Denpasar, LenteraEsai.id – Penyelenggaraan Ubud Food Festival dinilai semakin memperkuat posisi Ubud sebagai ikon budaya dan destinasi kuliner dunia yang mampu menarik perhatian wisatawan mancanegara sekaligus mempromosikan kekayaan pangan lokal Nusantara.
Pendiri Yayasan Mudra Swari Saraswati Ketut Suardana, dalam konferensi pers di Denpasar, Bali, Rabu, mengatakan Ubud memiliki nilai historis dan budaya yang kuat, sehingga menjadi lokasi strategis untuk penyelenggaraan festival berskala internasional, termasuk Ubud Food Festival.
“Ubud itu memiliki latar belakang panjang dan sudah dikenal dunia sejak lama. Dari sejarahnya, Ubud dikenal di mancanegara sejak era Expo Paris tahun 1931 pada masa Hindia Belanda,” ujar Ketut.
Menurutnya, citra Ubud sebagai pusat seni, budaya, dan kreativitas menjadikan kawasan tersebut memiliki daya tarik tinggi bagi wisatawan maupun pelaku industri kreatif dunia.
Ia menjelaskan sejak dahulu banyak seniman, penari, musisi, hingga tokoh budaya internasional datang dan menetap di Ubud sehingga membentuk identitas khas yang tidak dimiliki daerah lain.
“Ubud menjadi ikon budaya Bali dan mendapat respons luar biasa dari dunia internasional. Karena itu festival seperti Ubud Food Festival memiliki ciri khas kuat dan selalu diminati,” katanya.
Ketut menilai penyelenggaraan Ubud Food Festival juga memberi kontribusi besar dalam perkembangan industri kuliner kreatif, termasuk memperkenalkan tren gastronomi modern, kopi, hingga kolaborasi kuliner internasional.
Ia menambahkan festival tersebut sekaligus membuka ruang promosi bagi pelaku usaha lokal agar mampu bersaing dan memperluas pasar melalui sektor pariwisata berbasis budaya dan kuliner.
Selain mengangkat cita rasa makanan, Ubud Food Festival juga dinilai membawa pesan spiritualitas dan filosofi hidup masyarakat Bali yang menghormati alam serta sumber pangan.
Menurut Ketut, masyarakat Bali memiliki pandangan bahwa makanan bukan sekadar konsumsi, melainkan bagian dari persembahan suci dan bentuk rasa syukur kepada alam semesta.
“Makanan itu bukan hanya soal rasa, tetapi juga memiliki jiwa dan spiritualitas. Para chef lokal maupun internasional diharapkan tetap membawa nilai budaya dan tradisi dalam setiap sajian,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk terus memuliakan petani sebagai penjaga sumber pangan dan alam sejalan dengan semangat Sat Kerthi Loka Bali.
Melalui penyelenggaraan Ubud Food Festival, diharapkan kekayaan kuliner Nusantara semakin dikenal dunia sekaligus memperkuat ketahanan budaya, tradisi, dan pariwisata Bali yang berkelanjutan. (LE)
Source: ANTARA







