Jakarta, 17/5 (ANTARA/LE) – Mei menjadi bulan yang penting bagi tanaman serta keanekaragaman tanaman karena terdapat dua momen penting.
Pada 12 Mei, dunia memperingati International Day of Plant Health atau Hari Kesehatan Tanaman Internasional dan pada 22 Mei 2025 diperingati hari keanekaragaman hayati.
Peringatan ini bukan sekadar bentuk seremonial dari komunitas global, melainkan panggilan penting bagi seluruh umat manusia bahwa kesehatan tanaman adalah aspek vital yang sangat menentukan kualitas hidup, mulai dari makanan yang dikonsumsi, udara yang dihirup, hingga lingkungan tempat tinggal.
Di Indonesia, negara megabiodiversitas dengan ekosistem pertanian dan kehutanan yang luas, isu kesehatan tanaman memiliki arti yang sangat strategis.
Namun, hingga kini, topik ini masih sering terabaikan dalam percakapan publik maupun dalam arah kebijakan pembangunan nasional.
Krisis pangan, kerusakan lingkungan, atau penurunan hasil panen lebih sering dibahas, tanpa menelisik akar masalah yang kerap tersembunyi di bawah permukaan, kesehatan tanaman yang terganggu oleh hama, penyakit, dan degradasi tanah.
Sebagai peneliti di bidang nematologi, ilmu tentang nematoda atau cacing mikroskopis, penulis banyak menemukan betapa kompleksnya persoalan yang dihadapi para petani.
Nematoda parasit, misalnya, dapat menyebabkan kerusakan akar secara masif tanpa gejala awal yang kentara di permukaan tanaman.
Akibatnya, petani sering terlambat melakukan penanganan. Penurunan hasil hingga 30 persen sampai 60 persen pun kerap dianggap sebagai nasib buruk atau efek cuaca, padahal ada proses biologis yang sebenarnya dapat dicegah dan dikendalikan.
Kontribusi Nyata
Peringatan Hari Kesehatan Tanaman Internasional seharusnya memicu refleksi mendalam.
Apa yang bisa disumbangkan untuk negeri ini? Kontribusi untuk menjaga kesehatan tanaman tidak harus berupa teknologi canggih atau program besar-besaran. Ia bisa dimulai dari hal sederhana tapi konsisten.
Sebagai peneliti, penulis meyakini bahwa sumbangsih terbesar berasal dari pengembangan ilmu pengetahuan yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Penelitian-penelitian yang dilakukan di laboratorium, seperti pengembangan metode identifikasi hama dan penyakit, sistem deteksi dini patogen secara cepat, hingga eksplorasi metode pengendalian biologi, fisik, kimia, dan pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT) semuanya diarahkan untuk membantu petani agar bisa mengelola lahannya dengan lebih bijak dan produktif.
Salah satu pilar utama dalam PHT adalah pemanfaatan musuh alami hama dan agens hayati patogen tanaman sebagai pengendali populasi hama dan patogen tanaman.
Musuh alami seperti parasitoid, predator, dan entomopatogen terbukti mampu menekan populasi hama secara efektif tanpa merusak ekosistem.
Demikian pula, agens hayati seperti Trichoderma harzianum, Pseudomonas fluorescens, dan Bacillus subtilis telah banyak dimanfaatkan dalam mengendalikan penyakit tular tanah secara ramah lingkungan.
Pendekatan ini bukan hanya menurunkan ketergantungan pada pestisida kimia, tetapi juga memperkuat ketahanan tanaman terhadap serangan patogen secara alami.
Di sinilah pentingnya membangun kesadaran bahwa menjaga keberagaman mikroorganisme tanah dan ekosistem pertanian adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan tumbuhan.
Namun sains saja tidak cukup. Perlu keterlibatan aktif dari petani, penyuluh, pemerintah daerah, hingga masyarakat umum.
Edukasi tentang kesehatan tanah, pentingnya rotasi tanaman, penggunaan agens hayati, dan penggunaan pestisida kimia sintetis secara bijaksana harus terus digaungkan. Banyak petani yang masih mengandalkan warisan pengetahuan lama tanpa didukung data ilmiah yang memadai.
Selain itu, penting untuk mendorong penguatan kapasitas petani melalui pelatihan dan pendampingan berbasis kebutuhan lokal.
Program-program perlindungan tanaman seharusnya tidak hanya fokus pada distribusi pestisida, tetapi juga mengintegrasikan pendekatan agroekologi, pemantauan hama secara partisipatif, serta kolaborasi dengan akademisi dan lembaga riset. Inovasi lokal yang lahir dari lapangan patut diapresiasi dan dijadikan bagian dari solusi nasional.
Negara dan Masyarakat
Negara memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kesehatan tanaman. Pemerintah harus memastikan bahwa sistem pengawasan dan karantina tumbuhan berjalan efektif, baik di pintu masuk pelabuhan, bandara, maupun perbatasan darat.
Patogen tumbuhan dari luar negeri, termasuk hama invasif, dapat masuk dan menyebar dengan cepat apabila tidak diawasi ketat. Indonesia pernah menghadapi kasus seperti serangan Fall Armyworm (Spodoptera frugiperda) dan penyakit layu pisang akibat Fusarium oxysporum TR4 yang menyebabkan kerugian besar dan sulit dikendalikan.
Selain itu, investasi pada riset-riset lokal di bidang proteksi tanaman juga harus ditingkatkan.
Masih banyak patogen lokal yang belum teridentifikasi secara tuntas karena keterbatasan laboratorium, sumber daya manusia, dan dana riset. Padahal, memahami patogen secara akurat adalah kunci pengendalian yang efektif.
Masyarakat juga memiliki peran. Konsumen dapat berkontribusi melalui pilihan produk yang lebih berkelanjutan, seperti membeli hasil pertanian lokal, mendukung sistem pertanian organik, dan tidak menyia-nyiakan makanan.
Selain itu, semua bisa menjadi agen perubahan dengan menyuarakan pentingnya perlindungan tanaman dan sistem pertanian berkelanjutan dalam forum publik.
Kesehatan tanaman adalah pondasi dari keberlanjutan hidup di planet ini. Tanaman menyediakan makanan, menyimpan karbon, menjaga struktur tanah, dan menjadi rumah bagi ribuan spesies lainnya.
Ketika tanaman sakit, dampaknya bukan hanya gagal panen, tetapi bisa merambat pada krisis gizi, kerusakan ekosistem, hingga hilangnya sumber penghidupan masyarakat desa.
Hari Kesehatan Tanaman Internasional adalah momentum penting untuk menyatukan langkah.
Indonesia harus berdiri sebagai bangsa yang menghormati dan merawat sumber daya alamnya, dimulai dari unit terkecil, tumbuhan.
Melalui kolaborasi lintas sektor, antara ilmuwan, petani, pembuat kebijakan, dan masyarakat, semua pihak bisa menciptakan sistem pertanian yang tangguh, adil, dan berkelanjutan.
Menjaga tanaman berarti menjaga kehidupan. Dari sinilah masa depan bangsa dimulai. (ANT/LE)







