapus hal-hal buruk.
“Syutingnya aku di Danau Rawa Pening, Kabupaten Semarang, saya asalnya dari sana, film ini cerita tentang keluarga yang mengalami kesusahan finansial dan mereka hanya bisa mengandalkan tradisi, masyarakat daerah sana masih sering melaksanakan tradisi itu, melarung tumpeng setahun sekali untuk membuang sial dan memperlancar rezeki,” ujarnya.
Mengangkat kearifan lokal ini, membuat Cinta dan timnya berhasil meloloskan film ini ke Balinale, bahkan diterima Art of the Score di Juilliard.
Bagi mereka mengangkat kisah lokal tidak hanya mengantar film tersebut ke panggung internasional, namun juga mengajarkan mereka kekayaan Indonesia yang jarang tersorot.
“Saya jadi mengetahui menariknya cerita-cerita masyarakat yang justru tumbuh di dekat kita, tapi kita tidak sadar, itu di sebuah danau yang tidak sering media meliput, baik kebudayaannya maupun tradisinya, padahal tradisinya ada sampai sekarang,” tutur Cinta Setia. (LE)
Source: ANTARA







