Badung, LenteraEsai.id – Sarman (38), warga asal Dusun Purnojiwo, Lumajang, Jawa Timur, tercatat sudah sejak tahun 2002 merantau ke Bali untuk mengadu nasib. Dengan berbekal pendidikan kelas V sekolah dasar (SD), ia nekat meninggalkan kampungnya untuk mencari pekerjaan setelah gagal berkebun semangka di atas lahan dua hektar milik mertuanya.
“Waktu itu dua ekor sapi saya jual untuk modal tanam semangka. Tetapi saat panen tiba, harga buah semangka terlalu murah, saya pun bangkrut. Modal dua ekor sapi tidak balik,” cerita Sarman ketika ditemui pewarta LentetaEsai.id (LE) di wilayah Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung pada Rabu, 26 Januari 2022 lalu.
Setelah berada di Bali, Sarman bertekad bekerja apa saja yang penting halal. Kemudian ia melihat peluang pekerjaan gali-menggali tanah. Yaitu menggali lubang untuk menanam cakar ayam pada proyek bangunan. Ada pula penggalian untuk septicteng (lobang penampung limbah WC red-) dan sebagainya. “Ketika itu saya melihat pekerjaan itu belum banyak dilirik orang. Pekerjaan itulah saya tekuni sampai sekarang. Ada saja yang ngasi pekerjaan. Saya juga promosi di media soasial facebook (fb),” tutur Sarman.
Menurut pria satu anak itu, pekerjaan galian tanah itu, cukup berat. Tetapi ia harus lakoni untuk bisa mendapatkan uang untuk menafkahi istri dan anaknya. Kata dia, habis mencari pekerjaan lebih bagus tidak mungkin. Karena pendidikannya cuma Kelas V SD. Ia sadar itu, maka ia mensyukuri pekerjaan yang didapat. Sekarang ia sudah kenal banyak pemborong bangunan. Kalau ada pekerjaan galian, ia pasti dihubungi. Kadang ia juga keliling mencari-cari, di mana ada orang sedang membangun.
“Kalau bapak ada teman cari tenaga penggali septiteng atau lobang cakar ayam, kasi tahu saya. Nanti bapak dapat juga uang rokok,” pinta Sarman kalem.
Cuma ia tidak mau membocorkan berapa ongkos menggali satu lobang. Ia hanya mengaku, cukup atau sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Hambatan pekerjaannya, kalau tanah berair atau berbatu. Perkakas untuk bekerja, yaitu panyong, sekop. “Pekerjaan ini cukup menguras tenaga,” katanya ditemui saat istirahat.
Keluarga Sarman sendiri berada di kampungnya di Purnojiwo, Lumajang. Hasil keringatnya dikirim ke istri, untuk biaya dapur. Ia mengaku masih punya hutang kreditan sepeda motor di bank. Anak satu-satunya hasil pernikahannya sudah kelas II SD. Pria ini bertekad menyekolahkan anaknya semampunya. Agar tidak seperti dirinya tidak mengantongi ijazah, karena putus sekolah.
“Saya putus sekolah, karena tidak ada biaya. Kelas IV SD saya sudah ikut cari ikan ke laut. Melautnya di perairan Puger, Jawa Timur,” kisahnya. (LE – Ima)







