Kuliner Tradisional ‘Goyang Lidah’ Turis Internasional di Arena Lovfest 2023

Alena Moréno, wisatawan asal Prancis, menenteng masakan tradisional khas Buleleng yang dibelinya di arena Lovina Festival. (Foto: dok Diskominfosanti Buleleng)

Singaraja, LenteraEsai.id – Wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke arena Lovina Festival (Lovfest) 2023 di Pantai Lovina Singaraja, Kabupaten Buleleng, tidak hanya tertarik menyaksikan pertunjukan seni budaya, namun juga tidak sedikit yang menjadikannya sebagai ajang untuk menjajal kuliner tradisional khas daerah setempat.

Sejumlah wisman terlihat membeli masakan khas Buleleng yang dijajakan pada beberapa stand kuliner binaan Dinas DagperinkopUKM Buleleng yang berjualan di arena Lovfest 2023. Salah satunya adalah Alena Moréno asal Prancis.

Bacaan Lainnya

Hadir ke arena Lovfest 2023 pada hari terakhir kunjungannya di Pulau Dewata, Sabtu (22/7/2023) malam, Alena menyempatkan diri untuk membeli bubur mengguh dan blayag khas Tejakula, dibungkus untuk dibawa ke tempatnya menginap. Ini merupakan yang pertama kali dirinya membeli makanan tersebut.

“Aku pernah mencoba nasi goreng dan gado-gado khas Jawa. Kalau kuliner khas Bali sih, pernah makan pepes tuna,” ujar Alena sebari terus menatap deretan stand yang menjajajakan masakan tradisional.

Masakan khas Bali pada umumnya mengandung bumbu yang kuat dan rasa yang pedas. Namun, Alena mengaku tidak takut mencobanya. Malah, dirinya merupakan penggemar masakan pedas. “Masakan Bali sangat enak, rasanya pas, tidak terlalu kering, seperti pepes itu aku memakannya juga dengan nasi,” imbuhnya.

Pada kunjungan berikutnya nanti, Alena mengaku ingin mencoba memasak sendiri masakan Bali. Ia mempertimbangkan untuk mengambil kelas memasak. “Aku akan ikut kelas memasak, aku akan mencoba banyak bumbu, rempah-rempah. Memasaknya dengan nasi dan ayam,” kata Alena.

Senada juga disampaikan oleh Hector Cuenca, wisman asal Spanyol. Ia mengatakan bahwa ada seseorang yang menanyakan makanan apakah yang paling disukainya di Bali ?. “Sulit saya jawab pertanyaan itu, karena saya menyukai semuanya,” ujar Hector sambil tersenyum.

Hector mengaku suka masakan Bali karena cenderung sangat pedas. “Mungkin kebanyakan orang Barat tidak kuat memakan makanan pedas, tetapi aku menyukainya,” ucapnya.

Pengalaman yang menyenangkan Hector rasakan setiap mengunjungi pedagang kuliner lokal. Dirinya menyukai konsep penyajian lauk dan sayuran yang disajikan seluruhnya, sehingga ia dapat memilih lauk favoritnya atau mencoba yang baru.

Sementara dari pihak pelaku usaha kuliner, Nyoman Sudi Paharta asal Desa Tejakula, menjual masakan khas daerahnya yaitu blayag dan mengguh di arena Lovfest 2023. Bersama dengan keluarga, dirinya berkesempatan berjualan pada lapak UMKM kuliner tradisional binaan Dinas DagperinkopUKM Buleleng. Sudi mengungkapkan ada beberapa wisman yang bebelanja di tempatnya.

“Lumayan, saya mengikuti satu hari full kegiatan di sini kemarin pada hari pertama, ada sekitar 8 orang wisman yang membeli di kami, hari kedua ini juga ada beberapa,” ungkapnya.

Menurut pengamatan Sudi, kebanyakan dari wisman itu belum pernah mencoba makanan khas Tejakula seperti yang dirinya jajakan. Namun, karena penyajiannya yang unik, mereka tertarik untuk memesannya. “Mungkin mereka melihat, makanan di sini dibuat dari bahan organik, dan unik dibungkus dengan daun,” kata Sudi.

Melihat banyak wisman yang antusias terhadap makanan tradisional seperti yang dirinya jajakan, Sudi berharap masakan tradisional khas Desa Tejakula dapat dikenal lebih luas lagi.  (LE/Bel)

Pos terkait