Delegasi K-Eco Korsel Kunjungi TPST Desa Mengwitani

Delegasi K-Eco Korsel mendatangi TPST Desa Mengwitani, di Kecamatan Mengwi Badung. Kemudian kembali bertemu Ketua DPRD Badung sementara I Putu Parwata di ruang kerjanya. (Foto: Humas DPRD Badung)

Mangupura, LenteraEsai.id – Delegasi Korean Environment Corporation (K-Eco) in South Korea, Jumat, 09 Agustus 2024 sekira pukul 10.00 WITA mendatangi tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Badung. Tujuannya untuk mendapat data dan gambaran nyata tentang sistem pengolahan sampah di Kabupaten Badung.

K-Eco yang merupakan BUMN Negara Korea Selatan itu yang menangani regulasi penanganan sampah. K-Eco akan membantu Pemkab Badung mencari solusi dalam penanganan sampah. Karena Pemkab Badung hingga saat ini belum berhasil menangani produksi sampah di daerahnya. Dimana produksi sampah di Badung 500 ton lebih per hari.

Bacaan Lainnya

Di TPST Mengwitani delegasi K-Eco Korsel yang dipimpin Ok Seung Cheol mencermati pengolahan sampah. Juga memperhatikan teknologi yang digunakan. Sekaligus melakukan interview dengan petugas pengelola TPST Mengwitani.

Setelah mengunjungi TPST Mengwitani, delegasi K-Eco Korsel berjumlah enam orang itu kembali bertemu Ketua DPRD Badung sementara I Putu Parwata. Rombongan diterima di ruang kerjanya untuk menyampaikan hasil kunjungannya.

Menurut Ketua DPRD Badung sementara Putu Parwata, delegasi K-Eco Korsel melihat masih banyak sampah yang harusnya masih bisa didaur ulang, tetapi itu tidak dilakukan. Karena sebetulnya sampah memiliki multiplayer efeck ekonomi bagi masyarakat. Tidak bisa semua sampah ujug -ujug dibakar. Melainkan mesti dipilah-pilah. Misalnya sampah plastik, kertas, besi, karton dan sebagainya. Semua itu bisa diolah kembali dan bernilai ekonomi bagi masyarakat.

“Kita di Badung selama ini kan cendrung berpikir bagaimana sampah habis dibakar. Padahal sampah memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Ditanya awak media massa teknologi pengolahan sampah seperti apa yang pas diterapkan di Badung? Kata Parwata, tim K-Eco Korsel belum sampai pada kesimpulan. Mereka melakukan penelitian dan mengumpulkan data dulu. Mereka perlu waktu dan proses.

“Yang jelas, dibutuhkan regulasi tentang pengaolahan sampah dari pemerintah. Jadi kita nanti mengadopsi regulasi di Korsel yang dibikin K-Eco. Sehingga berhasil membikin Korsel clear and clean, Korsel sampai minus sampah, ” jelasnya.

Pewarta: I Made Astra
Redaktur: Laurensius Molan

Pos terkait