Karangasem, LenteraEsai.id – Jerit kesulitan dalam mengarungi perjalan hidup kini dialami empat anak ‘yatim piatu’ yang hidup serba kekurangan dan belum memiliki penghasilan tetap.
Tinggal di rompok hasil bantuan bedah rumah di Dusun Abang Kaler, Desa dan Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem itu, keempat anak yang sebagian sudah beranjak remaja, kini harus mengalami kesulitan biaya dalam mengurus kematian ayahnya, I Nyoman Darta.
Keempat anak yang kini menjadi ‘yatim piatu’ tersebut, I Wayan Tangkas (19), Ni Kadek Widana (17), Ni Nyoman Teresni (15) dan Ni Ketut Sri Widnyani (12).
“Jenazah ayah saya masih di Rumah Sakit Sanglah, dua hari lagi rencananya baru dibawa ke rumah untuk dibakar,” kata Ni Nyoman Teresni, salah seorang anak almarhum ketika ditemui di rumahnya, Kamis (8/7) sore.
Kisah sulit keluarga I Nyoman Darta yang sehari-harinya berprofesi sebagai tukang panjat pohon kelapa, berawal dari perceraian dengan sang istri sejak beberapa tahun lalu.
Begitu bercerai, sang istri kawin lagi dengan pria dari daerah lain, sehingga praktis Nyoman Darta harus hidup menduda dengan empat orang anaknya.
Perjalan hidup dalam serba pas-pasan bahkan tak jarang kekurangan, ternyata tidak berakhir sampai di situ. Nasib malang kembali menimpa Nyoman Darta saat ‘meburuh’ ambil kelapa berikut ‘busung’-nya, seperti yang sehari-hari ia lakoni.
Entah bamaimana, Nyoman Darta yang sempat dijuluki sebagai ‘semal kapkapan’ karena profesinya, tiba-tiba tangannya terlepas dari berpedagang pada pangkal daun kelapa hingga kemudian terpelanting jatuh menimpa permukaan tanah.
Akibatnya, Nyoman Darta mengalami patah pada leher, patah tulang rusuk dan tulang kaki hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Namun malang, setelah kurang lebih dua pekan dirawat di RSUP Sanglah Denpasar, nyawanya tak berhasil diselamatkan. Nyoman Darta berpulang untuk selama-lamanya pada hari Rabu, 7 Juli 2021.
Ketika disambangi oleh Team Eastribution ke rumahnya pada Kamis (8/7) untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus memberikan semangat kepada keluarga yang ditinggal, suasana di rumah duka tampak masih diselimuti duka cita.
Dengan tak kuasa membendung air mata, beberapa dari anak ‘yatim piatu’ tersebut menerima kedatangan anggota Team Eastribution dengan hati tulus. Dengan lirih, Ni Nyoman Teresni berucap, “Ayah saya (almarhum) belum pulang, masih di rumah sakit.”
Menurut rencana, jenazah almarhum akan dibawa pulang untuk dikremasi pada Sabtu (10/7) siang setelah seluruh proses administrasi di RSUP Sangkah Denpasar usai dilakukan.
Ni Nyoman Teresni dan beberapa saudaranya tampak begitu gelisah dengan sorot mata yang menerawang jauh. Melihat itu, Ketua Team Eastribution I Komang Suwada berusaha menenangkannya. Bersamaan dengan itu, diserahkan beberapa bingkisan kepada anak-anak almarhum.
“Kemarin kami mendengar ayah mereka meninggal dunia. Hal tersebut membuat hati kami sangat terketuk untuk membantu. Kami datang untuk mengucapkan belasungkawa sambil memberikan bingkisan berupa sembako. Harapannya, dapat sedikit meringankan beban mereka,” kata Komang Suwada, penuh haru.
Yang cukup memprihatinkan, keempat anak tersebut kini harus tinggal di rumah yang merupakan bantuan bedah rumah beberapa tahun lalu. Namun karena tidak adanya biaya untuk pemeliharaan, rumah tersebut terlihat sudah lapuk dan tidak ada pintu di kamarnya. Bagian atap yang dipakai dapur terlihat sudah ambruk, sehingga mereka harus masak di emperan yang dibuat oleh ayahnya ketika masih hidup.
Suwada berharap anak-anak tersebut bisa dibantu oleh pihak yang lainnya untuk kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk biaya sekolah untuk yang masih bersekolah.
“Anak-anak ini masih tergolong kecil, bahkan dua di antaranya masih duduk di bangku sekolah. Ke depan saya berharap ada pihak lain yang mau membantu menanggung biaya sekolah mereka, dan semoga ke depannya juga anak-anak ini mendapat pekerjaan yang layak untuk dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujar Komang Suwada, berharap.
Kepala Dusun Abang Kaler I Ketut Madiastra mengatakan bahwa keluarga tersebut sudah mendapat bantuan rutin dari desa berupa PKH (Program Keluarga Harapan), dan juga KIP (Kartu Indonesia Pintar) untuk anak-anaknya yang masih bersekolah. (LE-Jun)







