Kintamani, LenteraEsai.id – Sektor pertanian menjadi salah satu perhatian yang diprioritaskan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali demi bangkitnya kembali perekonomian daerah, pascapandemi Covid-19.
Ditemui ketika tengah melakukan kunjungan ke petani bawang yang berada di Desa Songan B, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli pada Senin (11/12/2023), Kepala OJK Provinsi Bali Kristrianti Puji Rahayu menyebutkan bahwa OJK Provinsi Bali menginginkan untuk mengorkestrasikan antara pendampingan disertai penawaran Kredit Pembiayaan Sektor Prioritas (KPSP) kepada para petani.
“Kami harapkan kredit tersebut dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para petani,” kata Kristrianti dengan mengungkapkan bahwa pihaknya telah memiliki model kredit atau pembiayaan sektor prioritas (KPSP) pertanian. Nanti pertaniannya menyesuaikan dengan potensi daerah yang dimiliki.
Dia melanjutkan, percontohan pertama rantai nilai dengan model KPSP telah dilaksanakan untuk sektor pertanian padi di Subak Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan pada Oktober 2023. Skema KPSP itu menjadi acuan untuk program Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) sektor pertanian.
Tahun 2024, ucapnya, pihaknya akan memasifkan KPSP, yang mana akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, sektor apa yang menjadi prioritas dan di daerah mana. “Nanti dibuat percontohan seperti Subak Bengkel,” ucap Puji, menjelaskan.
Pada tempat yang sama, Ketua Kelompok Tani Sejati Banjar Dalem, Desa Songan B Kintamani Ketut Lama mengatakan kelompoknya merupakan para petani bawang merah, yang selama ini mendapatkan pembinaan dan akses pembiayaan.
Ia menyebutkan, dari 30 anggota di kelompok tani yang berada di kaki Gunung Batur itu, 11 orang di antaranya mendapatkan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbasis klaster pertanian dari BUMD, PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali. Pada 2023 nilai KUR yang diterima mencapai Rp670 juta dengan bunga mencapai enam persen per tahun.
Pembiayaan itu salah satunya dimanfaatkan untuk sistem pengairan dengan metode penyemprotan (sprinkle) yang airnya bersumber dari Danau Batur, sehingga membuat kondisi tanah lebih subur dan berkontribusi meningkatkan produktivitas.
Adapun mengenai produksi bawang merah untuk lahan seluas satu hektar, rata-rata mencapai sekitar 20 ton, yang saat ini tak hanya diserap pasar di Bali, tetapi juga hingga ke Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, ujarnya.
Ia mengatakan, per tahunnya, lahan di daerah ini rata-rata mengalami sebanyak empat kali musim panen, di mana bawang merah termasuk daunnya, saat ini dijual ke pengepul seharga Rp21 sampai Rp22 ribu per kilogramnya.
“Semoga anggota kelompok kami mendapatkan bantuan cold storage untuk penyimpanan hasil panen. Moga perbankan selanjutnya membantu permodalan kami supaya usaha pertanian bawang merah di Songan B ini menjadi semakin berkembang,” kata Ketut Lama, mengharapkan.
Pewarta: Tri Vivi Suryani
Redaktur: Laurensius Molan







