Denpasar, LenteraEsai.id – Pura Griya Anyar Tanah Kilap berlokasi di perbatasan Kabupaten Badung dan Kota Denpasar, Bali. Tepatnya di muara Tukad Badung di Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai Denpasar.
Sejak berpuluh tahun silam, pemedek silih berganti tangkil untuk melakukan pelukatan dan persembahyangan di pura ini, dikarenakan getaran magis dan taksu Pura Tanah Kilap yang sangat dirasakan sendiri oleh pemedek, serta telah dikenal dari mulut ke mulut baik di kalangan umat Hindu se-Nusantara maupun umat beragama lain dari berbagai daerah di Tanah Air.
Di pura inilah, banyak kesaksian dari pemedek yang mendapatkan berbagai berkah atau anugerah dari Bhatara yang berstana di Pura Tanah Kilap. Misalnya pedagang yang ingin usahanya sukses, pejabat publik yang ingin jabatannya naik, cukup banyak yang datang ke pura ini dan mengaku telah sukses.
Selain itu juga tidak sedikit krama Bali yang ingin bekerja di kapal pesiar, juga memohon petunjuk di Pura Tanah Kilap. Tidak hanya itu, warga yang terkena penyakit non medis seperti kena bebai dan ilmu hitam, dapat melakukan penglukatan untuk melebur penyakitnya di sini. Uniknya, beberapa orang yang menderita penyakit, tiba-tiba berteriak histeris dan menjerit-jerit ketika ilmu hitam yang menghuni tubuhnya harus dimusnahkan melalui prosesi penglukatan.
Pemangku Pura Griya Anyar Tanah Kilap Jro Mangku I Wayan Enteg dan Jro Mangku Nyoman Sawardi ketika ditemui media LenteraEsai, senada menyatakan ada sejumlah persyaratan yang mestinya dipenuhi pemedek ketika hendak melukat, agar benar-benar dapat menjalani prosesi dengan benar, serta segala jenis leteh atau kotoran dan penyakit yang ada pada tubuhnya benar-benar dapat disirnakan.
“Jika ingin melukat, pemedek mesti membawa pejati kalih, bungkak nyuh gading siki, beras kuning atakir dan sekar warna sarwa pitu,” ujar Jro Mangku Wayan Enteg, seraya menambahkan berbagai macam penyakit bisa diatasi dengan cara melukat, termasuk orang stres atau penyakit non medis seperti kena bebai, cetik, sukik dan lainnya.
Jro Mangku Nyoman Sawardi menambahkan, untuk larangan bagi pemedek yang ingin tangkil, hanya masalah lazim saja, yakni kalau sedang dalam keadaan cuntaka, sudah pasti dilarang untuk melukat atau bersembahyang di Pura Griya Anyar Tanah Kilap. Hal ini, sudah lazim bagi umat Hindu yang hendak bersembahyang di pura manapun.
Sementara itu, Jro Mangku Nyoman Sawardi mengatakan, selama ini sudah banyak pemedek dari berbagai daerah dan beragam agama yang mendapat pawisik untuk tangkil ke pura yang terletak di muara Tukad Badung ini.
“Belum lama ini, ada artis Jakarta yang seolah dituntun sehingga mencari pura ini. Artis tersebut bilang, ketika sedang di hotel di Kuta, dia memimpikan ketemu seorang nenek dan menuntunnya untuk datang ke Pura Griya Anyar Tanah Kilap. Sesampai di pura ini, artis itu melihat semua ornamen pura terbuat dari emas dan lingkup pura dilihatnya sebagai istana,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Jro Mangku Nyoman Sawardi, tidak kurang-kurang ada pejabat dari Jakarta yang nunas taksu, atau anak muda Bali yang hendak berangkat bekerja di kapal pesiar, lebih dulu sembahyang di sini untuk nunas kelancaran.
“Segala jenis penyakit pun bisa disembuhkan dengan nunas tamba di sini. Dan bagi umat di manapun berada, jangan khawatir jika hendak tangkil, di pura ini sejak pukul 08.00 – 00.00 tengah malam akan dilayani pemangku. Karena di sini pemangku diberlakukan tiga shift, sehingga umat dari daerah manapun tidak perlu takut ada keterbatasan jam untuk bersembahyang di sini,” ucap Jro Mangku Nyoman Sawardi, menjelaskan. (LE-BD/Bersambung)







