Imbas BBM Naik, Harga Kedelai Ikut Naik, Produsen Tahu dan Tempe Serba Sulit

Karangasem, LenteraEsai.id – Sejak naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa pekan lalu, banyak bahan makanan dan kebutuhan pokok ibu rumah tangga lainnya yang harganya ikut beranjak naik. Salah satunya ialah kedelai.

Naiknya harga bahan baku bagi pembuatan tempe dan tahu itu, tentu berimbas kepada para pengusaha dan perajin rumahan yang selama ini memproduksi kedua jenis penganan tersebut. Mereka menjadi serba sulit.

Bacaan Lainnya

Salah seorang perajin tahu di Lingkungan Bangras, Kota Amlapura, Karangasem ketika ditemui, Senin (26/9) mengaku pendapatan mereka kini menurun akibat mahalnya harga kedelai. “Kami memproduksi tahu biasanya per hari memakai 1 kampil kedelai yang isinya 50kg. Nah, sekampil kedelai itu sekarang harganya Rp638.000, jadi keuntungan kami sangat menipis,” kata Ny Halimah (53), salah seorang perajin tahu.

Dulu, lanjut dia, satu kampil kedelai dihargai Rp 500 ribu, namun belakangan naik secara bertahap hingga kini telah mencapai Rp638.000 per kampil, ucapnya, menjelaskan.

Meski begitu, ia mengaku tidak menaikkan harga tahu yang diproduksinya kepada warga yang sudah menjadi pelanggannya. “Harga jual ke pelanggan tidak kami naikkan, bahkan ukuran cetak panjang dan tebal tahu tidak juga kami kurangi, alias masih sama seperti semula,” katanya.

Baik Ny Halimah maupun beberpa produsen tahu yang lain, mengaku tidak berani menaikkan harga ataupun mengurangi ukuran tahu yang dijual, karena takut pembeli semakin berkurang jumlahnya.

“Harga dan ukuran tahu yang tidak berubah saja, permintaan belakangan ini sudah terus menurun, apalagi jika ukurannya diperkecil, habis pelanggan kami,” ujarnya sembari menyebutkan, kenyataan ini tentu berimbas pada keuntungan yang didapatkan menjadi semakin menipis.

Keuntungan yang menipis dan permintaan yang berkurang tersebut membuat Ny Halimah harus mengurangi hasil produksinya. Di mana dulu ketika normal produksi tahu bisa mencapai 100 kg per hari, namun sekarang tidak lebih dari 75 kg.

Demikian pula beberapa perajin tempe di Lingkungan Segara Katon, Kecamatan dan Kabupaten Karangasem menyampaikan hal yang sama. Akibat harga kedelai naik, pihaknya tidak berani menaikkan harga jual tempe ke pelanggan.

Namun berbeda dengan perajin tahu yang tidak berani mengecilkan ukuran, justru perajin tempe malah menempuh jalan dengan menipiskan ukuran tempe yang kini diproduksinya.

“Iya, mau tidak mau kami tipiskan dan kurangi jumlah tempe yang kami bungkus. Kedelainya kami kurangi sejumput per bungkusnya, tapi pelanggan sudah maklum dan mereka mengerti,” kata Ny Suryani, salah seorang karyawan pada perajin tempe di daerah itu, menyampaikan.

Langkah mengecilkan ukuran tempe yang diproduksi, dimaksudkan untuk tidak menaikkan harga tempe per bungkusnya, meski bahan bakunya mengalami lonjakan harga yang cukup tinggi, ucapnya. (LE-Ami) 

Pos terkait