Retakan Baru Muncul di SMPN 3 Bebandem, Dikhawatirkan Bangunan Sekolah Amblas

Karangasem, LenteraEsai.id – Timbulnya cuaca buruk beberapa waktu lalu, telah mengakibatkan terjadinya tanah longsor yang menggerus Pelinggih Padmasana di bagian halaman SMPN 3 Bebandem, Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem.

Pancakejadian itu, kini menyusul timbulnya retakan baru di atas permukaan tanah yang ada di samping bangunan sekolah yang berdiri di atas jurang bekas galian C itu. Akibatnya, beberapa ruang kelas dan bangunan WC tidak dapat difungsikan lagi.

Bacaan Lainnya

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 3 Bebandem Ida Wayan Gotama Adi Putra, ketika dihubungi Senin (12/12), membenarkan beberapa ruang kelas dan WC di sekolah tidak dapat difungsikan lagi setelah adanya retakan tanah pascabencana tanah longsor belum lama ini.

Tidak dapat difungsikan karena kondisi beberapa bangunan tersebut belakangan semakin mengkhawatirkan. Bangunan ditakutkan mendadak longsor atau ambruk ke dasar jurang, terlebih kini terdapat retakan baru yang memanjang dari utara ke selatan.

Dikatakan, setelah dicermati, retakan tersebut memanjang mulai dari ruang gedung kesenian sekolah hingga ke samping ruang kelas 8C. Hal ini menambah kekhawatiran para guru, utamanya atas keselamatan anak didiknya, karena bisa saja sewaktu-waktu sekolah tersebut amblas jatuh ke dasar jurang.

Ida Wayan Gotama Adi Putra yang juga merangkap sebagai seorang guru mengungkapkan, timbulnya retakan tersebut baru diketahui pada hari Jumat (9/12) lalu. Akibatnya, ruang kelas 8C tersebut terpaksa dikosongkan.

“Sebelumnya beberapa ruangan sudah kami kosongkan, seperti Lab IPA, Lab Komputer, beberapa ruang kelas yang lain, kantin dan bangunan WC,” ujar Adi Putra sembari menyebutkan bahwa kegiatan belajar mengajar kini terpaksa dipindahkan ke lapangan bawah sekolah.

SMPN 3 Bebandem kini tercatat memiliki 325 siswa yang terbagi dalam 12 rombongan belajar (rombel). Dengan jumlah itu, tentunya ruang kelas untuk belajar menjadi berkurang, karena beberapa tidak dapat lagi difungsikan.

Untuk mengamankan agar siswa tidak menjelajah ke tempat-tempat rawan di sekolah tersebut, selain sudah dibentangkan tali pembatas dan garis polisi yang tidak boleh dilewati, para guru juga berinisiatif menanam pohon gamal di tepi senderan samping sekolah yang sempat longsor.

Melihat kondisi yang demikian, Adi Putra berharap adanya penanganan lebih awal, sehingga proses belajar mengajar dapat dilakukan dengan semestikan, dan dapat berlangsung dengan lebih tenang.

“Kami harapkan ada penanganan lebih awal dari yang berwenang. Kalau memang belum bisa secara total atau besar-besaran, kami mohon agar bagaimana supaya aliran air yang menuju halaman atau senderan di timur bagunan sekolah, dapat dialihkan ke tempat lain, sehingga ruang-ruang kelas senantiasa terhindar dari kikisan air yang dapat menimbulkan bencana longsor,” ujarnya.

Pihak sekolah juga mengharapkan adanya pengontrolan bangunan yang  lebih seksama untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya. “Sejauh mana keparahannya, apakah betul ruang ini memang tidak bisa difungsikan lagi ?. Mengingat semester dua sudah dekat, yakni pada bulan Januari 2023,” ujar Adi Putra, menekankan.

Sementara terpantau di sebelah timur bangunan sekolah, yakni di badan Sungai Bah Api sudah ada eskavator yang menggali tanah untuk membuat jalan air guna mengantisipasi abrasi semakin parah jika kembali terjadi  hujan deras. Langkah itu juga dimaksudkan untuk meminimalisir risiko gedung SMPN 3 Bebandem longsor atau ambruk ke dasar jurang. (LE-Ami) 

Pos terkait