Dinkes Bali Tingkatkan Kewaspadaan Virus Nipah dari Ternak Babi

Dinkes Bali Tingkatkan Kewaspadaan Virus Nipah dari Ternak Babi
Kepala Bidang P2P Dinkes Bali I Gusti Ayu Raka Susanti.

Denpasar, LenteraEsai.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali memperkuat langkah antisipasi terhadap potensi penularan virus Nipah yang dapat ditularkan melalui hewan, khususnya ternak babi, mengingat Bali merupakan salah satu daerah dengan produksi babi terbesar di Indonesia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, mengatakan upaya pencegahan dilakukan melalui koordinasi lintas sektor, terutama dengan dinas pertanian, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan penularan virus tersebut pada hewan.

Bacaan Lainnya

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang secara alami dibawa oleh kelelawar dan dapat menular ke hewan lain, termasuk babi, sebelum akhirnya berpotensi menginfeksi manusia. Raka mencontohkan kejadian luar biasa (KLB) virus Nipah di Malaysia pada 1998 yang menyebabkan pemusnahan besar-besaran ternak babi akibat penularan ke manusia.

Meski hingga kini belum ditemukan kasus penularan virus Nipah di Indonesia, Dinkes Bali tetap meningkatkan kewaspadaan. Salah satu risiko penularan terjadi ketika kelelawar meninggalkan air liur pada buah yang kemudian dikonsumsi hewan ternak seperti babi.

Selain pengawasan terhadap hewan, Dinkes Bali juga memperketat pengendalian potensi masuknya virus dari luar daerah melalui lalu lintas orang di bandara dan pelabuhan dengan melibatkan Balai Besar Karantina Kesehatan.

Negara-negara yang menjadi perhatian utama antara lain Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, dan Thailand, yang sebelumnya menetapkan status kejadian luar biasa terkait virus Nipah.

Pemerintah Provinsi Bali memastikan hingga saat ini belum ada temuan kasus virus Nipah di wilayahnya. Namun, surveilans kesehatan terus dilakukan untuk memantau kemungkinan munculnya penyakit tersebut.

Seluruh fasilitas kesehatan di Bali juga dinyatakan siap menghadapi potensi kasus, mulai dari puskesmas, rumah sakit daerah, hingga rumah sakit swasta, termasuk kesiapan ruang isolasi, tenaga medis, dan obat-obatan.

Virus Nipah memiliki gejala awal menyerupai flu dan demam, namun dapat berkembang menjadi komplikasi berat seperti radang paru-paru dan radang otak, dengan tingkat kematian yang cukup tinggi.

Pemprov Bali mengimbau masyarakat untuk turut berperan dalam pencegahan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan secara rutin dan tidak mengonsumsi buah yang tidak terjamin kebersihannya. (LE-VJ)

Pos terkait