BadungHeadlines

Dulu Urus Pasien, Pensiunan PNS Kini Sukses Urus Lebah Kele

Badung, LenteraEsai.id – Setelah purnatugas dari pegawai negeri sipil (PNS), sesungguhnya banyak aktivitas yang bisa dilakukan agar tidak jadi pengangguran. Baik terjun pada suatu hal yang hanya sekedar hobi, ataupun bentuk kegiatan lain yang menghasilkan uang.

Alangkah lebih baiknya bila aktivitas yang kemudian diterjuni oleh para pensiunan adalah seputar hobi sekaligus dapat mendatangkan rezeki.

Seperti halnya yang dilakoni Ida Bagus Weda (54), penduduk Banjar Kelodan, Desa Mambal, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Setelah pensiun sebagai PNS yang bertugas selaku tenaga perawat di RSAD Denpasar per Oktober 2021, ia terjun menggeluti usaha ternak lebah Kele-Kele (Lebah Trigona) atau disebut juga Madu Klanceng.

Di areal pekarangan rumahnya yang lumayan luas di Banjar Kelodan, Mambal, IB Weda menyulapnya menjadi taman lebah yang mampu menambah finalsial keluarga yang lumayan besar.

“Sebenarnya saya sudah mulai beternak lebah Kele-Kele tahun 2017 lalu, sebagai hobi. Sekarang setelah tidak ngantor lagi (pensiun), lebih fokus lagi ngurus lebah-lebah ini,” katanya dalam percakapan dengan pewarta LenteraEsai.id Senin sore, 21 November 2021, di kediamannya Geria Tegal Sari, Banjar Kelodan, Mambal.

Menurutnya, ngurus lebah Kele-Kele cukup mengasyikkan. Apalagi lebah jenis Itama dan Toracika ini tidak menyengat. Beda dengan lebah biasa (Nyawan Bali, Red) menyengat, membuat orang takut. Lebih-lebih ketika memanen, memerlukan keberanian dan keahlian tersendiri. Karena beringas, suka menyerang dan menyengat.

Dalam suasana hujan gerimis, Ida Bagus Weda mengajak LE berkeliling di halaman rumahnya yang cukup luas. Melihat rumah-rumah Madu Kele-Kele yang dibuat menyebar dengan jarak tertentu. Bagian atasnya beratapkan ijuk, sehingga tampak artistik. Seluruhnya ada 65 rumah lebah. Kebanyakan sudah berproduksi madu, hanya beberapa saja yang belum, karena baru-baru ini didatangkan dari Sumatera.

“Sekarang ini saya mengkhusus diri menernakkan lebah Kele-Kele jenis  Itama dan Toracika asal Sumatera. Lebah lokal jenis Levicef sudah saya lempar ke orang lain,” ujarnya, penuh semangat.

Mengapa?. Alasan pria dua anak itu, lantaran lebah Kele-Kele lokal suka menyerang Kele-Kele Sumatera. Biasanya dalam perang antardua koloni itu, lebah lokal yang menang. Sehingga lebah Kela-Kela jenis Itaman dan Toracika memilih kabur atau mati di tempat.

Dari kejadian-kejadian yang diwarnai perseteruan seperti itu, IB Weda  akhirnya berkesimpulan bahwa dua jenis lebah itu (Sumatera dan lokal Bali) tidak bisa diternakkan dalam satu lokasi. Alias harus dipisah berjauhan.

Ada cerita menarik awal-awal Gus Weda, panggilan akrabnya, beternak lebah Kele-Kele. Ia bersemangat berburu sarang Lebah Lokal (Levicef), tidak hanya di daerah Kabupaten Badung, melainkan sampai jauh ke wilayah Kabupaten Gianyar, Bangli dan Karangasem.

Kele-Kele lokal suka bersarang di rumpun bambu. Seperti bambu Gesing dan bambu Ampel dan juga pohon kayu yang berlobang. Itu yang kemudian dipotong dipindahkan ke rumah.

Namun belakangan, ia kepincut dengan lebah Kele-Kele Sumatera yang kemudian dikembangkannya. Gus Weda mengungkapkan, bibitnya memang relatif mahal. Yakni antara Rp 1,5 juta sampai Rp 1,7 juta per rumah. Yang lebih mahal, biasanya tidak begitu lama sudah memproduksi madu. Karena keloninya banyak.

“Lantaran harga bibit Kele-Kele Sumatera lumayan mahal, saya hanya bisa pesan antara 2-3 biji/rumah saja. Sudah ada langganan di sana di daerah Lampung. Diantar langsung ke sini,” paparnya.

Pernah juga bibit yang dipesan Gus Weda kosong. Kemungkinan mati dalam perjalanan. Karena dulu menggunakan bus banyak yang mati, sekarang lebih aman menggunakan kendaraan travel yang dipesan khusus.

Setelah berjalan sekitar empat tahun, banyak warga di Desa Mambal kepincut untuk ikut beternah lebah Kele-Kele. Ia dengan senang hati berbagai pengalaman, dengan siapa saja. Tidak saja dengan semeton di Banjar Kelodan, Mambal, tetapi di kabupaten lain. Bahkan di Banjar  Kelodan sudah terbentuk kelompok ternak lebah Kele-Kele. Namanya Kelompok Ternak Lebah Kele-Kele Tegal Sari.

“Kelompok lebah Kele-Kele Tegal Sari sudah dikukuhkan belum lama ini. Saya sendiri didaulat teman-teman jadi ketuanya,” akunya, berbangga.

Diharapkan dengan adanya kelompok, pengembangan budidaya lebah Kele-Kele di Desa Mambal khususnya, semakin bersemangat. Tidak hanya merupakan hobi, tetapi usaha yang menambah pendapatan. Apalagi sudah mendapat pelatihan usaha dari Fakultas Ekonomi Unud.

Wakil Bupati Badung Ketut Suiasa dengan pejabat dinas terkait sudah sempat datang. “Walau belum mengulurkan bantuan, tetapi beliau telah memberi motivasi agar terus maju. Saya berharap terus ada pembinaan dari pemerintah,” ucapnya, mengharapkan.  (LE-Ima)

Lenteraesai.id