Gubernur Koster Perjuangkan Tekan Biaya Produksi Arak Bali

Arak Bali
Gubernur Bali Wayan Koster targetkan biaya produksi arak Bali oleh perajin semakin ringan, Badung, Kamis 29/1/2026. ANTARA

Badung, LenteraEsai.id – Gubernur Bali Wayan Koster menargetkan pengurangan biaya produksi arak Bali yang selama ini memberatkan perajin dan petani kecil.

“Masih ada satu perjuangan yang harus saya lakukan, yaitu bersurat kepada Menteri Keuangan agar pita cukai arak Bali lebih murah. Negara harus berpihak kepada rakyat kecil, karena arak Bali digeluti dan hidup dari masyarakat kecil,” kata Koster saat peringatan Hari Arak Bali ke-6 di Kabupaten Badung, Kamis (9/1/2026).

Bacaan Lainnya

Gubernur Bali menegaskan bahwa biaya yang perlu ditekan meliputi kemasan botol arak Bali dan besarnya pungutan cukai yang selama ini menjadi beban di hulu produksi.

Mulai dari botol kemasan, Pemprov Bali menemukan bahwa selama ini banyak perajin yang mengimpor botol dari China, sehingga di hadapan Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Koster meminta agar bisa tersedia di dalam negeri.

“Kalau bisa pak dirjen botolnya jangan lagi impor tapi buat di Indonesia, produk lokal Indonesia atau lebih bagus lagi di Bali supaya botolnya tidak usah lagi impor dari luar,” ujar Koster.

“Nah kalau nanti botolnya bisa diproduksi di dalam negeri lebih murah dia, lebih bersaing dia,” sambungnya.

Setelah perajin dan petani tak lagi terbebani oleh impor botol kemasan, mereka kembali dihadapkan pada besarnya biaya pita cukai.

“Setelah diolah jadi produksi dengan standar alkohol yang lolos BPOM, itu untuk bisa keluar (dijual) harus bayar pita cukai, arak yang 750 ml itu saja kena bea cukai Rp100 ribu,” kata dia.

Menurut dia biaya ini membebani perajin dan petani arak Bali, sejauh ini sebanyak 58 jenama arak Bali yang sudah lolos standarisasi dan berpita cukai harus menggelontorkan uang sebanyak itu untuk bisa menjual produknya.

“Jadi produknya belum laku tapi negara sudah dapat duit, Rp100 ribu lho, padahal petani araknya cuma dapat Rp40 ribu, harga botol kira-kira Rp30 ribu, ongkos produksi segala macam jadilah sekitar Rp150 ribu produksinya, sekarang tambah pita cukai lagi Rp100 ribu, jadi tinggi dia,” ujar Gubernur Koster.

Untuk itu Pemprov Bali menargetkan turunnya beban perajin atau petani arak Bali, sehingga mereka semakin bisa bersaing dengan produk minuman beralkohol luar negeri.

Dengan demikian cita-cita produk arak Bali masuk sebagai minuman spirit ketujuh dunia setelah whisky, rum, gin, vodka, tequila, dan brandy bisa tercapai.

“Mari kita doakan agar arak Bali ini menjadi minuman spirit ketujuh dunia, tapi supaya bisa masuk ke tujuh dunia harus dideskripsikan kekhasan produk arak Bali ini, memang sudah sangat khas tinggal mendeskripsikan agar secara ilmiah bisa diterima,” kata Koster. (ANTARA)

Pos terkait