Gianyar, LenteraEsai.id – Untuk mencegah meluasnya penularan penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang sapi, Satgas PMK Kabupaten Gianyar dibantu tim vaksinator dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Bali dan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana (FKH Unud), melaksanakan kegiatan vaksinasi hewan serempak di dua desa yakni di Desa Bona Kecamatan Blahbatuh dan Desa Tulikup Kecamatan Gianyar, serta penyisiran di Desa Serongga, pada Kamis (14/7).
Pada kegiatan vaksinasi ini, menyasar ternak sapi yang ada di kandangnya masing-masing secara door to door. Kegiatan vaksinasi juga dibarengi dengan edukasi kepada pemilik sapi terutama dalam menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternaknya. Pada kegiatan vaksinasi tersebut, Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Bali Prof Dr Drh I Ketut Puja MKes yang ikut sebagai vaksinator berharap para peternak dapat secepatnya melapor kepada dinas yang menangani fungsi kesehatan hewan atau dokter hewan terdekat, bila menjumpai ternaknya yang sakit.
Menurutnya, pemberian PMK ini diperuntukkan bagi sapi yang sehat untuk memberikan kekebalan tubuh sapi, agar tidak terinfeksi penyakit kuku dan mulut yang saat ini sedang menyerang hewan ternak khususnya sapi. “Melalui vaksinasi ini kita harapkan dapat membantu mencegah penyebarluasan penyakit, terutama di sentra peternakan sapi,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan Ketut Puja, bahwa pemberian vaksin ini untuk menangkal PMK, yaitu vaksinasi pertama kalinya. Selanjutnya empat minggu kemudian sapi tersebut akan mendapat dosis vaksin kedua. Lalu enam bulan kemudian akan mendapat vaksin booster PMK. Diharapkan dengan vaksinasi teratur ini, Bali akan bebas kembali dari PMK.
Perlu diketahui, Gianyar adalah kabupaten pertama yang dinyatakan positif PMK, setelah terkonfirmasinya virus penyebab PMK pada sapi di Medahan Keramas, Gianyar yang sumber penularnya sampai saat ini belum diketahui dengan jelas. Dengan kolaborasi semua komponen untuk bergerak bersama diharapkan Gianyar yang semula dikategorikan daerah merah akan secepatnya menjadi hijau, ucapnya.
Ketua PDHI Bali berharap tidak hanya Satgas yang sigap serta relawan yang siap turun ke lapangan, namun sangat diperlukan peran serta masyarakat pemilik sapi terutama mengantar serta menunjukkan tempat sapinya. Hal ini terasa sangat menghambat cakupan vaksinasi bilamana kandang yang dituju tidak ada pemiliknya.
Vaksinasi juga akan terhambat bila aparat di tingkat banjar, subak atau ketua simantri tidak siap dengan data lokasi dan jumlah sapi yang akan ditangani. “Hanya dengan kesiapan semua pihak cakupan vaksinasi akan bisa ditingkatkan,” katanya. (LE-GA)
Sumber: www.unud.ac.id







