Pameran Seni Rupa ‘Politik Titik-titik’, Warnai Perayaan HUT ke-7 Tatkala Co di Singaraja

Adnyana Olle (kanan) membuka pameran seni rupa 'Politik Titik-titik' di Singaraja, Minggu (7/5) (Foto: LenteraEsai/Anom Wijaya)

Singaraja, LenteraEsai.id – Pameran seni rupa yang mengusung tema ‘Politik Titik-titik’ digelar serangkaian perayaan hari ulang tahun ke-7 Tatkala Co yang jauh pada bulan Mei 2023, di Rumah Belajar Komunitas Mahima Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali bagian utara, Minggu (7/5/2023).

Pemeran yang akan digelar hingga 28 Mei mendatang itu, dibuka oleh penyair yang juga wartawan senior Made Adnyana Olle. Tampak hadir sejumlah pengamat dan pemerhati seni, di samping para ‘perajin kata’ serta penekun seni rupa dan masyarakat umum lainnya.

“Pameran lukisan ini sangat menggelitik karena saya juga penikmat seni lukis, apalagi ini nampaknya penuh dengan pesan moral,” ujar Dr Arya, pengamat seni yang turut hadir melihat beberapa hasil karya para pelukis Buleleng itu.

Lukisan yang dipamerkan memang cukup beragam dan penuh dengan keunikan, hasil kreasi imajinasi para pelukis menjelang hajatan politik tahun 2024.

Kadek Susila Priangga menampilkan lukisan bertajuk ‘I Like Money’, ‘Terkurung Bebas’, dan ‘Never Let It Go’. Sementara perupa Dodik Ariawan yang menggoreskan karyanya di atas media daun lontar, memajang ‘kabisanya’ yang diberi judul ‘Dua Sisi’.

Pelukis lain yakni Ahmad Nur Faizin memamerkan ‘buah tangannya’ yang bertitel ‘Jangan-jangan Sengkuni’ dan ‘Nafsu Manusiawi’, serta Made Wijana menampilkan lukisan ‘Garuda Menangis’.

Seniman Poleng Rediyasa mengatakan, dalam era hyperrealitas sekarang ini sudah semestinya karya seni rupa merambah dunia politik guna menyampaikan pesan agar dunia perpolitikan yang adiluhung tidak semakin utopis. Mengenai pasar, terserah para perupa dan penikmat lukisan yang menentukan.

Di samping itu, lanjut dia, sangat diharapkan para pelukis dapat menjelaskan secara lugas tentang arti dan makna lukisan yang dihasilkan, sehinga para pecinta seni lukis merasa lega walaupun para seniman tidak dapat memuaskan semua orang. “Tuhan saja tidak dapat memuaskan semua umatNya, apalagi kita yang hanyalah manusia tak sempurna,” ujarnya, menandaskan.

Tema pameran seni rupa ‘Politik Titik-titik’, kata Adnyana Olle, bebas untuk ditafsir dan diterjemahkan menurut selera penikmat, karena selera tidak dapat diperdebatkan. “Melalui pameran ini saya ingin menyentuh para generasi muda agar tidak apatis terhadap politik,” kata pria berambut dan berjengot panjang asal Tabanan itu.

Pada kesempatan mendatang yang belum dapat ditentukan jadwalnya, Adnyana Olle mengaku akan memantik semangat kaum muda untuk dapat menorehkan ekspresi politiknya dalam bentuk lukisan dan karya rupa lainnya di waktu mendatang.  (LE/Nom)

Pos terkait